
Sore harinya, Aldo berada di toilet hendak menghubungi Amanda. Hanya cara ini yang bisa dilakukan Aldo supaya tidak ketahuan Nadia. Aldo memberitahu Amanda tentang rencananya yang gagal.
Amanda mencak-mencak berteriak memaki-maki Nadia. Amanda juga memarahi Aldo karena dianggap takut dengan Nadia. Suara melengking dari Amanda membuat Aldo tidak tahan. Secara sepihak dia mematikan handphone nya.
Aldo harus mencari rencana lain untuk bisa mendapatkan kebebasannya.
"Ngapain saja di toilet, lama amat," omel Nadia.
"Namanya di toilet kadang lama, kadang sebentar," jawab Aldo.
"Awas lo ya, kalau macam-macam," tunjuk Nadia.
"Sudah, gak usah marah-marah, kasian bayi yang ada di dalam perut lo."
Nadia sedikit mengalah. "Ya sudah ayo pulang."
Di sisi lain, Reihan dan Levi melihat Audy sedang berjalan menuju pintu gerbang. Pasti Audy hendak menghampiri Ryan. Mata Reihan tidak henti menatap Audy.
"Sudah jangan ditatap terus, nanti lama-lama bisa gila lho," ucap Levi saat tau Reihan memandang Audy.
Reihan berdecak menatap Levi. "Ganggu saja lo."
"Lo kalau suka ngomong saja, gak usah di tahan-tahan."
"Idih ... siapa yang suka sama Audy."
"Idih ... orang gue gak nyebut nama Audy," balas Levi.
Reihan menjadi salah tingkah
"Orang buta juga tau kalau lo suka sama Audy. Lo tu cuma gak rela saja Audy direbut sama pria lain."
Reihan menunduk tampak berpikir, apa yang dikatakan Levi semuanya benar. Reihan memang takut kehilangan Audy.
"Sudah gak usah banyak mikir, tembak saja keburu keduluan sama orang lain," desak Levi memukul pelan tangan Reihan.
"Gak semudah itu, Lev?"
"Yaela ... tinggal ngomong saja apa susahnya sih."
"Lo mau bantu gue gak?" tanya Reihan.
"Bantu apa dulu nie ...."
"Buat Audy deket lagi sama gue."
"Ah, lo. Memangnya yang suka sama Audy lo doang apa. Gue juga suka, cuma gue tau diri, gak kayak lo," cibir Reihan.
"Jadi lo suka sama Audy!" Reihan melotot menatap Levi.
__ADS_1
"Gadis secantik Audy siapa sih yang gak suka."
"Kampret lo!" umpat Reihan.
Levi terkekeh. "Tapi tenang gue akan bantu lo. Asal." Levi menaik-turunkan alisnya meminta uang.
"Berapa?" tanya Reihan.
"Karena lo temen gue, ceban saja."
"Kemahalan, goban saja deh? Kan cuma ngejauhi Audy sama Ryan doang."
"Mau gak, kalau gak juga gak masalah sih." Levi pergi, tapi Reihan memanggilnya kembali memberikan uang seratus ribu buat Levi.
"Nah gitu dong."Levi terlihat senang menaruh uang pemberian dari Reihan di keningnya.
Sebenarnya uang itu untuk bensin selama satu minggu. Tapi, demi Audy Reihan rela memberikannya. Walaupun, Reihan tidak yakin dengan Levi. Track rekor Levi terlalu buruk jika diajak kerja sama. Contohnya saat camping liburan semester dia tidak membantu malah merepotkan teman yang lain. Tapi tidak apa, mudah-mudahan kali ini Levi bisa diajak kerjasama dengan baik.
"Ayo pulang anterin gue," ucap Levi dengan entengnya.
"Ogah!" Reihan menolak keras.
"Sekalian kita ngomongin rencana kita," ucap Levi.
Reihan terdiam dan akhirnya luluh. Dengan terpaksa dia mengantar Levi pulang.
"Gitu dong!"
"Ini orang apa kebo sih," cibir Reihan.
Sesampainya di gerbang perumahan tempat tinggal Levi. Reihan membangunkannya. Levi terlihat nyenyak tidur bersandarkan punggung Reihan
"Sudah sampai ya," ucap Levi sambil membersihkan liur yang menetes di area bibir.
"Dasar kebo!" umpat Reihan.
"Sorry, Rei. Soalnya tadi anginnya sepoi-sepoi sih, jadi gue ketiduran deh." Levi berucap tanpa merasa bersalah kepada Reihan.
"Lo memang gak bisa diandelin, Lev."
Levi malah nyengir. "Sorry, kita bicara besok saja."
Reihan dengan kesal melajukan motornya.
...***...
Di tempat lain, Ryan tengah asyik jalan-jalan dengan Audy di sebuah Mall. Hari ini Ryan mau memanjakan Audy dengan mengajaknya belanja pakaian.
"Sekarang kamu pilih mana yang kamu suka," ucap Ryan saat berada di kios pakaian.
__ADS_1
Audy terlihat malu-malu, tapi dalam hati dia senang. Baru kali ini ada pria yang mengajaknya shoping secara gratis.
"Gak usah lah, Ryan."
"Hey, gak pa-pa. Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo. Gue pernah bilang sama lo kalau gue serius ngedeketin Audy Salernitana. Lo pantes dapetin ini semua," ucap Ryan.
Audy dengan malu-malu mencoba beberapa baju yang dikiranya cocok buatnya. Audy memilih dua celana skiny dan kemeja untuk berangkat ke kampus.
"Sudah itu saja?" tanya Ryan.
Audy mengangguk, wajahnya masih bersemu merah. Ryan ke kasir membayar barang belanjaan Audy.
"Habis ini Kita mau kemana?" tanya Ryan sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya.
Audy memainkan bibirnya. "Pulang saja yuk. Sudah sore."
"Gak makan dulu? Perutku lapar, habis makan kita pulang." Ryan berucap dengan riang.
Audy nenggagguk sambil mengulum bibirnya.
Ryan memilih restoran jepang sebagai tempat persinggahannya. Mereka berdua duduk lesehan di satu meja panjang. Susi, Ramen, dan beberapa seefod menjadi pilihan menu makan sore itu.
Ryan mencuri kesempatan dengan beberapa kali menyuapi serta membesihkan bibir Audy dari sisa makanan di sekitar bibirnya. Audy tersenyum melihat cara Ryan memperhatikannya.
Suara handphone berdering dari saku celana Ryan, dengan segera dia mematikan panggilan itu.
"Dari siapa?" Tanya Audy sambil menaruh sumpit di atas mangkok.
"Dari Aldo," jawab Ryan.
"Kok gak diangkat?"
"Nanti saja." Ryan Menepuk tangannya memamanggil pegawai restoran itu untuk membayar semua makanan.
Audy tak henti kagum dengan Ryan. Sebagai seorang pria Ryan begitu sempurna. Sudah tampan, kaya, sukses, perhatian, dan tidak pelit sama cewek. Namun, perasaan Audy masih tertuju ke Reihan. Bagi Audy Reihan adalah pria terbaik yang ada di hatinya.
"Pulang yuk!" ajak Ryan.
Audy mengangguk. Audy berjalan di belakang Ryan. Ryan menarik tangan Audy, lalu menggenggamnya. Audy tidak menolak, kini tangan mereka saling bertaut sampai menuju basement. Audy duduk disamping Ryan, terkihat kaku.
Ryan memutar musik 90an untuk mengurangi kekikukan suasana di dalam mobil. Sesampainya di depan rumah Audy, Ryan memegang punggung tangan Audy. Ryan meminta jawaban atas permintaannya.
Audy mengggeleng masih belum memberi jawaban.
"Berapa hari, minggu, bulan atau bahkan tahun lo membuka hati untuk gue?" tanya Ryan.
"Beri waktu gue sebulan. Lagian kita baru kenal, kan. Jelas aku belum bisa membuka hati."
"Apa lo suka seseorang selain gue?"
__ADS_1
Suasana lengang sejenak. Audy tersenyum, tanpa menjawab dia keluar dari mobil. Mengucapkan salam dan terima kasih untuk hari ini.
Brrasmbung ...