Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Ternyata Sonia.


__ADS_3

Pagi harinya Ryan menghubungi Aldo untuk mengajaknya ketemuan. Namun, handphone Aldo tidak aktif. Terpaksa Ryan menuju kampus. Ryan tidak diberi hak istimewa oleh Sonia sebelum dia berhasil menangkap Aldo. Entah apa alasan kenapa Sonia begitu menginginkan Aldo.


Taksi yang ditumpangi Ryan berhenti di depan pintu gerbang kampusnya Aldo. Suasana kampus begitu ramai, banyak mahasiswa lalu-lalang yang hendak belajar. Ryan masuk kampus mencari Aldo.


Reihan dan Audy melihat Ryan berjalan menuju kelasnya Aldo. Dengan segera Reihan dan Audy menghampiri Ryan untuk mencegahnya bertemu dengan Aldo.


"Ngapain lo di sini?" tanya Reihan dengan tatapan tajam.


"Gue mau ketemu sama Aldo," jawab Ryan.


"Gak tau malu lo! Gak puas apa buat Aldo celaka!" Pekik Reihan.


Suasana mnjadi hening sesaat, para mahasiswa yang duduk di koridor kelas terfokus kepada Reihan dan Ryan.


"Gue mau minta maaf, kemarin gue juga gak tau kenapa Aldo pingsan," alasan Ryan.


"Munafik lo! Keluar gak dari sini atau gue teriak lo penipu," ancam Reihan.


Ryan tidak bisa apa-apa, dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras dia keluar dari kampus.


Reihan tersenyum sinis menatap punggung Ryan yang berjalan. "Biar tau rasa."


Audy tersenyum memuji Reihan sambil mengacungkan dua jempolnya. "Keren. Itu baru namanya cowok."


Reihan tersenyum kecut. "Berarti kemarin-kemarin gue gak cowok gitu?"


Audy memukul pelan lengan Reihan. "Apaan sih, jangan mulai deh. Masih pagi."


Reihan menyunggingkan senyum.


"Gue traktir mau gak!" ajak Audy.


"Boleh." Reihan mengangguk senang.


Mereka berdua menuju kantin


Sedangkan Ryan terlihat kesal karena di usir dari kampus. Ryan harus berpikir keras untuk melumpuhkan Aldo. Reihan pasti sudah bercerita kepada Aldo tentang kejadian tadi malam. Satu-satunya cara Ryan harus menunggu kesempatan yang tepat untuk melumpuhkan Aldo.


Saat hendak pulang, Ryan melihat Aldo sedang berboncengan dengan Levi. Ryan segera mencegat Aldo di depan pintu masuk kampus. Levi yang duduk di belakang Aldo langsung beranjak dari tempatnya.


"Ngapain lo kesini!" teriak Levi.


"Tenang, bro. Gue ke sini cuma mau ngomong baik-baik sama Aldo," jawab Ryan.

__ADS_1


Aldo turun dari motor maticnya menghampiri Ryan. "Berani lo bicara sama gue."


"Gue minta maaf, Do. Kejadian kemarin malam di luar perkiraan gue," ucap Ryan.


Aldo tidak begeming, dia menarik kerah baju Ryan, lalu memukul wajah Ryan sampai dia jatuh ke tanah.


"Lo gak usah muncul lagi dihadapan gue. penghianat!" pekik Aldo.


Ryan dengan tanpa bicara menatap Aldo tajam, lalu pergi dari hadapannya.


"Pergi lo yang jauh, kalau perlu ke luar angkasa sana!" seru Levi.


Levi dan Aldo pun masuk kampus.


Di sebrang jalan terlihat kedua anak buah Sonia mengawasi di dalam mobil.


"Sepertinya Ryan sudah tidak berguna!" ucapnya.


"Kita tunggu sampai tiga hari, sesuai intruksi dari bos Sonia. Kalau dalam waktu tiga hari tidak ada hasil. Kita buat perkedel dia."


Anak buah Sonia setuju. Mobil yang ditumpanginya melaju menjauh dari kampus.


Di sido lain, Audy dan Reihan mencari Aldo.Mereka menemukan Aldo saat bersama Levi berjalan menuju kelasnya.


Aldo mengangguk.


"Lo tadi sempet ketemu gak sama Ryan?" tanya Audy lagi.


"Sudah gak usah di permasalshkan, Ryan gak bakal berani ke sini lagi," jawab Aldo.


"Tadi si Ryan sudah di kasih bogem sama Bos gue," sahut Levi


Audy tersenyum tipis. "Baguslah."


"Traktir dong, kemarin 'kan kita sukses mengcau pestanya Sonia."


"Iya nanti siang gue traktir, sekarang mau ada jam kelas. Masuk yuk!" ajak Audy.


...***...


Sonia terlihat duduk di ruang tengah dengan pipi yang merah dan mata sayu. Botol bir yang ada di tangan dan meja ruang tamu membuat Sonia meracau tidak jelas. Dia terus meracau menyebut nama Aldo dan Tio.


"Aku akan membalaskan sakit hati ini dengan menyiksa anakmu," ucap Sonia.

__ADS_1


Ternyata Sonia pernah sakit hati dngan Tio papa tirinya Aldo. Dulu Tio sempat berjanji dengan Sonia untuk menikahinya. Tapi yang terjadi, Tio malah menikahi janda beranak satu.


Sejak saat itu Sonia berjanji akan membalas dendam. Ibu Aldo yang bernama kinanti pun tidak lepas dari kemarahan Sonia. Dia menyuruh orang untuk membunuh ibunya Aldo tanpa jejak seolah itu suatu kecelakaan.


Sonia saat itu bisa tertawa lepas, tapi kini setelah lima belas tahun berlalu dia dipertemukan dengan anaknya Kinanti. Sonia ingin melihat Tio menderita dengan cara mencelakai Aldo. Dua orang anak buah Sonia bertubuh besar datang. Dua orang itu setengah membungkuk menghadap Sonia.


"Ada kabar tentang Ryan?" tanya Sonia.


"Ryan sepertinya sudah tidak punya daya lagi, Nyoya. Dia tadi pagi dipermainkan Aldo."


Sonia berdiri menatap tajam ke depan. "Dasar laki-laki tidak berguna!"


Suasana lengang sesaat, dua orang bertubuh besar itu terdiam dengan posisi berdiri sambil menunduk.


"Aku ingin kalian selesaikan Ryan. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi," perintah Sonia.


"Baik, Nyonya."


Saat itu terdengar suara guci yang pecah karena teesenggol seseorang. Orang itu adalah Ryan yang sedari tadi bersembunyi di balik pilar besar rumah Sonia. Sonia dan Dua orang anak buahnya melihat Ryan berlari.


"Cepat kejar!" Titah Sonia.


Dua orang berbadan besar itu langsung mengejar Ryan menggunakan mobil. Ryan terus berlari bersembunyi di gang sempit supaya tidak diketahui oleh anak buah Sonia. Ryan baru tau sekarang, ternyata selain mucikari Sonia juga seorang pembunuh bayaran. Pantas saja dia ingin sekali Aldo ada di tangannya.


Ryan sudah tidak bisa lagi berharap dengan Sonia. Namun, dia juga bingung harus melangkah kemana dia. Ryan sudah tidak punya apa-apa lagi. Uang sepeser pun tidak ada.


Satu-satunya cara Ryan harus menemui Aldo untuk membongkar siapa Sonia yang sebenarnya. Ryan mengendap memastikan suasana aman. Setelah dirasa aman dia berlari menuju pasar loak untuk menukarkan kemeja dan celananya dengan baju bekas yang lebih murah.


Ryan mndapatkannya, sisa uangnya untuk makan dan naik kendaraan menuju kampus untuk menemui Aldo. Sedangkan anak buah Sonia terus mencari keberadaan Ryan di sepanjang jalan.


"Sial! Kemana itu bocah." Salah satu anak buah Sonia meracau sambil memukul stir.


"Aku rasa dia bersembunyi di gang kecil."


"Bos bisa marah kalau kita tidak menemukan Ryan."


"Bagaimana kaldu kita cari Ryan di kampusnya Aldo. Mungkin dia ada di sana," ucap salah satu anak buah Sonia.


"Tidak mungkin, jarak kampus dan rumah bos Sonia terlalu jauh. Ryan tidak punya duit. Lagian kalau dia ke kampus mau ngapain lagi si Ryan. Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana perlakuan teman-temannya Aldo ke Ryan?"


"Kalau begitu kita naik motor, susuri gang sempit.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2