Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Dunia Itu Sempit.


__ADS_3

Aldo mendapat pesanan atas nama mrs X. Dia memesan sepuluh box pizza langsung di antar di daerah cempaka putih. Aldo dengan semangat mengantar pesanan itu. Biasanya jika customer memesan banyak makanan, dia juga akan kecipratan bonus


Sampailah Aldo di rumah besar dengan pintu pagar coklat yang terbuat dari kayu menjulang tinggi. Aldo teringat dengan rumahnya yang tidak kalah besarnya dengan rumah ini. Di sudut pintu pagar ada sebuah tombol bel. Aldo memencet tombol itu. Seorang satpam tua menemui Aldo.


"Antar makanan, Pak!" Aldo tersenyum ramah.


"Atas nama siapa dek?" tanya pak satpam.


"Di sini namanya mrs X."


Satpam itu sedikit curiga. "Di sini tidak ada yang bernama mrs X."


"Tapi alamatnya di sini, Pak." Aldo mendesak pak satpam itu.


Suara Ht terdengar di samping kiri celana pak satpam itu.


🔋"Biarkan pemuda itu masuk." terdengar suara di HT pak satpam.


"Nyonya menyuruhmu masuk ke dalam," ucap pak Satpam.


Aldo permisi, melangkah dengan sopan masuk ke rumah, mengetuk pintu. Seorang perempuan setengah baya, tapi tetap cantik membuka pintu memakai dress ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Make up yang tebal serta bulu mata yang lentik menghiasi dandanannya. Aldo sudah berpengalaman dalam hal ini.


"Pengantar pizza ya, silahkan masuk," ucap wanita itu dengan lembut.


Aldo masuk menuju ruang tamu, terlihat perempuan sebaya memakai jenis pakaian yang sama tengah mengobrol di ruang tamu.


"Gaes ... pizza nya sudah datang!" seru wanita berumur empat puluh tahunan itu.


Aldo menaruh makanan di meja makan panjang yang terbuat dari marmer.


"Aldo!"


Aldo menoleh ke sumber suara. "Tante Sonia."


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Sonia.


Dengan sedikit malu Aldo berucap jujur kalau dia sedang bekerja.


Sonia heran. "Memang uang papa kamu masih kurang untuk kebutuhan hidup kamu?"


"Gak tante, cukup kok. Saya pengen mandiri."


Pemilik rumah mendekati Aldo dengan manja. "Dari pada kamu kerja capek-capek, mending semaleman nemenin tante, kamu bisa dapat berpuluh-puluh kali lipat dari pada yang kamu dapatkan."


Aldo terkjut, lalu menolaknya dengan halus. "Gak deh tante. Maaf ya tante."


"Jangan panggil tante dong. panggil saja Siska biar lebih akrab," ucap perempuan yang bernama Siska memgedipkan satu matanya ke arah Aldo.


Teman-teman yang lain pun menimpali Siska dengan perempuan gatel yang tidak kuat jika melihat daun muda yang ganteng dan berotot seperti Aldo.


"Siska sudah deh, jangan mulai. Gue kenal sama dia, gue juga kenal sama papanya," ucap Sonia.

__ADS_1


Siska mengangkat bahu sambil menaikan kedua alisnya tanda setuju.


Aldo tersenyum tipis menatap Sonia. "Mrs X itu siapa ya, Tante?"


"Ini yang pesan saya." Sonia memberikan sepuluh lembaran uang seratus ribu kepada Aldo."


"Kebanyakan, Tante."


"Sudah gak pa-pa, sisanya buat kamu."


"Terima kasih banyak, Tante." Aldo tersenyum sumringah.


"O iya, ini pizza buat kamu. Temen Tante yang satunya berhalangan hadir, dari pada tidak ada yang makan mending buat kamu saja." Sonia memberikan pizza kepada Aldo.


"Wah ... Terimakasih lho, Tante. Sudah dikasih tips, dikasih pizza pula." Aldo tampak gembira.


Sonia tersenyum tipis. "Kalau saya mau pesen makanan online, tante hubungi kamu saja ya, biar cepet."


"Siap, Tante. Tapi pake aplikasi ya, Tante."


Sonia mengangguk. "sudah saya favoritkan."


"Saya pamit dulu ya, Tante." Aldo beranjak dari rumah besar itu.


Teman-teman Sonia tidak berhenti tertawa mengejeknya.


"Tante, bentar lagi jadi nenek dong?" canda salah satu teman Sonia.


"Kalau kita mau dapat kakap, kita juga harus pandai mengendalikan keadaan. Kapan kakap itu berontak kapan dia beristirahat," ucap Sonia.


Pagi hari di hari libur, Aldo hendak menuju makam ibu kandungnya. Audy yang sedang berolah raga tidak sengaja melihat Aldo membeli seikat bunga. Audy mengira Aldo hendak bertemu dengan seorang perempuan. Audy segera memanggil tukang ojeg yang ada disebrang jalan mengikuti kemana Aldo pergi.


Aldo sampai di salah satu tempat pemakaman yang ada di Jakarta. Audy pun heran kenapa Aldo ada di tempat pemakaman. Dari kejauhan Audy mengendap bersembunyi di balik pohon. Aldo terlihat mencium nisan sambil menangis memeluk nisan itu.


Audy pun mengerti apa yang dilakukan Aldo. Tiga puluh menit berada di pusara, Aldo keluar dari makam. Audy menghampiri makam yang dikunjungi Aldo. Bertulis Kinanti. Audy semakin mengerti kalau makam yang dikunjungi Aldo adalah makam ibu kandungnya.


Audy pun yakin kalau Aldo memang sudah berubah. Dengan segera Audy menelpone Levi. Levi pasti tau tempat tinggal Aldo yang sekarang.


📲"Halo, Levi."


📲"Iya ada apa putri keong."


📲"Bisa ketemuan gak?"


📲"Lo mau ngajak kencan gue?"


📲"Jangan bercanda deh, lo sekarang ada dimana?"


📲"Gue lagi tidur, lo bangunin."


📲"Lo nyebelin banget sih jadi orang, jam segini masih tidur."


📲"Ini hari libur putri keong."

__ADS_1


📲"Kita ketemuan, nanti gue traktir."


📲"Gak mau lagi malas."


📲"Lo tu memang manusia paling nyebelin sedunia."


📲"Biarin." Levi dengan sepihak mematikan panggilan.


Audy meracau memanggil-manggil nama Levi di handphone yang sudah dimatikan. Dengan wajah masam Audy mrninggalkan makam.


Sekembali di rumah, Audy menceritakan kejadian itu kepada Nadia di kamarnya. Nadia terlihat sedang membuatkan susu untuk perkembangan calon bayinya.


"Nanti lo harus dengerin cerita gue." Audy masuk kamar Nadia sambil menutup pintu.


"Ada apa, Kak? Serius amat."


"Tadi gue lihat Aldo di makam. Kelihatannya dia lagi di makam ibunya?"


Nadia nembulatkan mata. "Serius, Kak."


Audy mengangguk dengan serius.


"Mungkin Aldo lagi rindu sama ibunya, wajarlah, Kak. Namanya seorang anak."


"Mungkin? Tapi lo sadar gak, Nad? Itu tandanya apa?"


"Apa." Nadia belum mengerti.


"Mungkin Aldo menyadari kesalahannya, Nad? Gue kemarin juga lihat Aldo ngantri beli pizza. Dia sekarang kerja sebagai pengantar makanan online," ucap Audy.


Nadia kembali terkejut. Nadia tau kalau Aldo mulai berubah, tapi Nadia tidak tau kalau Aldo bekerja sebagai pengantar makanan online. Nadia tersenyum mendengar cerita Audy.


"Lo kenapa, Nad? Senyum-senyum sendiri? Kangen ya sama Aldo?" goda Audy.


"Gak pa-pa, Kak. Nadia seneng saja Aldo benar-benar ingin berubah."


Audy ikut senang melihat adiknya senang. "Lo tau dimana Aldo tinggal sekarang."


Nadia menggeleng.


"Coba lo tanya Levi?"


"Sudah, Kak. Levi juga tidak tau dimana Aldo tinggal," jawab Nadia.


"Lo percaya sama si cungkring itu. Levi pasti tau lah dimana Aldo berada. Secara dia itu orang kepercayaannya Aldo.


"Dia gak mau mengaku gitu?"


"Lo tenang saja, Nad. Serahin sama Kakak lo ini." Audy menepuk dada.


Nadia tersenyum lebar menatap Audy. "Nadia percaya sama Kakak."


"Nanti kalau gue sudah tau tempat tinggal Aldo, gue langsung kasih tau lo."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2