
Malam hari selepas magrib, Aldo berangkat kerja. Memakai jaket orange dan helm berwarna orange pula. Aldo siap berada di jalan membawa pesanan customer. Orderan hari ini sangat ramai, sampai-sampai Aldo tidak bisa beristirahat.
Setiap selesai customer satu, aplikasi di handphone nya kembali berbunyi. Pesanan makanan kembali diantar, begitu seterusnya. Sampai pukul dua belas malam, tubuh kekarnya tergeletak di kasur kecil yang tipis. Tentu saja hasil yang di dapat Aldo hari ini lumayan. Sebagian uangnya di simpan sebagian lagi untuk keperluannya.
Esok harinya, Levi secara tiba-tiba membangunkan Aldo yang terlihat masih tertidur. Aldo tentu saja terkejut dengan adanya Levi di tempat kost nya.
"Kok lo bisa kesini?"
"Pintu kost gak di kunci," jawab Levi sambil nyengir.
Aldo melihat jam di handphone nya. Dia terkejut sudah pukul delapan kurang sepuluh menit, sepuluh menit lagi dia ada jam kelas. Aldo bergegas ganti baju, tanpa mandi. Levi pun tertawa melihat tingkah Aldo. Levi baru melihat Aldo sepanjang hidupnya panik seperti ini.
"Sikat gigi dulu kali, bos. Masih sempet kok, dari pada nanti bau mulut."
"Sikat gigi di kampus saja, tolong kunci kost ya." Aldo langsung pergi meninggalkan Levi di kost.
Levi menggeleng melihat Aldo pergi, lalu merapikan kamar kost bosnya yang berantakan. Saat sedang bersih-bersih Levi melihat foto perempuan berukuran 4x6 cm jatuh di lantai.
Levi melihat foto itu, wajahnya mirip dengan Nadia, tapi bukan Nadia karena fotonya terlihat sudah usang.
"Siapa ya dia," gumam Levi.
Levi kembali menaruh foto perempuan itu di tempatnya. Di selipkan di antara halaman buku.
Di kampus, Levi melihat Audy dan Reihan tengah asyik berdiskusi. Sifat jail Levi pun mulai muncul saat melihat Reihan dan Audy.
"Ciye ... romantis bener ..." ledek Levi.
Audy dan Reihan menoleh. "Apaan sih, Lev. Ganggu orang saja. Kita itu lagi ngerjain skripsi bukan pacaran."
"Iya gue tau, tapi 'kan mumpung ada kesempatan sambil menyelam minum air," goda Levi.
Wajah Audy dan Reihan pun merah padam.
"Lo bisanya ganggu orang saja, lo sudah ngerjain skripsi belum," ucap Audy mengalihkan wacana.
"Belum, skripsi mah gampang, tinggal minta bantuan sama Reihan beres," jawab Levi duduk merangkul Reihan.
Reihan melepas tangan Levi dari pundaknya. "Enak saja bergantung sama orang, usaha sendiri!"
"Ya kalau gue usaha tapi gak bisa, kan gue harus cari bantuan. Bukan begitu putri keong." Levi tersenyum manis menatap Audy.
Audy bergidik geli. "Lo kalau senyum kayak gitu bikin gue geli, Lev."
"Sudah-sudah sana pergi, gue mau fokus nie. Gara-gara lo fokus gue hilang," cibir Reihan.
"Halah ... modus saja lo. Bilang saja lo gak mau diganggu berduaan sama Audy," ucap Levi to the point.
__ADS_1
Reihan pun hanya terdiam sambil curi pandang kepada Audy. Audy hanya tersenyum simpul melirik Reihan.
"Tu kan, jadi lirik-lirikan. Sudah langsung tembak saja, entar keburu kedulan sama temen lo," ucap Levi.
"Siapa?" tanya Reihan spontan.
"Gue."Levi tertawa, lalu kabur dari tempatnya Reihan dan Audy.
Audy dan Reihan salah tingkah. Ucapan Levi memang benar, tapi dia terlalu frontal. Reihan masih mengumpulkan keberanian untuk bisa menyatakan perasaannya. Sedangkan Audy, masih sabar menunggu pernyataan langsung dari Reihan.
"Kita lanjut yuk," ucap Reihan.
Audy menaikan satu alis.
"Maksud gu-gue, lanjut ini. Buat skripsi nya." Reihan menunjuk buku yang dibawanya.
Audy tersenyum tipis, kembali meneruskan tugas skripsinya.
...***...
Jam istirahat kampus, Aldo menepati janjinya bertemu dengan Ryan di cafe. Motor matic berwarna hitam menjadi teman berkendaranya. Nadia melihat Aldo dari kejauhan, dia curiga siang-siang begini sudah keluar dari kampus. Nadia memutuskan menunggu Aldo di gerbang sampai istirahat selesai.
Ryan sudah menunggu Aldo di meja paling ujung, duduk lesehan dengan secangkir capucino hangat. Sedangkan Sonia mengawasi Aldo dari cctv di lantai atas. Aldo tesenyum menyapa Ryan, lalu duduk di depannya.
"Mau ngomong apa lo sama gue?" tanya Aldo.
Aldo terkekeh. "Kirain ada apa, gue lagi sibuk skripsi, Ryan."
"Gue ada kerjaan buat lo, bayarannya gede, tapi kalau lo mau sih," ucap Ryan.
"Kerjaan apa? Kebetulan nie gue lagi susah."
"Susah kenapa sih lo, duit tinggal minta, fasilitas sudah ada, terus apa yang membuat lo susah?" tanya Ryan.
"Sekarang gue itu tinggal di kost ukuran 3x3 meter. Kartu debit gue sudah diblokir sama bokap, itu karena gue yang minta sih. Gue kesini saja motor," jelas Aldo.
Ryan terkekeh. "Kok bisa seorang Renaldo promes tinggal di kos-kosan sempit."
"Gue pengen mandiri saja, bro. Gue gak mau bergantung dengan orang lain."
"Terus kuliah lo gimana?"
"Masih jalanlah, gue sekarang kerja jadi pengantar makanan online," ucap Aldo
"Terus lo sudah gak sama Nadia lagi dong?"
Aldo menggeleng pelan. "Gue sadar, bro. Selama ini gue terlalu banyak nyakitin Nadia."
__ADS_1
"Yakin lo sudah sadar, entar Amanda nelpon, lo kumat lagi," canda Ryan.
"Gak, bro. Gue sudah gak mau lagi berhubungan dengan Amanda, kasihan Nadia dan anak gue," ucap Aldo lirih.
"Dalam banget tu ucapan lo, baru kali gue denger ucapan sedalam ini dari mulut lo." Ryan meneguk kembali capucino nya.
"Sialan lo." Aldo terkekeh. "Katanya tadi lo mau nawarin gue kerjaan?"
"Lo mau gak kerja di cafe ini, jam lima sore sampai jam satu pagi. Masalah bayaran lo tenang saja, gue bakal bayar lo dua kali gaji karyawan sini," ucap Ryan.
Aldo tersenyum. "Gak usahlah, bro. Gue mau mandiri sembari merenungi kesalahan gue dengan kerja di jalan. Lagian kalau gue kerja di tempat lo kuliah gue bakalan terganggu."
Ryan mengangkat bahunya. "Ya sudah kalau begitu. Gue hanya bisa doain lo saja."
"Thank you ya, bro." Aldo bersalaman dengan Ryan.
"Kalau lagi lapar, boleh dong gue pesen ke lo?"
"Lewat aplikasi saja," ucap Aldo.
"Mending langsung pesen ke lo, biar lo gak kena potongan dari aplikasi," ucap Ryan.
"Gue mau memperbaiki diri malah lo ajarin curang," omel Aldo.
"Oke deh, kalau gitu. Biasanya juga banyak kok yang pesen makanan atau minuman lewat online di cafe ini."
"Gue balik dulu bro."
"Kabar-kabari ya."
Aldo mengacungkan jari jempolnya.
Ryan segera naik ke atas menemui Sonia.
"Sayang ...? Bagaimana dengan pilihanku."
"Oke, ganteng. Wajahnya kayak bule. Apa aktifitasnya?"
"Kuliah, dia sedang lagi dalam masa sulit, kita bisa memanfaatkan itu."
"Oya, baguslah kalau begitu."
"Dia kuliah sambil kerja sebagai pengantar makanan online. Kamu bisa memfavoritkannya."
"Oke." Sonia mengangguk.
Bersambung ...
__ADS_1