
Pukul sepuluh malam mereka berempat sampai di stasiun babat Lamongan. Suasana tampak sepi, hanya beberapa petugas dan penumpang yang duduk di peron. Audy, Reihan, Levi dan Vita keluar dari kereta. Wajah mereka berempat tampak lelah.
"Lev mana orang yang jemput kita?" tanya Audy.
"Keluar stasiun dulu, masak di sini," omel Levi.
Mereka bertemu seorang bapak paruh baya dengan kemeja putih bergaris memakai peci berwarna hitam.
"Mas Levi yang mau KKN ya?" ucap pria paruh baya itu.
"Pak Sarwono ya," balas Levi. Mereka berdua bersalaman.
"Mari saya antar ke kampung belut," ucap pak Sarwono.
Mereka berempat masuk mobil, menuju arah utara Kota Lamongan. Di sepanjang perjalanan, mereka melewati begitu banyak tambak di kanan dan kiri jalan. Namun, karena tubuh mereka sudah lelah, mereka berempat tidak terlalu memperhatikannya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat lokasi.
Mobil terparkir di rumah kepala desa kampung belut. Kepala desa menyambutnya dengan ramah. Mereka berempat bersalaman dengan kepala desa
"Kalian bermalam saja dulu di sini, besok baru cari kost-kostan," ucap kepala desa.
Serentak mereka berempat mengiyakan ucapan kepala desa.
"Yang wanita tidur di kamar anak perempuan saya. yang laki-laki tidur di kamar sebelah," ucap kepala desa
Esok paginya, Levi dan Reihan bertugas mencari kost sekalian jalan-jalan menyisir kampung.
"Gue mau ikut," ucap Audy.
"Gue juga ikut," sambung Vita.
"Kalian di sini saja, bantuin ibu kepala desa masak," ucap Levi.
"Gue gak bisa masak, lagian gue pasti bosen harus nunggu kalian dapat kost-kostan," ucap Audy.
Levi menepuk keningnya. "Perkara nyari kost saja ribet kayak gini."
Akhirnya, Mereka berempat sepakat mencari kost bersama.
"Kita bagi tugas, Gue sama Reihan ke arah timur, kalian berdua ke arah barat," perintah Levi.
Mereka mengangguk setuju.
"Enak saja kita suruh di rumah pak kepala desa. Memang kita gak tau apa, mereka mau jalan-jalan," ucap Audy saat berjalan dengan Vita.
"Tapi kita juga harus cari kost, jangan sampai keduluan mereka. Tau sendiri 'kan selera Levi dan Reihan kayak gimana," ucap vita.
Audy bergidik geli. "Lo bener. Yang ada mereka nyari tempat kost yang banyak kecoa nya lagi."
"Kita tanya warga sini saja, dimana tempat kost yang nyaman," usul Vita.
__ADS_1
Audy mengangguk setuju.
Di sisi lain, Levi malah bermain di pinggir tambak. Dia sedang menangkap udang kecil yang sedang menepi.
"Lo ngapain sih, nanti ketahuan dimarahi warga lho," ucap Reihan memperingatkan Levi.
"Sudah di sini saja dulu, kapan lagi bisa nangkap udang," ucap Levi.
Reihan melihat ada udang besar berenang di belakang Levi.
"Levi ada udang besar tu di belakang lo!" teriak Reihan.
"Mana!"
"Tadi, lo kurang gercep sih!"
Reihan dan Levi pun lebih awas, ingin menangkap udang besar itu.
"Levi itu udangnya ada di pinggir, ambil dari belakang!" tunjuk Reihan kepada Levi.
Levi mengendap perlahan, lalu dengan cepat udang besar itu tertangkap. Mereka berdua bersorak merayakan keberhasilan.
"Woy ... Lapo koe, ameh maling yo ( Kenapa kamu di situ, mau maling ya)," pekik salah satu warga sambil membawa celurit di tangannya.
"Gak, Pak! Kami cuma iseng saja!" Levi segera melepas udang tangkapannya, lalu berlari dengan cepat.
Mereka berhenti setelah cukup jauh dari Bapak itu. Napas mereka terengah-engah.
"Lo sih, Lev. Gue bilangin juga apa? Jangan ngambil udang di tambak nanti yang punya marah," ucap Reihan dengan napas yang kembang kempis.
"Lo juga, coba lo gak ngasih tau kalau ada udang besar, gue gak bakalan ngambil," balas Levi.
Reihan mengibaskan tangan ke udara. "Sudahlah, gak ada gunanya kita bertengkar. Mending kita cepet cari kost, sebelum siang."
Levi setuju mengikuti Reihan dari belakang.
...***...
Siang hari, Levi dan Reihan masih belum menemukan tempat kost. Berjam-jam mereka hanya berdebat urusan yang tidak penting.
"Gimana, kalian sudah dapat tempat kost?" tanya Audy saat kembali ke rumah kepala desa.
Levi tersenyum nyengir, lalu menggelengkan kepala.
Vita menghela napas. "Kalian seharian ngapain sih. Masak cuma cari kost gitu saja kalian gak bisa."
"Kita bukannya gak bisa. Kita cuma pengen cari kost yang nyaman buat ditempati," ucap Reihan.
"Mana hasilnya ... gak ada, kan?" Vita kesal kepada Reihan dan Levi.
__ADS_1
"Kalian pasti buat yang aneh-aneh?" tebak Audy.
"Jangan asal nuduh ya!" Reihan melotot menatap Audy.
Pak kepala desa hanya senyum-senyum saja melihat perdebatan keempat mahasiswa itu.
"Sudah, lebih baik kita makan dulu, habis makan baru pindah ke kost," ucap kepala desa.
Mereka masuk rumah untuk makan siang. Seorang dengan kumis tebal menukik ke bawah datang di kediaman kepala desa.
"Agung, ono opo? (Ada apa)?" tanya kepala desa.
"Arek loro iki ameh nyolong urangku. (Anak dua ini ingin maling udang ku)," jawab pria berkumis.
Sontak Reihan dan Levi beranjak dari tempat duduknya berlindung di balik punggung kepala desa.
Audy segera mengambil kendali. "Maaf, Pak. Saya teman mereka berdua. Memang apa ya yang dilakukan teman saya ini?"
"Teman kamu ini mau nyuri udang di tambak saya, Dek."
Reihan dan Levi hanya menundukkan kepala. Audy pun melotot ke arah mereka berdua.
"Saya mohon maaf atas kelakuan teman saya ini. Saya akan ganti rugi udang Bapak itu," ucap Audy.
"Nah itu saya setuju, kasih saya seratus ribu takye, maka urusan sudah beres," ucap pria berlogat Madura itu.
Audy segera merogoh saku celananya, lalu memberikan uang seratus ribu untuk Bapak berkumis tebal itu.
"Terima kasih. Sampean beruntung punya teman cantik kayak Adik ini. Coba kalau ndak punya, bisa tak celurit kepala sampean." Pria itu pun langsung pergi.
Audy dan Vita menahan tawa melihat tingkah Bapak Madura itu. Reihan dan Levi kembali duduk.
"Tadi itu hutang ya, awas kalau gak bayar," ancam Audy mengepalkan tangan ke arah Reihan dan Levi.
Pak kepala desa hanya terkekeh. "Tadi namanya agung, orang Bangkalan Madura. Orangnya baik dan suka bercanda."
"Bercandanya serem pakai celurit," gumam Levi.
"Diam lo. Ketua kelompok malah ngajakin yang gak-gak," ucap Audy yang membuat Levi diam.
Setelah selesai makan, Mereka berempat berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada kepala desa karena sudah berbaik hati mengizinkan menginap. Sebagai hukuman, Reihan dan Levi disuruh membawa barang bawaan Audy dan Vita.
"Enak ya, Vit? Barang kita ada yang bawain," ledek Audy.
"Iya, bikin badan enteng."
"Masih jauh gak tempatnya!" teriak Reihan yang terlihat kelelahan.
Bersambung ...
__ADS_1