
Aldo kembali ke kampus melihat Nadia yang berdiri di pintu gerbang.
"Lo ngapain di sini, Nad?" tanya Aldo saat memberhentikan motornya di depan Nadia.
"Gue nungguin lo, Tadi lo habis dari mana?" tanya Nadia.
"Gue ke tempatnya Ryan, ada urusan," jawab Aldo.
"Lo gak usah ke tempat Ryan lagi."
"Kenapa?" tanya Aldo.
"Pokoknya gak boleh, firasatku gak enak," jawab Nadia.
Aldo tersenyum tipis memegang lembut wajah Nadia, lalu mengantarnya masuk kampus sampai di tempat parkiran.
"Nad?"
Nadia menoleh ke belakang.
"Gue minta maaf ya," ucap Aldo menatap Nadia dari jarak tiga meter.
Nadia terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil menggangguk. Aldo tidak beranjak dari tempatnya saat melihat punggung Nadia yang berjalan semakin jauh. Namun, Aldo merasa senang karena Nadia mau memaafkannya.
Audy yang melihat Aldo langsung menghampirinya.
"Brengsek lo ya, berani-beraninya lo muncul di sini!" umpat Audy.
Aldo hanya terdiam menatap Audy dengan wajah datar.
"Ingat lo ya, Gue gak akan bikin hidup lo tenang kalau Nadia sampai kenapa-napa," ucap Audy dengan rasa geram.
"Nadia baik-baik saja, lo gak usah khawatir," ucap Aldo datar.
"Setelah apa yang lo lakuin ke Nadia, lo masih bisa bilang Nadia baik-baik saja. Sinting lo ya!"
"Gue janji akan nebus kesalahan gue sama Nadia."
Audy semakin geram. "Dengan cara apa! Lo itu gak beda jauh sama Ryan. Sama-sama brengsek!"
Aldo berusaha sabar dari umpatan Audy, dia pantas menerima semua ini. Levi datang melihat Audy sedang memarahi Aldo.
"Ada apa ini? Gak baik berantem di kampus," ucap Levi.
"Apa lo! Lo mau belain Bos lo ini, kan?"
"Siapa yang mau belain, gue saja gak tau masalahnya."
__ADS_1
Audy menatap tajam Levi dan Aldo, lalu dia pergi dengan amarahnya.
"Mau kemana, Dy!" panggil Levi, tapi tidak digubris oleh Audy.
Aldo menyuruh Levi jangan mengejarnya, Audy masih dalam kondisi marah. Dia pasti tidak akan mendengarkan penjelasan dari Levi.
"Memang ada apa sih, Bos? Tu bocah kayak orang kesurupan?" tanya Levi.
"Sudah gak pa-pa, hanya salah paham." Aldo pergi dari hadapan Levi.
"Bos mau kemana?" panggil Levi. Aldo tidak menoleh, ada jam kelas. Dia sudah Terlambat karena Audy marah-marah tadi.
Levi pun memutuskan mencari Audy. Levi tau dimana Audy berada, pasti ada di taman siswa. Benar saja, Audy tengah duduk di taman siswa sambil minum milk shake coklat. Levi tanpa permisi duduk di sebelah Audy.
"Lo apaan sih, main duduk saja." Audy masih bersikap dingin.
"Yaelah, numpang duduk kali, ini 'kan tempat umum," ucap Levi.
"Kursi kosong yang lain 'kan banyak, cungkring." Audy melotot menatap Levi.
"Tapi 'kan gue ada perlu sama lo."
"Gue tau apa yang ada di dalam otak lo, lo mau belain bos lo yang bejat itu, kan."
Levi mengyunggingkan senyum. "Lo tau gak bos gue sekarang tinggal di kost satu petak."
Audy hendak memuntahkan milk shake yang diminumnya. "Gak mungkin! Mana betah playboy kacangan kayak dia tinggal di tempat kecil."
"Lo mau bawa gue kemana, lepasin gak tangan gue atau gue tendang nie," seru Audy.
"Katanya lo mau bukti," ucap Levi.
"Siapa yang mau bukti. Bodoh amat tu orang mau tinggal dimana. Sekalia saja bos lo suruh tinggal di kolong jembatan sama lo sekalian." Audy pun pergi.
Levi terheran sambil bertolak pinggang menatap punggung Audy. "Tu anak makin cantik makin keras kepala."
...***...
Sore harinya Reihan mengajak Audy pulang bareng. Audy tentu saja mau, walaupun dengan malu-malu. Levi yang melihat mereka berdua jalan beriringan menghampiri.
"Reihan, pulang bareng yuk!" Levi tampak bersemangat.
"Sorry, Lev. Gue pulang bareng sama Audy," jawab Reihan yang Wajahnya tampak cerah merona.
Levi menghentikan langkahnya. "Dasar kutu kupret. Sudah baikan gue dilupain."
Reihan dan Audy tidak mempedulikan Levi. Mereka berdua sedang kasmaran, walaupun tidak saling mengungkapkan.
__ADS_1
"Kita ke toko buku dulu yuk," ajak Audy.
"Mau beli buku apa?" tanya Reihan.
"Gak mau beli buku sih, cuma pengen kesana saja. Baca-baca apa gitu."
Reihan mengangguk.
Motor vespa tua menjadi saksi perjalanan mereka berdua. Di toko buku Reihan dan Audy duduk di satu meja sambil menikmati minuman penyegar yang ada di ujung kasir. Reihan dan Audy saling membaca buku, sesekali mereka berdua saling curi pandang. Mereka pun saling tertawa karena ketahuan saling curi pandang.
Audy memberi kode dengan menumpahkan minuman botol ke meja. Reihan dengan sifatnya yang gampang panik pun membersihkan meja itu mengggunakan jaket denimnya. Audy pun tertawa melihat tingkah Reihan.
Beberapa saat kemudian Reihan tersadar dan mendapati jaket denimnya yang sudah kotor. Audy masih tertawa sambil memberikan tisu untuk membersihkan meja yang kotor itu. Reihan tidak tau kalau ini adalah ulah Audy.
"Kita pulang yuk, jaketku kotor nie," ucap Reihan.
Audy masih tertawa. "Ya sudah ayo."
Di perjalanan Audy dan Reihan melihat dari kejauhan wajah yang tidak asing bagi mereka. Reihan menepikan motornya untuk memastikan apa yang dia lihat benar.
"Itu 'kan Aldo." Audy memasang wajah yang tidak percaya.
"Ngapain dia ngantri makanan, pakai jaket orange lagi," sambung Reihan.
Audy menggelengkan kepala, dia masih tidak percaya kalau pria yang mengantri makanan di kedai memakai jaket orange adalah Aldo. Dengan segera Audy menghampiri pria itu, lalu menarik jaketnya dari belakang.
"Aldo!" Audy tertegun sesaat menatap Aldo.
Aldo menatap Audy tajam. "Ada apa."
"Nga-ngapain lo di sini?" tanya Audy ragu.
Aldo berdecak. "Lo gak lihat gue pake baju apa? Gue kerja jadi pengantar makanan online."
Audy tersenyum simpul. "Yakin lo kerja?"
Aldo mengibaskan tangannya ke udara, lalu kembali mengantri. Percuma menceritakan semua ini kepada Audy. Dia tidak akan mengerti. Audy pun kembali ke arah Reihan dengan perasaan sedikit menyesal.
Dia tampak berpikir apa yang dikatakan Levi tadi siang benar adanya. Reihan melihat Audy yang tampak menatap kosong.
"Lo kenapa, Dy?" tanya Reihan menepuk lengan Audy.
Audy tersentak dari lamunannya. "Gak pa-pa, ternyata itu beneran Aldo."
Reihan pun terkejut. Dia tidak menyangka kalau Aldo bisa bekerja kasar di lapangan.
"Kita doa kan saja Aldo benar-benar berubah kali ini," ucap Reihan.
__ADS_1
Audy menatap Reihan dengan senyuman. Mengamini ucapan Reihan. Entah apa yang terjadi dengan Aldo, Audy tidak mengerti. Yang jelas, Audy sedikit lega kalau Aldo mau memperbaiki kesalahannya. Itu artinya Nadia telah berhasil menyadarkan Aldo.
Bersambung ...