Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Topeng Sebenarnya.


__ADS_3

Mobil Sonia berhenti di sebuah restoran. Audy mengajak Reihan untuk sekalian masuk duduk satu meja bersama. Sonia melirik ke arah Reihan memberi kode kepada Audy.


"Dia teman saya, namanya Reihan. Dia gak akan ngebocorin kok, Bu." Audy memberi pengertian kepada Sonia.


"Oke. Saya ingin tau lebih dalam lagi tentang ceritamu itu. Selanjutnya apa yang dilakukan Ryan." ucap Sonia duduk melipat kaki.


Audy tidak bisa mengatakan jujur kepada Sonia. Karena sebenarnya dia hanya ingin membuat Reihan cemburu dan Reihan ikut mendengarkan cerita. Audy hanya bisa menceritakan bagaimana Ryan menjebaknya memakai obat perangsang. Ryan begitu pandai membuat skenario ini.


Sonia tampak memasang wajah datar, dia tidak menunjukan wajah geram seperti perempuan pada ummnya. Malah Reihan yang sepertinya tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Ryan kepada Audy. Sampai-sampai Audy harus menenangkannya.


"Apa setelah ini kamu hamil?" tanya Sonia.


Audy menggeleng.


"Terus tujuan kamu, ingin menceritakan kejadian yang menimpamu kepada saya apa?" Sonia agak mengeraskan suara.


Audy terkejut, kenapa Sonia malah mempertanyakan hal itu. Jelas-jelas tujuan Audy ingin melihat Ryan di usir dari hidup Sonia. Namun, Audy hanya terdiam sambil menggelengkan kepala secara pelan.


"Kamu ingin aku mengusir Ryan?" tanya Sonia.


Audy masih terdiam menundukan kepala.


"Bukankah Ryan itu sudah kurang ajar kepada teman saya, kenapa Bu Sonia malah memojokkan teman saya!" sahut Reihan.


"Buat apa aku harus marah, semua sudah terjadi. Lagi pula aku sudah tau keburukan suamiku, dia tidak akan pernah lepas dari wanita cantik. Dan kamu salah satu korbannya." Sonia tersenyum menatap Audy.


Audy semakin terkejut, sekujur tubuhnya tiba-tiba lemas, matanya menatap kosong. Jadi selama ini Sonia sudah mengetahui keburukan Ryan. Dan yang lebih membuat Audy berpikir di luar logika, Sonia tidak melarang Ryan berbuat hal kurang ajar seperti itu.


"Tadi waktu di parkiran, aku hanya pura-pura saja. Aku hanya ingin mendengar ceritamu. Lagi pula kamu tidak akan hamil, kan?" ucap Sonia.


"Kenapa Ibu bisa tau?" tanya Audy lirih.


"Karena Ryan itu mandul, jadi kalau ada seorang wanita yang mengaku anak dari Ryan, bisa dipastikan dia itu berbohong," ucap Sonia.


"Kenapa Bu Sonia tidak melarangnya, bukankah sebagai seorang istri harusnya kamu marah," ucap Audy dengan napas tersengal.


"Kamu tidak perlu tau gadis kecil." Sonia beranjak dari tempat duduknya. Bahkan Audy dan Reihan belum memesan makanan.


"Dasar wanita gila!" pekik Reihan.


Audy terdiam, bulir bening itu menggenang di sudut matanya, lalu dengan sendirinya jatuh melewati pipi mulus Audy. Reihan memegang lembut bahu Audy berusaha menenangkannya.


Reihan menuntun Audy keluar. "Sudah, yang lalu biarlah berlalu."


"Bukan itu yang gue sesalin, Rei. Tapi sikap tante Sonia yang seolah membiarkan semua itu terjadi." Audy terisak.


"Mereka itu sama saja, tipikal orang yang akan melakukan segala cara demi mendapatkan tujuan," ucap Reihan.


"Rei, lo gak marah 'kan sama gue."

__ADS_1


"Marah kenapa?"


"Lo denger sendirikan tadi gue cerita apa? Gue sudah tidur sama bajingan itu," ucap Audy.


Reihan tersenyum. "Sudah jangan dibahas lagi, lo gak salah, lo telah dijebak. Mirip apa yang dialami adik lo Nadia."


"Gue malu sama lo, Rei?"


"Malu kenapa, ayo naik, kita pulang." Reihan menyalakan mesin motornya.


Audy duduk di belakangnya. Hari itu mereka berdua tidak berangkat ke kampus. pengintaian Audy selama ini sia-sia karena Sonia malah membiarkan kelakuan bejat Ryan.


"Rencana lo selanjutnya apa?" tanya Reihan saat motor vespanya berhenti di depan rumah Audy.


"Rencana apa?" Audy balik bertanya.


"Rencana untuk membongkar kebohongan Ryan."


Audy tersenyum simpul, lalu menggeleng. "Gak ada. Setelah gue tau sikap tante Sonia gue merasa sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa."


"Bener juga sih, lo pasti gak nyangka kalau tante Sonia malah membiarkan Ryan berbuat seenaknya, bahkan cenderung mendukung."


Mereka berdua saling menatap, detak jantung Audy dan Reihan berdenyut lebih cepat. suasana lengang.


"Gu-gue masuk ke dalam dulu," ucap Audy lirih.


...***...


Sonia sedang berada di tempat nya Ryan. Dia sudah rapi, wangi dengan pakaian kantor berwarna abu-abu.


"Hay ... sudah selesai ngegymnya?" tanya Ryan saat Sonia berada di ruang kerja.


"Sudah ... ini aku langsung kesini," jawab Sonia duduk di sofa panjang.


Ryan menghampiri Sonia duduk di sebelahnya.


Sonia mengubah posisi duduknya menatap Ryan. "Aku punya cerita menarik untukmu."


"Cerita apa?" Ryan menatap lekat Sonia.


"Tadi aku ketemu sama anak yang bernama Audy, kamu kenal, kan?"


Ryan tertarik, mengangkat kedua alisnya. "Dimana?"


"Sepertinya dia mengikuti ku, dia cerita tentang hubungan kamu dan dia."


"Sudah ku duga, terus bagaimana reaksi kamu?"


"Seperti biasa, aku menaik-turunkan emosinya dulu, biar terlihat drama," jawab Sonia.

__ADS_1


Ryan terkekeh. "Kamu memang pandai bersandiwara."


"Terus, apa yang kamu rencanakan terhadap gadis kecil itu?" tanya Sonia.


Ryan mengibaskan tangan. "Gak ada, aku sudah mendapatkan semua dari gadis itu. Aku yakin Audy pasti menyesal karena rencananya tidak sesuai harapan."


Sonia merubah posisi duduk di pahanya Ryan, lalu memegang lembut wajah tampan Ryan. "Aku tidak akan melarangmu mencari daun muda, tapi kamu harus memberikan apa yang aku mau."


Audy tersenyum menatap lekat Sonia. "Tentu, sayang. Apa yang kamu inginkan dariku."


"Carikan aku laki-laki muda, tampan dan kaya untuk aku jadikan nafsu pemuasku," ucap Sonia.


"Permintaan yang cukup sulit, tapi akan aku usahakan, kebetulan aku kenal seorang pria yang kaya dan juga liar, sama seperti kamu." Ryan menjawil hidung Sonia.


Sonia berdiri. "Oke, aku tunggu kabar baik darimu."


"Kamu pernah bertemu dengan orangnya, sayang?"


"Oya, aku jadi penasaran," ucap Sonia.


"Besok aku akan mengenalkan dia sama kamu," ucap Ryan.


"Besok siang, aku tunggu di cafe ini, lakukan seperti biasanya." Sonia mengecup pipi Ryan, lalu dia kembali pergi.


Ryan segera menelpone Aldo, dia mengambil handphone di meja kerjanya, lalu mencari kontak nomor Aldo.


📲"Halo Aldo."


📲"Ada apa, tumben lo nelpon gue."


📲"Lho kok gak pernah datang kesini sih, anak-anak pada nanyain lo."


📲"Sorry, bro. Gue lagi sibuk skripsi. Kapan-kapan deh gue ke tempat lo."


📲"Masak lo gak punya waktu sedikit sih, main basket kek, atau sekedar ngopi di tempat gue."


📲"Sorry, bro. Gue lagi ngejar target nie."


📲"Besok lo kesinilah, ada yang pengen gue ngomongin ke lo."


📲"Tapi siang ya, saat jam istirahat kampus."


📲"Terserah lo lah, yang penting lo bisa datang kesini."


📲"Oke."


Ryan mematikan handphone nya berharap Aldo tertarik dengan Sonia.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2