Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Hujan.


__ADS_3

Pernikahan Nadia dan Aldo pun digelar di sebuah masjid. Tidak besar, hanya mengundang kerabat terdekat saja. Mereka mengucapkan janji setia sehidup semati. Nadia terlihat cantik memakai baju pengantin adat jawa berwarna putih. Sedangkan, Aldo memakai jas putih dan peci putih. Terlihat serasi.


Acara berjalan begitu kidmat. Para undangan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Diam-diam Reihan datang ke acara pernikahan Nadia dan Aldo. Audy yang melihatnya menghampiri Reihan saat Nadia dan Aldo pergi menggunakan mobil.


"Sabar ya, Rei?" Audy memegang pundak Reihan.


Reihan tersenyum tipis menatap Audy. "Mungkin saatnya gue ngelupain Nadia."


"Ke cafe yuk!" ajak Audy.


"Boleh, tapi di pinggir laut ya."


"Dimana?" tanya Audy.


"Ikut gue." Audy berjalan di belakangnya Reihan.


Reihan mengajak Audy menuju pantai Ancol. Disana mereka masuk ke tepi pantai menuju jembatan panjang berwarna merah yang orang menyebutnya jembatan cinta.


Reihan melebarkan tangan, menghirup napas dalam-dalam, lalu berteriak melepaskan penat yang ada di pikirannya. Audy juga melakukan hal yang sama, cuma bedanya dia tidak berteriak. Audy memakai kos polos berwarna hitam, kacamata hitam menelentangkan tangan merasakan angin laut yang menyentuh kulitnya.


"Kita kesana yuk!" Reihan menunjuk sebuah gardu dengan lantai bulat terbuat dari kayu.


Audy mengangguk mengikuti Reihan.


"Di sini banyak ikan, Rei." Audy melihat ikan yang ada di bawah gardu.


"Wow ... keren juga ya tempatnya. Ikannya masih kecil, coba besar sudah gue pancing itu."


Audy menyenggol lengan Reihan. "Ya gak bisa gitu. Di sini kawasan dilarang menangkap ikan."


"Ada ikan buntal, lucu banget."


Audy penasaran melihatnya. "Mana?"


"Itu." Reihan menujuk ikan buntal itu.


"Wah iya!" Audy kegirangan melihat ikan buntal itu.


"Body nya mirip kayak kamu dulu," canda Reihan.


Audy langsung melotot menatap Reihan. "Lo ngejek gue."


Reihan terkekeh mengangkat tangan berbentuk huruf V. Mata Audy masih melotot sambil bertolak pinggang. Reihan tertawa, lalu kabur. Audy mengejar Reihan, mereka berdua berlarian di jembatan cinta sampai napas mereka berdua tersengal.


Audy dan Reihan duduk di sebuah gardu yang kedua.


"Capek banget," ucap Audy.


"Tapi lo seneng, kan?" tanya Reihan.


"Lumayan, Rei. Cari minum gie, haus nie," ucap Audy.

__ADS_1


"Dimana? Di sini gak ada warung."


"Ada ... coba lo jalan keluar dari sini," ucap Audy.


Reihan berdiri mencari minum. Perasan Audy begitu gembira bisa jalan-jalan dengan Reihan. Audy akan terus membuat Reihan bahagia walaupun Reihan hanya menganggapnya sebagai teman.


Tak berselang lama, Reihan datang membawa dua botol air mineral.


"Ini buat lo."


"Makasih." Audy tersenyum menatap Reihan.


Reihan duduk disamping Audy. "Makasih ya."


Audy menatap Reihan. "Untuk."


"Makasih sudah nemenin gue ke tempat ini," ucap Reihan lirih.


Audy meminum seteguk botol air mineral. "Santai ... kita 'kan bestfrend."


Reihan menatap Audy lekat. Angin laut menyentuh kulit mereka. Audy juga menatap Reihan. Jantung Audy kembali berdetak, detakannya semakin lama semakin kencang. Wajah Reihan perlahan mendekat ke wajah Audy. Reihan memejamkan matanya, Audy dengan sedikit keberaniannya juga memejamkan mata.


"Cup ...." Satu kecupan mendarat di bibir Audy.


Mereka sejenak terdiam, hingga Audy tersadar, lalu mendorong tubuh Reihan. Audy belum siap menerimanya. Wajah Audy bersemu merah menjauh dari Reihan. Reihan terjatuh, lalu mendekati Audy untuk meminta maaf. Audy masih menunduk menyembunyikan wajah merahnya. Ini pengalaman pertama bagi Audy.


"Maafin gue, Dy." Reihan terus meminta maaf.


Audy sebenarnya ingin marah dengan kelakuan Reihan. Namun, entah mengapa hatinya begitu senang. Reihan terus merengek minta maaf.


"Tapi, gue benar-benar gak sengaja. Dy."


"Ya sudah, lupain saja. Kita pulang yuk! sudah mulai mendung nie," ucap Audy.


Reihan mengangguk dengan canggung


Di perjalanan mereka saling diam. Audy dan Reihan terjebak pada pikirannya masing-masing. Hujan mulai membasahi bumi. Reihan masih terus melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan hujan.


Audy dengan sadar melingkarkan tangannya di perut Reihan sambil kepalanya bersandar di punggungnya. Reihan melihat tangan itu di perutnya. Satu tangan Reihan memegang tangan Audy seolah mengisyratkan untuk jangan melepas lingkaran tangannya.


Tubuh mereka mulai basah. Reihan mengajak Audy untuk berteduh. Namun, Audy mnggelengkan kepala. Hari ini Audy tidak mau melepaskan pelukannya. Biarlah hujan yang menyampaikan perasaan Audy yang sebenarnya.


Reihan masih tetap melajukan motornya sambil sesekali mengusap wajahnya. Audy sudah terlalu nyaman memeluk Reihan dari belakang. Tanpa terasa Reihan sudah berhenti di depan rumah Audy.


Hujan masih belum berhenti. bahkan hujan seperti mengikuti Audy dan Reihan pergi. Audy dengan malas melepas lingkaran tangan, lalu turun dari motor vespanya Reihan sambil mengusap wajahnya.


Audy tersenyum simpul menatap Reihan. suara hujan seakan tidak mempengaruhi tatapan mereka berdua. Reihan entah sadar atau tidak memegang lembut wajah wanita dengan rambut berombak itu. Audy sedikit merendahkan kepalanya merasakan sentuhan tangan Reihan.


Seketika itu, Reihan melepas tangannya, lalu pamit kepada Audy. Hujan telah mempengaruhi pikiran mereka berdua menjadi romantis. Audy mendongak, menelentangkan tangan berterima kasih kepada hujan.


Di dalam rumah, Nadia dan Aldo masih berada di dalam kamar. Reno dan Ayu mengira mereka sedang membuat anak. Padahal, mereka berdua lagi sibuk memainkan hp nya masing-masing.

__ADS_1


Audy datang dalam keadaan basah.


"Sore, Ma." Audy tersenyum dengan sumringah.


"Kehujanan?" tanya Reno.


Audy mengangguk. "Iya, Pa. Audy mau ke atas dulu ya, Pa, Ma."


Reno dan Ayu mengangguk menatap Audy menaiki tangga.


"Wajahnya cerah," bisik Reno.


"Sudah biarin saja." Ayu menyenggol lengan Reno.


Di kamar, Aldo mulai merasakan gairahnya naik. Apalagi cuaca hujan seperti ini. Pikiran mesum Aldo pun beraksi.


"Main yuk, Yang." Aldo berbisik kepada Nadia yang sibuk bermain hp.


Nadia menatap Aldo tajam, lalu menunjukan kepalan tangannya.


"Dasar pria mesum," cibir Nadia.


Aldo pun langsung menjauh dari Nadia.


Hp Aldo betdering, itu panggilan dari Amanda. Aldo mengangkat panggilan itu.


📲"Halo," ucap Aldo lirih.


📲"Laki-laki brengsek."


Aldo tau apa yang dimaksud Amanda.


📲"Aku bisa jelasin. Ini aku lagi di kamarnya Nadia."


📲Gue gak mau tau! Kita harus ketemuan sekarang."


📲"Oke ... kita ketemu di tempat biasa."


Aldo segera menutup telpon.


Manik mata Nadia melirik kesal Aldo.


"Gue sudah tau siapa yang nelpon lo," ucap Nadia.


Aldo tersenyum simpul. "Gu-gue pergi dulu ya."


"Gak boleh." Nadia sambil melipat tangannya menatap Aldo.


"Why ... bukankah ini tidak termasuk perjanjian?"


"Lo tau 'kan ini malam pertama kita. Kalau sampai nyokap sama bokap gue tau, mereka pasti curiga."

__ADS_1


Aldo berdecak menjambak rambutnya sendiri. "Terus gue harus ngomong apa sama Amanda?"


Bersambung ...


__ADS_2