
"Lo ngehamilin Nadia, kan?"
Aldo membulatkan mata. "Lo jangan nuduh ya."
"Gue tau lo. Pasti ada yang gak beres dengan pernikahan ini," ucap Audy.
"Kalau gak percaya tanya saja sama adik lo."
Audy menatap Aldo tajam, lalu pergi keluar dari rumahnya. Levi mengikuti dari belakang.
"Audy, gue antar."
"Gak usah." Audy berkata membelakangi Levi.
Audy berjalan cukup jauh dari gapura perumahannya Aldo.
"Lihat saja, gue gak akan nyerah." Audy kesal meracau di jalan.
Di tempat lain, Nadia dan Reno sudah menyiapkan berbagai perlengkapan acara pernikahan mereka. Acara rencananya akan di lakukan secara sederhana. Orang tua Aldo juga sudah setuju. Tinggal pelaksanaannya dua hari lagi.
"Capek juga ya, Pa?" Nadia menyeka dahinya.
Reno tertawa. "Ya beginilah kalau ingin menikah. Repotnya minta ampun."
Tak berselang lama Audy datang.
"Dari mana, Kak?" tanya Nadia.
Audy menatap tajam Nadia, lalu dia naik tangga dengan wajah masam.
"Kenapa sih?" kesal Nadia.
"Mungkin lagi pms, sudah gak usah di pikirkan," ucap Reno.
Suara telpon terdengar dari saku celana Nadia. Aldo menelponnya. Nadia menjauh dari papanya.
📲"Halo, sayang ..."
📲"Lo lagi dimana?"
📲"Di rumah."
📲"Tadi Kakak lo ke rumah gue. Dia curiga sama pernikahan kita."
📲Sudah gak pa-pa, yang penting lo jangan ngomong kayak kemarin sama papa lo."
📲"Oke terserah lo saja."
Nadia mematikan hp nya, lalu menghampiri papanya.
"Dari siapa?" tanya Reno.
"Dari Aldo, Pa ..."
Reno menaik turunkan kepalanya.
Di kamar, Audy sedang menelpone Reihan. Dia ingin bertemu dengan Reihan hari ini juga. Reihan yang memang tidak sibuk menyanggupinya.
Audy turun tangga menunggu Reihan di depan.
"Audy, mau kemana?" tanya Reno.
"Mau ketemu teman, Pa!"
Reno mengendikan kepala ke arah Nadia.
"Ketemu sama gebetannya, Pa." Nadia berbisik.
__ADS_1
Tak berselang lama, Reihan datang memakai ham kotak-kotak berwarna merah.
"Mau kemana?" tanya Reihan.
"Jalan saja dulu." Audy duduk di belakang Reihan.
Reihan mengikuti ucapan Audy. Wajah Audy terlihat tidak bersahabat.
"Lo tau gak, Rei?"
"Apa." Reihan fokus menyetir motor.
"Nadia mau nikah sama Aldo."
Reihan pun terkejut, dia hampir kehilangan keseimbangan. untung saja suasana jalan sedang sepi. Reihan meminggirkan motornya dengan napas menderu.
"Lo gak bercanda, kan?" tanya Reihan serius.
Audy menggeleng. "Gue tadi ke rumah Aldo. Dan, itu ternyata betul."
Reihan langsung terduduk lemas, wajahnya murung dengan tatapan sayu.
"Sabar, Rei." Audy memegang bahu Reihan, tapi Reihan menepisnya.
Suara bising kendaraan seolah tidak terdengar bagi Reihan. Yang ada hatinya benar-benar sakit. dia seolah berpikir keras, kepalanya tiba-tiba pusing. Reihan pingsan di tepi jalan.
Audy panik berusaha menolong pria yang di cintainya itu. Dia menelpone ambulance, motornya di titipkan di sebuah warung makan. Audy tidak bisa naik motor karena kejadian masa kecilnya jatuh di parit saat dari motor. Sejak saat itu dia tidak berani menaiki motor.
Tak berselang lama, ambulance datang. Reihan segera dibawanya. Audy setia menemani Reihan di dalam ambulance.
Di rumah sakit, dokter memberitahu Audy kalau Reihan hanya pingsan. Audy sedikit tenang, tapi apa yang dilakukan Audy terlalu belebihan. Audy masuk kamarnya Reihan. Duduk menunggu Reihan disampingnya.
Beberapa saat kemudian Reihan siuman. Tatapannya kosong saat menatap atap langit-langit rumah sakit. Reihan menoleh melihat Audy lamat-lamat tersenyum kepadanya.
"Dimana gue, Dy?" tanya Reihan lirih.
Reihan tampak terkejut. "Kok bisa."
"Tadi lo pingsan, panik 'kan gue. Langsung saja gue bawa lo ke rumah sakit."
"Motor gue mana, Dy?"
"Gue titipin di warung."
"Kenapa lo gak minta tolong sama orang disekitar situ saja sih, Dy."
"Gue panik, di pikiran gue cuma ada ambulance."
Reihan menghela napas, dia memaksa bangun. Namun, kepalanya masih terasa pusing. Audy membantunya bersandar.
"Jangan di paksakan, Rei?"
"Kapan Nadia akan menikah dengan Aldo?"
"Dalam minggu ini," jawab Audy
"Apa!" Teriak Reihan.
"Jangan keras-keras, ini rumah sakit," ucap Audy.
Reihan terdiam sejenak, lalu memperkecil nada bicaranya. "Kenapa lo baru bilang sama gue."
"Gue juga baru tau kemarin."
Reihan berdecak memegang keningnya.
"Lo harus lupain Nadia, Rei?"
__ADS_1
"Betul, gue harus ngelupain Nadia. Tapi, tidak semudah itu. Gue sudah lama suka sama Nadia," ucap Reihan.
"Gue bisa bantu lo ngelupain Nadia," ucap Audy.
Reihan menoleh. "Maksud lo."
"Mak-maksud gue ... kalau lo butuh bantuan jangan sungkan-sungkan bilang saja ke gue," alasan Audy.
Audy belum berani berkata terus terang tentang perasaannya.
Reihan tersenyum. "Lo memang teman gue yang paling baik, Dy."
Audy menyunggingkan senyum. "Gue pulang dulu ya, Rei."
"Mau kemana? Kalau lo ninggalin gue di sini. Gue juga ikut balik sama lo."
"Lo masih butuh waktu istirahat, Rei."
Reihan beranjak dari tempat tidurnya menghadap Audy. "Ayo."
"Yakin?"
Reihan menyunggingkan senyum sambil mengangguk. Audy dan Reihan berjalan beriringan segera menyelesaikan biaya administrasi. Mereka berdua menaiki taksi menuju warung makan tempat penitipan motornya Reihan.
"Maafin gue ya, Dy. Gara-gara gue kita gak jadi nongkrong di cafe," ucap Reihan saat di dalam taksi.
"Gak pa-pa, Rei. Lagian tujuan gue ketemu sama lo untuk bahas Nadia. Dan, itu sudah gue ungkapin ke lo."
"Lo gak curiga, Dy. Kenapa Nadia dan Aldo pengen cepet-cepet nikah?"
"Gue curiga, tapi gue gak bisa ngebuktiin. Gue pernah melihat Nadia mual beberapa kali, dari situ gue mulai curiga."
"Jangan-jangan Nadia hamil duluan?"
"Kemungkinan seperti itu, tapi gue gak mau berpikir buruk sama adik gue sebelum semua jelas," ucap Audy.
"Kalau nunggu semuanya jelas, lo akan terlambat," ucap Reihan.
"Tau deh, Rei." Audy pusing memegang ujung keningnya.
"Berhenti, Pak." seru Reihan.
Taksi berhenti di tempat Reihan pingsan. Mereka berdua berterima kasih kepada Ibu penjual warung karena telah bersedia menitipkan motornya Reihan.
Setelah percakapan panjang lebar, Audy dan Reihan pulang. Mereka saling melempar senyum satu sama lain. Wajah Audy bersemu merah, tidak biasanya Reihan tersenyum manis kepada Audy.
Di dalam rumah terlihat papa dan mamanya Audy sibuk membuat undangan.
"Sudah pulang, Dy. Sini bantuin Papa sama Mama," ucap Ayu.
Audy dengan malas ikut membantu membuat undangan.
"Kok kertas undangannya sedikit sih, Ma?"
"Kita hanya mengundang kerabat terdekat saja. Lagian pestanya gak besar," jawab Ayu.
Audy menoleh kiri-kanan. "Mama gak curiga sama Nadia."
"Curiga bagaimana?"
Audy berbisik. "Jangan-jangan Nadia hamil."
Ayu mengibaskan tangan. "Jangan berburuk sangka sama adik kamu. Gak baik."
Audy hanya menghela napas. Sebenarnya masih ada banyak hal yang harus dibicarakan. Tapi karena Mamanya tidak percaya. Ya sudah.
Bersambung ...
__ADS_1