Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Ketemu.


__ADS_3

Pagi harinya Audy meminta bantuan kepada Reihan untuk mencari dimana tempat tinggal Aldo yang sekarang. Pagi itu mereka berboncengan berdua menuju kampus.


"Lo beneran percaya kalau Aldo sudah berubah?" tanya Reihan sambil menyetir motor.


Audy mengangguk. "Gue kemarin lihat Aldo nangis di makam Ibunya."


Reihan terkekeh. "Jadi gara-gara itu lo percaya sama Aldo? Bisa saja dia lagi sandiwara."


"Gak mungkin. Memang dia sandiwara buat siapa? Kata Nadia dia sudah hidup secara sederhana, cuma Nadia gak tau dimana tempat tinggalnya Aldo yang sekarang?"


"Bisa jadi sih." Reihan mengamini ucapan Audy.


Sepeda motor Reihan terparkir rapi di tempat parkir kampus. Audy dan Reihan berjalan beriringan. Sejak kejadian di restoran yang lalu Audy semakin akrab dengan Reihan. Mereka berdua saling mencinta, tapi malu untuk mengungkapkan.


"Levi ... kenapa lo gak tanya sama dia?" Reihan langsung teringat Levi.


"Dia mah gak mau ngasih tau," jawab Audy dengan wajah cemberut.


"Yaela ... itu sih gampang, kita bisa ikuti Levi diam-diam. Tapi, kita juga harus memasang wajah biasa supaya Levi tidak curiga sama kita."


Audy menatap Reihan, lalu menyungingkan senyuman.


Levi terlihat dari pintu masuk kampus. Audy dan Reihan segera pura-pura berdiskudi tentang skripsinya.


Levi menghampiri mereka berdua, ingin tau apa yang Reihan dan Audy kerjakan. "Yaela ... rajin amat sih pagi-pagi."


Audy tersenyum. "Biar cepat kelar, Lev? Lo sudah buat skripsi belum?"


"Boro-boro, beli kertas HVS saja belum," jawab Levi dengan malas.


"Cepetan buat dong, Lev? Nanti kita semua lulus, lo masih ada di sini," sahut Reihan.


"Bantuinlah?" pinta Levi.


"Lo saja belum buat, gimana bisa bantuin," ucap Reihan.


"Kalau gue sudah buat, bantuin ya." Levi menunjuk Reihan.


"Iya," jawab Reihan singkat.


"Thank you, jambang." Levi berlalu menuju kelas.


Reihan melihat Levi kesal karena dipanggil jambang.


Audy tersenyum kepada Reihan. "Curiga gak dia?"


"Kelihatannya dia gak curiga? Kita ikuti nanti siang," ucap Reihan yang beranjak dari tempatnya bersamaan dengan Audy. Mereka juga masuk kelas karena akan ada jam kelasnya pak Bambang. Harus tiba lima belajar menit sebelum jam kelas.


Siang harinya, Audy dan Reihan melihat Levi sedang makan di kantin. Dengan cuek Reihan dan Audy duduk di samping meja makan Levi.


"Ngapain duduk di situ, sini gabung sama gua!" seru Levi sambil mengubah makanan.


"Gak ah, entar suruh banyarin lagi," jawab Audy.

__ADS_1


"Kagak, gue lagi banyak duit," desak Levi.


Reihan dan Audy dengan senang hati pindah ke meja Levi.


"Enak ya, habis ini gak ada jam pelajaran, kita main yuk, Rei!" ajak Audy basa-basi.


"Boleh, mau main kemana?"


"Ke Mall saja, Lo ikut gak, Lev?"


Levi dengan mulut yang masih penuh dengan nasi meyunggingkan senyum, lalu mengambil segelas es teh yang ada di depan mejanya. "Gue gak dulu deh, badan gue capek."


"Memang habis ngapain lo, nguli?" tanya Reihan dengan nada menyindir.


"Enak saja kalau ngomong. Gue begadang semaleman gue menang taruhan bola."


"Aduh Lev-lev, dari dulu kebiasaan buruk lo kok gak ilang sih," ucap Audy.


"Mau gimana lagi, sudah hobi." Levi tersenyum nyengir menatap Reihan dan Audy.


"Hobi itu yang positif, bukan judi bola," cibir Reihan.


"Banyak ngomong lo! Gue pergi dulu ada urusan." Levi beranjak dari tempat duduknya.


Reihan dan Audy saling melempar senyum.


"Jangan nengok ke arahnya," bisik Reihan kepada Audy.


Sampailah Levi di sebuah tempat kost kecil dengan hanya lima pintu kamar. Levi masuk di kamar paling ujung. Audy dengan segera mengambil handphone dari saku celananya, lalu memfoto tempat kost itu.


"Gak nyangka gue, Aldo tinggal di kost kecil ini," ucap Reihan pelan. Audy menyetujui dengan apa yang dikatakan Reihan.


Levi terlihat membersihkan tempat kost itu. Setelahnya dia mngunci, lalu kembali ke kampus. Reihan dan Audy mendekati kos berwarna hijau muda itu.


Seorang Bapak menghampiri mereka berdua. "Mau cari kost, Nak?"


Reihan dan Audy menoleh. "Gak, Pak. Kita di sini cuma mau bertanya?"


"Tanya apa?" ucap Bapak pemilik kost itu.


"Di sini ada orang bernama Renaldo Promes? Nama panggilannya Aldo?" tanya Reihan sopan.


"Nak Aldo, itu kamarnya yang paling ujung. Tadi temannya baru saja bersihin kost nya. Temannya yang kurus itu sering kesini, gak tau kenapa?"


Reihan dan Audy merasa tidak enak dengan bapaknya.


"Pak tolong jangan kasih tau sama Aldo kalau kita tadi ada di sini ya," ucap Audy.


"Lho kenapa?"


"Mmm ... kita mau beri kejutan sama Aldo, Pak?" jawab Audy.


"Memang nak Aldo hari ini ulang tahun ya," ucap Bapak pemilik kost.

__ADS_1


"Hehehe ... gak, Pak. Kita cuma mau kasih surprise saja. Nanti Bapak juga tau."


"Surprise apa, Neng?"


"Kalau dikasih tau namanya juga surprise dong, Pak?"


"Gitu ya, iya deh Bapak ikut saja apa kaya Neng, yang penting jangan ganggu penghuni kost lain ya."


"Siap, Pak."


"Kalau begitu kami permisi dulu ya, Pak." Reihan dan Audy pamit kepada bapak penghuni kost.


"Aldo kok betah ya tinggal di kost sempit?" tanya Audy saat mereka berjalan menuju kampus.


"Mana gue tau, Dy. Setau gue Aldo itu orangnya gak bisa kalau tempatnya kotor," balas Reihan.


"Mungkin Aldo lagi adaptasi kali."


"Tau deh, yang penting kita sudah menemukan tempat tinggal Aldo. Terus rencana lo berikutnya apa?" tanya Reihan.


Audy menghentikan langkah menatap Reihan. "Ada deh ...."


Reihan menyenggol lengan Audy. "Apaan sih pakai main rahasia-rahasiaan segala."


Audy menjulurkan lidahnya, lalu berlari mengejek Reihan.


"Ihh ... apaan sih." Reihan ikut berlari mengejar Audy sampai mereka berdua kelelahan duduk di taman siswa.


"Aduh capek banget." Audy mengibaskan tangannya dengan napas tersengal.


"Lagian siang-siang gini ngajak lari-larian, capek 'kan jadinya." Reihan mendongak duduk di sebelah Audy dengan napas terengah.


Audy menatap Reihan lekat. "Rei?"


"Apa?"


"Lo gak mau nembak gue?" tanya Audy lirih.


Reihan terperajat sampai jatuh ke tanah. wajahnya langsung merah padam, salah tingkah. Audy tertawa melihat raut wajah Reihan.


"Baru dipancing gitu saja, langsung salah tingkah."


"Jangan bercanda deh!" Reihan terlihat sedang mengatur napasnya.


Audy meyibakkan anak rambut yang menghalangi pandangan. "Kalau gue beneran gimana, Rei?"


Reihan sontak tidak bisa berbicara, tenggorokannya mendadak kaku tidak bisa mengeluarkan suara. Wajahnya terlihat tegang.


Audy kembali tertawa. "Reihan lucu."


Audy beranjak dari tempatnya. Reihan masih disana menetralkan jantungnya yang sedari tadi berdenyut kencang.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2