
Jalanan nenuju kampusnya Audy macet.
Audy menepuk punggung Reihan. "Kok lo berhenti sih?"
"Lo gak lihat di depan!" seru Reihan berusaha mengalahkan suara kendaraan yang saling bersahutan
Audy kesal sudah tidak tahan lagi. " Kenapa bisa macet sepanjang ini?"
"Lo mending numpang pup di rumah makan sana. Dari pada nanti mbleber di jalan," ucap Reihan.
Audy pun segera menyebrang jalan menuju rumah makan Padang. Audy membeli makanan sekaligus numpang buang air disana. Reihan menunggu di depan.
Sepuluh menit berlalu, Audy keluar dari rumah makan Padang. Reihan kesal melihat Audy merengek terus. Gara-gara Audy mereka terlambat ke kampus.
"Sudah puas," ucap Reihan.
Audy mengangguk sambil nyengir. "Ayo berangkat."
Reihan melajukan motor vespanya.
Sesampainya di kampus Audy dan Reihan bergegas menuju kelas. Namun, kelas sudah di kunci. Audy mengetuk pintu kelas berharap di izinkan masuk. Namun, dosen tidak mengizinkannya. Audy dan Reihan pun berjalan menuju kantin sambil menunggu mata kuliah yang berikutnya.
"Lo itu ada saja masalahnya ya," ucap Reihan berjalan beriringan dengan Audy.
"Gue gak tau kalau perut gue sakit. Ini gara-gara Nadia ngasih gue es cream tiga cup," ucap Audy.
"Terus tiga cup es cream itu lo habisin semua?" tanya Reihan kesal.
Audy mengangguk dengan wajah datar.
"Ya iyalah sakit perut, oncom! Berarti itu bukan salah adik lo, tapi lo yang rakus," cibir Reihan berjalan mendahului Audy.
Audy menghentikan langkahnya. "Yeee ... dari pada gak dimakan."
Sesampainya di kantin Audy melihat Nadia sedang becanda dengan teman-temannya. Audy menghampiri Nadia melipat kedua tangannya di dada sambil menatapnya tajam.
Nadia terheran dengan Kakaknya. "Kenapa, Kak?"
"Jangan sok lembut deh sama gue," ucap Audy.
"Ih ... apaan sih datang-datang gak jelas gini," ucap Nadia.
Teman-teman Nadia sedikit menjauh memberi ruang kepada adik dan kakak itu.
"Kemarin malam lo ngasih obat sakit perut 'kan di es cream itu. Pura-pura gantiin tiga cup es cream lagi," cibir Audy.
Nadia langsung tersulut enosinya, dia berdiri balik menatap tajam Audy. "Gue gak pernah sedikitpun kepikiran untuk nyelakain lo ya."
"Halah ... gak usah bohong deh! Buktinya gue sakit perut sampai terlambat masuk kelas."
"Ya karena lo makannya terlalu rakus!" sahut Nadia.
__ADS_1
Teman-teman Nadia bersorak meledek Audy dengan sebutan gendut. Suara itu menggema hingga memekakan telinganya.
"Apa kalian!" teriak Audy memutar badannya.
Audy terus disoraki seolah dia hanya iri dengan kecantikan adiknya. Audy pun berlari sambil menyeka pipinya. Reihan yang baru kembali dari toilet datang.
"Nadia, kakak lo kenapa?" tanya Reihan yang melihat Audy berlari menuju taman.
"Lo kerja gie, cuman lo yang bisa nenangin dia," ucap Nadia.
Reihan mengangguk mengejar Audy. Reihan melihat Audy duduk di taman siswa.
Reihan duduk disamping Audy, mendongak menatap langit berawan. "Kadang hidup memang tidak adil bagi kita, tapi selama kita mau bersabar menjalaninya, keadilan itu akan datang dengan sendirinya."
Audy menatap Reihan sambil terisak. "Tapi gue capek, Rei. Selalu dibanding-bandingkan dengan Nadia."
"Ini bukan salah Nadia atau siapapun. Ini salah kita sendiri yang tidak mau terbuka dengan keadaan sekitar."
Audy menghela napas. "Gue harus bagaimana sih, Rei. Agar mereka gak ngebully gue lagi?"
"Lo cukup menjadi diri lo sendiri saja, Dy. Lo itu sebenarnya cantik, cuma lo insecure sama diri lo sendiri."
Audy memperbaiki bando yang melingkar di kepalanya. "Apa gue harus kurus kayak Nadia?"
Reihan mengubah posisi duduknya menatap lekat Audy, lalu tersenyum mengusap rambutnya.
"Lo butuh sharing sama Nadia. Gue lihat Nadia gak ada benci sama lo. Mulai hari ini Lo harus membuka diri lo untuk Nadia," ucap Reihan menasehati Audy.
"Kenapa? Masih mikirin gengsi lo?"
Audy menatap Reihan, lalu memeluknya. Reihan tampak terkejut. Ini respon alami dari seorang perempuan yang merasa nyaman dengan seorang laki-laki.
Reihan dengan ragu membelai lembut punggung Audy. Nadia tiba-tiba datang duduk disamping Audy. Mereka berdua melepas pelukannya. Audy menyeka pipi.
"Kenapa lo kesini, mau nertawain gue lagi," ucap Audy sambil terisak.
Nadia terkekeh. "Kakak mah gitu?"
"Lo puaskan sekarang udah bikin gue nangis." Audy masih jutek dengan Adiknya.
Nadia tersenyum menatap Audy. "Nadia kesini mau minta maaf sama Kakak. Nadia tau selama ini Kak Audy risih karena selalu dibanding-bandingkan."
"Lo gak salah, yang salah Kakak, Nad? Kakak seharusnya gak iri sama kamu.
"Kakak gak salah, Nadia tau kak Audy masih perhatian sama Nadia. Buktinya setiap Nadia pinjam buku kakak sudah mempersiapkan di meja, bahkan kadang mengingatkan Nadia."
Audy menatap Nadia lekat, matanya berkaca-kaca, menggenang di sudut, lalu menetes di pipinya. Kakak beradik itu saling berpelukan. Reihan yang melihat pun ikut terharu.
"Nah ... gitu dong! kalau begini 'kan dilihatnya enak. Gak kayak kemarin berantem mulu kayak Tom and Jerry," ucap Reihan.
Audy berbalik tersenyum menatap Reihan.
__ADS_1
"Kita pulang bareng yuk, Kak!" ajak Nadia.
Audy tersenyum sambil mengangguk.
"Gue ditinggal nie?" canda Reihan.
"Untuk hari ini kita berpisah dulu ya, Reihan." Audy berjalan sambil melambai kecil ke arah Reihan.
"Jangan lupa besok pagi ada acara camping bersama." Reihan mengingatkan Audy.
"Beres." Audy berjalan sambil mengacungkan jempolnya.
Reihan pun kembali ke kantin untuk makan siang. Disana ada Aldo yang terlihat sedang mencari seseorang.
Reihan menepuk pundak Aldo. "Lo lagi nyari siapa?"
" Eh lo, Rei. Nyari Nadia kemana ya?"
Reihan duduk. "Nadia pulang bareng Audy."
"Ooo ... hah! Apa gue salah denger?"
"Bikin orang jantungan aja lo! Ya gak lah," jawab Reihan.
Aldo masih belum percaya apa yang dikatakan oleh Reihan. Aldo pun mencari di tempat lain.
"Mau kemana lo!" teriak Reihan.
Aldo tidak menggubrisnya, dia berjalan cepat menuju taman.
"Di bilangin gak percaya," gerutu Reihan sambil membuka bungkus krupuk.
Di rumah keluarga Lesmana Ayu tampak heran dengan keakraban dua putrinya yang saling bergandengan tangan.
"Kalian sudah pulang." Ayu melihat dengan tatapan tidak percaya.
Audy dan Nadia senyum-senyum sendiri melihat kebingungan mamanya.
"Mama kok lihatnya gitu," ucap Audy sambil tersenyum.
"Kalian tidak ngeprank Mama, Kan?" Ayu masih terlihat bingung.
"Ya gak lah, Ma ... masak Mamanya sendiri di prank. Kita beneran sudah baikan, Ma," ucap Nadia.
Ayu merasa lega. "Syukurlah kalau begitu, kalau begini 'kan Mama di rumah bisa tidur nyenyak."
"Memang selama ini Mama gak bisa tidur nyenyak?" tanya Audy.
Ayu tiba-tiba menatap sinis kepada kedua anaknya. "Gimana mau tidur nyenyak kalau setiap hari dengerin kalian berantem."
Bersambung ...
__ADS_1