
Levi melihat Aldo duduk sambil minum jus.
"Ada apa, Bos?" Levi menghampiri Aldo.
"Lo Awasi kelas Nadia. kalau dia sudah keluar kelas, kasih tau gue."
Levi pun heran. "Ngapain harus nunggu Nadia keluar kelas?"
"Sudah gak usah banyak tanya, lakukan saja," perintah Aldo.
"Siap, bos." Levi segera menjalankan perintah bosnya.
Sementara itu Reihan dan Audy sedang duduk di kursi taman siswa. Jam kuliah pak Bambang sudah selesai setengah jam yang lalu. Mereka berdua terbenam buku bacaan masing-masing. Reihan membaca buku tentang konspirasi, sedangkan Audy membaca buku tentang kemajuan jaman di tahun 2050.
Audy sesekali melirik Reihan yang terlihat serius membaca. Reihan memang suka alam. Bagi Reihan Alam Sudah menjadi orang tua kedua baginya. Siapa yang merawat alam maka alam akan merewatnya. Sebaliknya siapa yang merusak alam maka tunggulah bencana.
"Rei, sudah siang. Makan yuk!" ajak Audy.
"Sebentar, lagi seru nie."
"Lanjutin nanti 'kan bisa, Reihan ..."
"Gak bisa ... kalau dilanjut nanti gue bisa lupa."
Audy menyerah mengangkat bahu.
"Memang lo lapar?" tanya Reihan sambil membaca buku.
Audy mengangguk.
Reihan menutup buku bacaannya. "Ayo makan." Reihan beranjak dari tempat duduknya.
Audy kesal mengeraskan rahang, lalu mengejar Reihan yang sudah terlebih dulu berjalan.
Tepat jam istirahat makan siang, Levi memberitahu Aldo kalau Nadia sudah selesai jam kuliah. Aldo segera bergegas menemui Nadia.
Nadia terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa temannya. Aldo menghampiri Nadia, berdehem saat di depannya.
"Suami gue datang." Nadia tersenyum manis menyambut Aldo.
Aldo terpaksa tersenyum supaya tidak terlihat antagonis di depan teman Nadia.
"Pulang yuk," ucap Aldo lirih.
"Aku masih ada jam kuliah lagi, Sayang ...." Nadia melengkingkan suaranya.
Aldo terlihat risih berbisik kepada Nadia. "Lo bisa biasa saja gak sih."
Teman-teman Nadia terlihat menjauh memberikan ruang kepada sepasang suami istri itu.
"Kita bicara di luar saja," ucap Aldo.
"Oke." Nadia menyunggingkan senyum.
Mereka menuju taman siswa duduk di kursi panjang taman.
"Gue tau lo mau ngomong apa?" Nadia mulai berwajah ketus menatap Aldo.
"Lo ngapain sih ngadu sama bokap gue!"
__ADS_1
"Biar lo gak macem-macem sama gue!" tegas Nadia sambil merapikan rambutnya menggantung di belakang telinga.
"Bisa gak sih selesaikan urusan kita berdua. Gak usah libatin orang tua kita."
"Gak bisa. Karena cowok kayak lo harus ditegasin. Kalau gak gitu ngelunjak!" tegas Nadia.
"Oke aku minta maaf atas kejadian kemarin. Tapi, please jangan sangkutin orang tua kita lagi."
"Tergantung."
"Why?"
"Kalau lo bisa nepatin janji, gue gak bakalan ngadu sama bokap lo," ucap Nadia.
"Oke. Gue janji. Aldo menatap serius Nadia.
Nadia tertawa. "Ternyata lo begitu takutnya sama bokap lo. Gimana? Akting gue keren, kan?"
"Gak lucu," cibir Aldo.
"Dasar buaya penakut." Nadia balas mencibir Aldo.
Aldo mengibaskan tangan, berjalan meninggalkan Nadia.
"Gue lapar! belikan gue makanan!" teriak Nadia.
Aldo tidak menghiraukan teriakan Nadia.
"Kalau gak lo tau 'kan apa yang akan gue lakuin!"
Aldo berhenti, lalu berbalik menghampiri Nadia.
"Suami harus menuruti permintaan istrinya yang sedang hamil," balas Nadia.
Aldo mengela napas sambil mendongak. "Oke lo minta apa?"
"Soto tapi gak pakai ayam."
Aldo mengambil hp dari saku celananya. Namun, Nadia melarang Aldo. Nadia ingin Aldo yang mengantarkan makanan itu kesini.
"Kalau makanan itu gue racun gimana?" ancam Aldo.
"Terserah lo. Berarti lo sudah naik satu tingkat dari binatang menjadi iblis karena Renaldo promes telah meracuni istri dan jabang bayinya," jawab Nadia.
Aldo tersentak. "Oke. Lo tunggu di sini. Jangan kemana-mana."
Di kantin terlihat ramai oleh pengunjung. Aldo terpaksa mengantre, pemandangan yang tidak biasa bagi anak-anak kampus. Para pengunjung melihat heran Aldo yang mau mengantre. Audy dan Reihan yang duduk di meja pun merasa aneh dengan Aldo.
"Tumben dia mau ngantre," ucap Reihan pelan.
"Sudah ... jangan dibahas, nanti kalau dia dengar bisa marah," ucap Audy.
Reihan mengangkat dua alisnya, lalu melanjutkan makan siangnya. Sedangkan Aldo masih mengantre, dia terlihat cuek dilihat para mahasiswa yang makan disana.
"Aldo ngapain lo ngantri, biasanya juga nyuruh orang!" celetuk salah satu mahasiswa.
Aldo hanya melirik mahasiswa itu.
Tak berselang lama Aldo mendapat makanan yang dia inginkan. Aldo menuju ke taman siswa menemui Nadia.
__ADS_1
"Nie makanan buat lo," ucap Aldo.
"Makasih, ternyata perhatian juga ya lo," puji Nadia.
"Gue gak pengen saja, anak yang ada di dalam kandungan lo kelaparan." Aldo duduk disamping Nadia.
Nadia membuka makanan itu, lalu dimakannya perlahan.
"Tugas gue sudah selesai. Gue mau ke lapangan basket dulu." Aldo beranjak dari tempat duduknya.
"Ya sudah pergi sana. Enek gue lihat muka lo," cibir Nadia.
Flash Back On.
Sehari sebelum acara pernikahan, Nadia diam-diam menemui Om Tio di kantornya.
"Silahkan duduk Nadia," ucap pria dengan kumis tebal itu.
Nadia duduk di depan mejanya Tio.
"Apa yang bisa Om bantu?" tanya Tio.
"Ini tentang Aldo, Om."
"Maksud kamu?"
"Om tau 'kan kenapa Nadia dan Aldo memutuskan untuk segera menikah?"
Tio mengangguk.
"Nadia gak mau kalau pernikahan kita hanya sementara. Nadia pengen ngerubah Aldo supaya dia tidak main perempuan lagi dan setia sama Nadia. Maka dari itu Nadia butuh bantuan, Om?"
"Om paham maksud kamu, Nadia. Kamu mirip dengan almarhum istrinya, Om. Dulu Om juga sama seperti Aldo, tapi semenjak menikah dengan almarhum istri perlahan demi perlahan Om mulai berubah. Om akan berterima kasih sekali kalau kamu bisa mengubah sifat buruk Aldo," jelas Tio.
"Tapi, Om jangan menyuruh Aldo kuliah di Amerika."
"Itu bisa diatur," jawab Tio.
Nadia tersenyum tipis mengucapkan terima kasih
"Apa rencana kamu supaya Aldo berubah?" tanya Tio.
"Nadia sudah membuat surat perjanjian dengan Aldo, Om." Nadia menunjukan isi surat perjanjian itu.
Tio mulai membaca isi surat perjanjian itu. "Bagus. Dengan begini Aldo bisa kamu atur. Kalau kamu kesulitan Om bisa bantu kamu. Buat Aldo benar-benar jatuh cinta karena itu yang dilakukan almarhum mamanya Aldo kepada Om."
"Nadia akan berusaha, Om." Nadia berdiri dari kursinya, lalu pamit dengan Tio.
"Nadia?" panggil Tio.
Nadia menoleh.
"Apa kamu mencintai Aldo?"
Dengan senyum tipis Nadia mengangguk mantap. Tio ikut tersenyum melihat Nadia.
Flash Back Off.
Jam mata kuliah sudah selesai. Audy dan Reihan hendak pulang. Namun, seperti biasa Levi pengen ikut nebeng. Tentu saja Reihan menolaknya. Tingkah Levi benar-benar menjengkelkan, tapi dia tidak mudah tersinggung saat orang membulynya. Itulah kenapa Reihan dan Audy mau berteman dengan Levi.
__ADS_1
Bersambung ...