
Pagi harinya saat berada di kampus, Reihan sedang mencari Levi. Dia hendak menagih janji Levi yang ingin membantunya menjauhkan Audy dari Reihan.
"Levi!" panggil Reihan saat pria kurus itu berjalan di lorong kelas.
Levi menoleh.
"Gimana? Lo sudah punya cara belum?"
"Cara apa?" Levi balik bertanya.
"Rencana kita ngejauhin Audy dengan Ryan," ucap Reihan membulatkan mata.
"Belum. Susah, Rei. Si Ryan juga teman bos gue." Levi menggaruk tengkuknya.
"Ahh ... lo memang gak bisa diandelin. Mana duit ceban gue."
"Tunggu dulu, gue bakalan bantu lo. Duduk dulu gie." Levi mengajak duduk di depan ruang dosen. "Pokoknya lo tenang saja, gue lagi berpikir nie, bagaimana caranya menjauhkan Audy sama Ryan," sambungnya.
"Lo dari kemarin berpikir mulu tapi gak ada actionnya," cibir Reihan.
Levi melihat wajah Reihan dengan serius, lalu tersenyum lebar seperti ada lampu terang di atas kepalanya. "Gimana kalau kita ganggu Audy setiap kali Ryan datang kesini."
"Gimana caranya?" tanya Reihan.
"Ya pura-pura sok kenal saja, lo jangan berantem lagi sama Audy. Mending lo minta maaf sama Audy biar rencana kita lancar," ucap Levi.
Reihan menaik-turunkan kepalanya. "Oke, gue turutin ide lo."
"Ya sudah, sekarang kita cari Audy."
Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Audy.
"Kita cari di taman. Biasanya Audy jam segini ada di taman," ucap Reihan.
Sementara itu Audy sedang berada di Aula kampus. Dia mulai merasa kesepian karena sudah dijauhi Reihan. Satu-satunya teman berbagi Audy saat masih di bully anak kampus.
Audy mengingat saat dulu awal masuk di kampus ini.
Saat itu Audy di tertawakan oleh senior dan teman Audy karena tidak bisa jongkok. Mereka terus memaksa Audy jongkok, hingga Akhirnya Reihan membela Audy dengan cara menyuruh pura-pura pingsan. Dengan sedikit acting Audy menuruti ucapan Reihan.
Saat itu Reihan dan teman pria yang lain membawanya ke ruang kesehatan. Audy pun terlepas dari hukuman. Namun, seiring berjalannya waktu, persahabatan itu berubah menjadi cinta yang membuat Audy menjadi berbeda. Dan, akhirnya perbedaan itu memberikan dampak baginya.
Audy memang mendapatkan apa yang dia impikan. Namun, dia juga dijauhi sahabat sekaligus pria yang dicintainya karena tidak siap menerima perubahan Audy.
Bulir bening tanpa sadar mengalir membasahi pipi. Audy menyekanya, sudah cukup lama Audy berada di Aula. Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Audy!" Panggil Levi dari kejauhan.
Audy menoleh, melihat Reihan dan Levi menghampirinya.
__ADS_1
Reihan dan Levi berjongkok, napasnya tersengal. Audy tersenyum simpul melihat tingkah mereka. Levi menyenggol lengan Reihan. Reihan mengendikan kepala ke arah Levi.
"Cepet," desak Levi.
Reihan mengatur napas menatap wajah cantik Audy. "Gue ... gue mau minta maaf sama lo, Dy."
Audy tertegun sejenak menatap Reihan yang wajahnya terlihat semakin menghitam. Audy menahannya, tapi butiran air bening itu membesar di sudut matanya. Audy tidak bisa menahan lagi air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
Secara spontan, Audy memeluk Reihan erat. Reihan terperanjat, dia tidak menyangka kalau Audy akan terharu seperti ini.
"Lo tu nyebelin tau gak sih," Audy menangis masih memeluk Reihan.
Reihan menjadi salah tingkah, Reihan melirik ke arah Levi untuk meminta bantuan melepas pelukan Audy.
"Dy, lepasin, nanti dia pingsan lo," ucap Levi.
"Apaan sih, Lev. Ganggu kebahagian orang saja," omel Audy.
"Enak banget jadi lo, tau gitu mending tadi gue yang minta maaf." Levi menepuk bahu Reihan
Padahal Reihan dan Levi pura-pura minta maaf untuk melakukan rencana mereka. Tapi, Audy menganggap permintaan maaf dari Reihan serius.
"Lo gak pa-pa 'kan, Dy?" Reihan masih tidak enak hati menatap Audy.
Audy menggeleng menyeka pipinya.
"Gue sekali lagi minta maaf ya, Dy. Kita bisa temenan lagi, kan?"
"Yah sudah, mending kita ke kantin saja yuk!" ajak Levi.
Reihan dan Audy mengangguk.
Saat di perjalanan, mereka bertiga berpapasan dengan Nadia dan Aldo. Levi menyapa Aldo yang terlihat berwajah masam.
"Lo kenapa, Bos? Kayak tertekan gitu?" tanya Levi.
"Gak pa-pa, lagi sakit saja. Iya 'kan, sayang." Nadia yang menjawabnya sambil tersenyum nyengir.
Levi mengangguk. "Istirahat, bos. Jangan dipaksakan."
Aldo berdecak, lalu pergi meninggalkan mereka. Nadia pamit menyusul Aldo.
"Cowok manja!" panggil Nadia.
Aldo menoleh dengan malas.
"Apa maksud lo pasang wajah cemberut kayak gitu. Lo mau sandiwara kita terbongkar," ucap Nadia saat berada di belakang kelas.
"Apa sih ... Lo maunya gue kayak gimana?" Aldo sudah pasrah dengan keadaannya.
__ADS_1
"Senyum ... lo bisa senyum gak sih." Nadia mendelik menatap Aldo.
Aldo mendekati wajah Nadia, lalu memperlihatkan senyum lebarnya. "Puas lo."
Nadia menatap Aldo geli. "Gak lucu!"
Aldo pamit pergi dari hadapan Nadia.
"Mau kemana lo?" tanya Nadia.
"Mau masuk kelas," jawab Aldo tanpa melihat Nadia.
Nadia termangu menatap punggung Aldo. Ternyata di balik pikiran mesumnya, Aldo pria yang bertanggung jawab dan juga sportif. Walaupun dia enggan, tapi dia tetap tidak menyalahi janjinya.
Sementara itu Levi, Audy dan Reihan duduk di satu meja.
"Hari ini biar gue yang traktir deh," ucap Audy.
"Mantap ... ini baru namanya teman." Levi begitu gembira. Dengan segera dia memesan soto betawi berukuran jumbo. Reihan hanya memesan jus buah saja, dia masih gak enak dengan Audy.
Bunyi suara handphone terdengar di tas cangklung Audy. Itu panggilan dari Ryan. Audy menjauh dari Reihan dan Levi. Reihan curiga itu telpone dari Ryan, Audy terlihat sumringah berbicara dengan orang yang ada di telpone itu.
"Gais ... gue pergi dulu ya. Lagi ada perlu sama orang."
"Mau kemana, Dy? Baru juga sampai," Ucap Reihan.
Audy menyibakkan bagian pinggir rambutnya ke belakang. "Ada orang yang mau nemuin gue. Daa ..." Audy melambaikan tangan pamit pergi dari kantin.
"Kita ikutin Audy yuk!" ajak Reihan.
"Makan dulu," jawab Levi yang sedang asyik menguyah makanan.
Tanpa sungkan, Reihan menarik tangan Levi hingga Levi hampir terjatuh.
"Sinting lo ya. Lagi enak-enak makan lo tarik. Untung mangkoknya gak ke senggol," cibir Levi.
"Makannya di lanjutin nanti saja , sekarang kita ikuti kemana Audy pergi."
"Iya ...."
Audy terlihat menemui seorang lelaki di taman siswa.
"Tu kan apa gue bilang. Dia pergi menemui Ryan." Reihan terlihat geram memukul telapak tangannya.
"Jangan-jangan mereka sudah jadian?" tebak Levi.
Reihan menonyor kepala Levi. "Jangan ngasal."
"Gue gak ngasal, lihat saja Audy rela meninggalkan kita demi seorang pria," ucap Levi.
__ADS_1
Bersambung ...