
Esok harinya Ryan dan Sonia terkapar lemas di sofa ruang kerja. Mereka terbangun tanpa menggunakan sehelai benang pun. Kepala Ryan masih terasa pusing, dia berusaha melihat dengan tatapan yang masih samar.
"Sayang, dimana kita?" Tanya Ryan sambil memegang kepalanya.
"Dasar bodoh!" cibir Sonia sambil memakai pakaiannya.
Ryan baru teringat, Kemarin harusnya dia menjebak Aldo. Tapi, kenapa dia yang malah terjebak?
"Sial, pasti pelayan itu salah memberi gelas." pikir Ryan
"Kamu ini gimana sih, kalau nyuruh pegawai itu yang bener." Sonia tidak henti-hentinya memarahi Ryan.
"Aku bisa jelasin ke kamu, Sayang?"
"Halah ... gak usah, kamu memang tidak bisa diandalkan. Percuma aku nikahin kamu kalau pekerjaanmu saja gak pernah beres." Sonia keluar ruangan membanting pintu dengan amarahnya.
Reihan kesal memukul sofa, segera dia berpakaian untuk menemui pegawainya itu.
"Kamu tau di mana Ari?" tanya Ryan kepada salah satu pegawai.
"Ari masuk siang, Pak."
"Suruh si Ari datang ke sini secepatnya!" perintah Ryan.
Temannya segera menghubungi Ari pegawai yang dipercaya Ryan untuk mencampur obat perangsang ke minuman Aldo.
Setengah jam Ryan menunggu, akhirnya Ari datang.
"Ada apa, Bos?" tanya Ari sambil duduk di depan meja tempat kerja Ryan.
"Kamu bisa kerja gak sih!" Ryan langsung memukul meja yang membuat Ari terperanjat.
Ari hanya terdiam menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Kamu tau gak? Kemarin malam kamu salah ngasih gelas. Perintahku 'kan sudah jelas, cangkir biru kasihkan ke Aldo, cangkir merah buatku. Bodoh!" umpat Ryan.
"Ma-maaf, Bos. Ke-kemarin saya sudah menjalankan sesuai perintah, Bos." Ari terlihat gugup.
Ryan kembali menggebrak meja. "Kemarin malam yang kena obat perangsang itu aku. Untung saja ada istriku, kalau tidak karyawan yang bisa aku pakai!"
"Ma-maaf, Bos."
Ryan berdiri mendekati Ari. "Sekali lagi lo buat kesalahan. Gue pecat!"
Ari tidak bisa bekutik, dia terlihat takut menatap mata Ryan.
"Sana lo pergi, bulan ini gaji kamu tak potong. Ini akibat kesalahan fatal kamu."
Ari keluar dengan langkah lemas. Ryan berteriak kencang meluapkan amarahnya.
Sementara itu Reihan bercerta kejadian tadi malam kepada Audy. Audy terlihat senang mendengar cerita dari Reihan.
__ADS_1
"Biar tau rasa tu orang, memang enak kena jebakan sendiri," ucap Audy.
"Kalau lo lihat pasti ketawa melihat Ryan garuk-garuk badannya karena kegerahan," ucap Reihan.
Audy tertawa. "Gue denger cerita lo saja sudah ketawa, apalagi lihat langsung. Bisa-bisa gue yang diincer sama buaya darat itu."
"Eits ... selama masih ada gue, lo gak bakalan kenapa-napa." Reihan menepuk dada.
Audy tesenyum menatap Reihan. "Yakin?"
Reihan mengangguk mantap.
Audy mencubit manja pinggang Reihan. Reihan terlihat kesakitan sekaligus senang.
"Apaan sih." Reihan balas mencubit pinggang Audy, tapi Audy dengan sigap menangkisnya, lalu dia berlari.
Reihan pun mengejar Audy. "Jangan lari gue belum balas!"
Reihan dan Audy tampak menikmati kebersamaan mereka. Hari-hari dilalui dengan bercanda dan berdiskusi masalah skripsi.
"Bruk!" Reihan menabrak Levi hingga kacamatanya Teelepas. Levi meraba ke tanah mencari kaca matanya yang terjatuh.
"Siapa sih yang nabrak gue, pagi-pagi gini bikin perkara," cibir Levi.
Reihan menggosok matanya melihat Levi yang sedang mencari kacamatanya. Reihan segera mengambil kacamata tebal Levi yang terjatuh di rumput taman.
"Nie kacamata lo."
Levi segera mengambil kacamatanya dari tangan Reihan, lalu memakainya.
"Sorry, gue gak sengaja."
Audy menghampiri Levi dan Reihan. "Lo gak pa-pa, Lev?"
"Eh, ada putri keong ... perhatian banget sama gue." Levi tersenyum sambil menaik-turunkan alis.
"Yeee ... tadi gue itu lari-larian sama Reihan, terus gue lihat lo ditabrak Reihan, gue gak enak saja sama lo." Mata Audy mendelik ke arah Levi.
"Halah ... gak mau ngaku lagi. Bilang saja lo suka sama gue," canda Levi.
"Ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok ya." Audy mengepalkan tangan ke arah Levi.
Levi terkekeh. "Bercanda, Sayang. Masuk kelas yuk! Bentar lagi ada jamnya pak Bambang, gue gak mau kena omel."
"Bener juga apa yang dikatakan Levi." Reihan baru teringat. Mereka bergegas menuju kelas.
Di tempat lain, Sonia sedang menyewa orang untuk memberi pelajaran kepada Aldo. Dua orang berbadan besar itu disuruh Sonia memberikan efek jera kepada Aldo karena kemarin rencananya Sonia telah gagal.
"Ini foto orangnya, nanti malam kalian bergerak," perintah Sonia.
"Siap, Nyonya."
__ADS_1
...***...
Sore tiba, Reihan terlihat mengikuti Levi dari belakang. Dia hendak mengerjai Levi. Reihan tau Levi mau ke tempat kost Aldo.
"Lo ngapa sih ngikutin gue ...!" kesal Levi.
"Gue mau nemenin lo, Entar lo kehabisan ongkos gimana?"
"Gak usah, duit gue sudah banyak, kemarin baru menang taruhan bola." Levi memperlihatkan isi uang di dalam dompetnya.
"Ya gak pa-pa, gue pengen saja nemenin lo." Reihan tersenyum menyeringai.
"Kagak usah jambang! Gue lempar nie ya." Levi mengambil batu kecil yang ada di tanah.
Reihan terkekeh melihat expresi Levi. "Ya sudah gue mau lewat sini."
"Ngapain lo lewat gang ini, motor lo mana? Rumah lo kan di Mampang?" Levi semakin kesal.
"Suka-suka gue lah, kaki-kaki gue. Minggir." Reihan berjalan menyenggol badan Levi hingga dia terjatuh.
Levi sengaja cari arah alternatif supaya Reihan tidak mengikutinya lagi. Jalur Alternatif menang agak jauh dari tempat Aldo, tapi yang penting Reihan sudah tidak mengikutinya lagi.
Saat Levi tiba di tempatnya Aldo, dia terkejut melihat Reihan sudah ada di dalam kamarnya Aldo sedang ngobrol dengan Reihan.
Reihan tersenyum nyengir menyapa Levi. "Hay, Levi ...."
"Dari mana lo tau tempat kost Bos gue?" tanya Levi dengan suara meninggi.
"Ada deh." Reihan masih saja ingin menggoda Levi.
"Lo nyebelin tau gak." Levi masuk duduk bersila di lantai dengan Reihan dan Aldo.
"Sudah ... kalian bercanda mulu. Reihan itu tau kost gue karena lo," ucap Aldo.
Reihan tersenyum menaikan alisnya.
"Gue ... gue gak pernah bilang sama si jambang satu ini," jawab Levi heran.
"Lo memang gak pernah ngasih tau Reihan, Lev. Tapi, Reihan dan Audy diam-diam ngikutin lo waktu mau ke sini," ucap Aldo.
Levi menepuk jidatnya. "Kampret, gue gak kepikiran."
"Sudah gak pa-pa, Reihan di sini juga banyak membantu kok."
Levi tersenyum nyengir. "Tapi seneng juga sih, Bos bisa akrab sama Reihan. Kalau kayak gini 'kan dilihatnya enak."
"Iya, dong. Masak berantem mulu sih. Iya gak, Rei." Aldo melakukan tos tangan dengan Reihan.
"Rese lo!" cibir Levi kepada Reihan.
"Gimana rasanya berhadapan dengan orang nyebelin? Kesel, kan?" Reihan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Au ah gelap."
Bersambung ...