
"Lo 'kan otaknya paling encer di antara kita," ucap Levi.
"Iya kalau bisa gue bantu." Reihan berkata kesal.
Sore telah tiba, Audy segera keluar dari kampus. Dia sengaja memastikan handphone nya supaya Ryan tidak bisa lagi menelponnya. Audy langsung menuju cafenya Ryan.
Sesampainya disana, dia mencari keberadaan Ryan. Kata seorang pelayan, Ryan baru saja pergi. Ini kesempatan Audy untuk bertemu dengan istrinya Ryan. Audy melihat seorang wanita berambut lebat sepunggung, menuruni tangga. Audy mengira itu pasti Sonia Jubaedah istrinya Ryan.
perawakannya terlihat segar tidak seperti perempuan berusia empat puluhan.
"Anda Ibu Sonia Jubaedah?" tanya Audy saat menghampirinya.
"Iya, betul. Adik siapa ya?'
Audy mengulurkan tangannya. "Kenalkan nama saya Audy Salernitana."
Sonia besalaman dengan Audy. "Oke."
"Saya ingin bicara sama Ibu Sonia empat mata, boleh."
"Ada apa ya?" Sonia tampak belum mengerti.
Dengan sedikit ragu Audy menjelaskan kepada Sonia. "Ini tentang suami Ibu."
Sonia memicingkan mata. "Maksud kamu Ryan?"
Audy menyunggingkan senyum, lalu mengangguk.
Sonia menyelidik. "Ada hubungan apa kamu dengan suami saya?"
"Saya pacarnya Ryan."
Sonia membulatkan mata, wajahnya mulai berubah merah.
"Ibu jangan salah paham dulu, saya bisa jelasin." Audy mencoba menenangkan Sonia.
Tiba-tiba Ryan datang menghampiri mereka berdua. "Sayang, ada apa ini serius banget sepertinya. Ini siapa?" Ryan pura-pura tidak mengenal Audy.
Audy terbelalak. Bak permainan bola kini Audy terkena serangan balik dari Ryan. Audy sudah tidak bisa memasang muka manis di hadapan Ryan, dia langsung tersulut emosi.
"Kurang ajar lo ya, bisa-bisanya lo gak ngenalin gue!" umpat Audy.
Ryan menaikan satu alisnya. "Kamu ini siapa? Mungkin anda salah orang?"
"Laki-laki bajingan! Bu Sonia, laki-laki ini yang merenggut kesucian saya," ucap Audy.
Sonia menatap Ryan, Ryan memasang expresi tidak mengerti.
"Kamu sungguh tidak mengenal gadis ini?" tanya Sonia.
__ADS_1
"Aku betul-betul tidak tau siapa dia."
"Bohong!" bentak Audy.
semua pengunjung melihat ke arah mereka bertiga, seperti mendapat tontonan sinetron telenovela.
"Aku tau, kamu sengaja bersandiwara di depan istriku supaya kami bertengkar, kan?" Ryan menuduh Audy.
Audy tidak bisa berkata-kata lagi suaranya sudah serak, dia hanya bisa menangis.
"Sudah-sudah, saya lagi sibuk, kalau kamu mau main-main di sini, kamu salah orang." Sonia pergi dari hadapan Audy yang tampak berdiri lemas.
Ryan tersenyum menyeringai melihat Audy yang tampak sudah tidak bertenaga lagi. Audy tidak percaya semua ini, rencananya gagal. Ryan terlalu kuat untuk Audy.
Niat untuk menjebak Ryan, malah dia yang dipermalukan. Audy dengan langkah bergetar keluar dari cafe itu, lalu berteriak sekuat tenaga di antara ramainya kendaraan yang membisingkan telinga.
Audy pulang dengan perasan malu, dia tidak mau ke cafe itu lagi. Terlalu banyak orang yang melihat Audy. Langkah berikutnya, dia harus berhati-hati dengan pria yang bernama Ryan.
Sedangkan Aldo meminta tolong kepada Levi untuk mencarikan kost yang sederhana. Levi mendapatkan tempat kost ukuran 3x3 meter.
"Bos yakin tinggal di sini?" tanya Levi tampak tidak percaya.
Aldo tersenyum tipis. "Yakin."
"Mobilnya Bos Aldo dikemanain?"
"Sudah gue jual," jawab Aldo.
Aldo menghela napas, mendongak menatap langit-langit. "Gue yang minta ke bokap supaya gak usah ngirim uang lagi. Gue ingin belajar hidup mandiri. Selama ini gue lebih banyak nyusahin bokap, nyusahin lo juga."
Levi terlihat terharu, dengan mata yang sembab dia berteriak memeluk Aldo.
"Gue bangga sama lo, Bos! Kalau lo butuh bantuan bilang sama gue. Gue siap bantu." Levi melepas kacamata tebalnya, lalu mengusap air matanya.
"Gue cuma pengen jangan kasih tau kepada siapapun, termasuk Nadia."
"Ta-tapi, Bos ..."
"Sudah, lo bisa jaga kepercayaan gue, kan?"
Dengan terharu Levi mengangguk mantap. Levi pun dengan rasa bangga keluar dari kostnya Aldo. Aldo merebahkan diri kepalanya bertumpu dengan kedua tangannya sambil menatap langit-langit ruangan 3x3 meter.
Aldo tampak berpikir, selama ini dia selalu menyakiti Nadia tanpa pernah memikirkan perasaannya. Aldo terlalu egois menuruti nafsunya yang tidak pernah selesai itu. Semakin dituruti malah semakin menjadi-jadi.
Malam hari, suasana di keluarga Lesmana masih menenangkan. Reno yang belum selesai dengan Nadia, menyuruh Nadia untuk berkata semua supaya dia bisa menghukum Aldo lewat jalur hukum. Namun, Nadia hanya terdiam, Nadia masih tidak rela kalau Aldo dipenjara.
Seorang tinggi besar dengan kumis tebal memakai jas datang ke rumah. Memberi salam kepada Reno.
"Tio ...." Reno terkejut.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
"Kamu tidak usah basa-basi denganku. Aku tau kedatanganmu kesini untuk membela anakmu itu," ucap Reno geram.
"Aku sudah tau semuanya dari putrimu, ada yang perlu aku bicarakan padamu."
Reno dan Tio saling menatap hingga pada akhirnya Reno mempersilahkan Tio duduk.
"Putraku Aldo, tidak ada di rumahku," ucap Tio.
"Kamu jangan berbohong, tidak mungkin anakmu itu tidak pulang ke rumahmu." Reno berkata sambil melotot ke arah Tio.
"Tenanglah Tio, aku tau seperti apa perasaanmu. Aku mohon kepadamu, jangan dulu tempuh jalur hukum, minimal sampai anakmu ini melahirkan cucu kita."
"Tidak bisa anakmu sudah keterlaluan. Dia telah menjebak putriku supaya menuruti nafsu bejatnya!" bentak Reno.
Nadia menangis memohon kepada Reno untuk mengabulkan permintaan Tio.
"Nadia! Apa yang kamu harapkan dengan pria bejat seperti dia!"
"Nadia mohon, Pa ... minimal sampai anak ini lahir." Nadia beeucap sambil terisak.
"Bagaimanapun juga Aldo adalah ayah dari jabang bayi itu. Jika Sifat anakku masih sama, aku akan membantumu menjebloskan anakku. Lagi pula semua fasilitas yang selama ini dia dapat aku non aktifkan. Itu sudah termasuk hukuman buat anakku."
Reno sedikit lunak. "Baik, aku terima permintaanmu, tapi ingat, sampai anakmu itu tidak berubah, aku tagih janjimu."
"Baik, kamu pegang omonganku." Reno dan Tio bersalaman. "Kalau begitu aku pamit dulu."
"Biar Nadia antar ke depan , Pa!" sahut Nadia.
Tio mengangguk.
Sambil berjalan pelan Nadia mempertanyakan dimana Aldo berada.
"Kejujuran Papa juga tidak tau, tapi Papa yakin Aldo sedang merenungi diri."
Nadia menghentikan langkah menatap Tio. "Papa yakin Aldo akan berubah?"
"Papa juga tidak tau, kita berdoa saja."
"Tapi, Nanti ..."
'Kamu tidak usah khawatir, Jika sikap Aldo masih sama dengan yang dulu. Papa ikhlas dia di penjara demi kebaikannya."
Nadia memegangi perutnya yang sudah membesar. "Nadia dan bayi ini belum siap hidup tanpa ayah."
"Papa yakin kamu bisa merubah Aldo. Tapi, masalahnya 'kan papa kamu yang terus mendesak supaya Aldo di penjara. Jadi Papa Tio terpaksa melakukan ini untuk menenangkan papa kamu."
Nadia tersenyum tipis, melihat Tio masuk mobil.
__ADS_1
Bersambung ...