
"Ya jelaslah ini urusan gue. Nadia adik gue!" hardik Audy.
Semua mata tertuju kepada Audy, Aldo dan Nadia.
Aldo dengan wajah geram pergi dari kelas Nadia.
"Lo gak pa-pa 'kan, Nad?" tanya Audy.
Nadia hanya bisa menunduk sambil terisak. Audy mengelus punggung adiknya berusaha menenangkannya.
Kini Audy mulai mengerti kalau Nadia sedang tidak baik-baik saja.
"Gue pergi dulu ya, Nad. Kalau ada apa-apa bilang saja ke gue." Audy pergi dari kelas Nadia.
Di sisi lain, Reihan sedang mencari Audy. Kata salah satu teman, Audy menuju ke arah kantin. Namun, Reihan tidak menemukan Audy. Yang ada dia malah ketemu sama Levi. Reihan sudah tidak mau lagi berbicara dengan Levi. Reihan segera berlalu dari kantin.
"Kemana sih nie anak." Reihan menyeka keningnya yang berkeringat.
"Dor ...!" Dari belakang Audy mengagetkan Reihan hingga dia terperanjat.
Reihan pun kesal melepas cakalan tangan Audy dari punggungnya. Audy tertawa lepas melihat expresi wajah Reihan.
"Bikin kaget saja lo!" cibir Reihan.
"Ya sorry ... gue lihat lo clingak-clinguk kayak orang cari rumah." Audy kembali tertawa
Reihan sebal mengacak-acak rambut Audy. "Gue nyariin lo."
"Oh my good ... seorang Reihan nyariin gue." Audy bergaya layaknya anak alay
"Jelek lo kalau kayak gitu."
"Terus kalau gue kayak gini cantik ya." Audy tersenyum sambil mengedipkan matanya secara cepat menghadap Reihan
Reihan menutup wajah Audy dengan tangannya. Audy segera berontak melepaskan tangan Reihan, lalu membersihkan wajahnya.
"Ihh ... nanti make up gue luntur gimana," cibir Audy.
"Biarin. Mana buku gue yang loe pinjem," ucap Reihan.
Audy dengan wajah cemberut mengambil bukunya Reihan dari dalam tas punggungnya, lalu memberikannya kepada Reihan.
"Ke kantin yuk!" ajak Reihan.
"Bentar lagi 'kan mau masuk, Reihan."
"Santai saja dosennya lagi absen, tadi gue sudah mengecek di kelas." Reihan secara sepihak merangkul Audy dan membawanya menuju kantin. Audy seperti terbius oleh Reihan jantungnya berdetak kencang. Audy semakin takut kehilangan Reihan.
Bagi Audy jatuh cinta adalah hal tersulit dalam hidupnya. Apalagi jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Audy hanya bisa menikmati hari-hari dengan Reihan sesederhsna ini. Tanpa berani melangkah lebih jauh lagi.
Reihan menghentikan langkahnya, lalu melepas rangkulannya.
"Kenapa, Rei?" tanya Audy pelan.
"Tu lihat." Reihan melihat Levi masih berada di kantin.
"Sudah gak pa-pa. Kalau dia ngomong jangan di dengerin."
__ADS_1
Reihan dan Audy duduk satu meja di sebelah pojok, menjauhi tempat duduknya Levi. Reihan memesan teh hangat Audy memesan jeruk hangat. Levi yang melihat Reihan dan Audy menghampirinya.
"Hay bro." Levi mengambil kursi sebelah meja, lalu duduk satu meja dengan Reihan dan Audy.
Reihan dan Audy tampak cuek sambil meminum minumannya masing-masing.
"Gue tau kalian marah sama gue. Gue kemarin cuma menjalankan tugas dari bos Aldo. Dimaafin ya." Levi mngulurkan tangannya.
Namun, Reihan dan Audy tetap tidak bergeming sampai minuman mereka habis. Reihan dan Audy beranjak dari tempatnya meninggalkan Levi.
"Heh, mau kemana? Kita belum selesai woy!"
Reihan dan Audy kembali ke kelas. Levi berdecak sambil mengibaskan tangannya di udara.
"Dasar tukang ngambek. Gue doain nanti kalian punya anak ngambekan!" seru Levi merapikan rambut klimis belah tengahnya.
...***...
Jam makan siang tiba, Audy mengajak Reihan ke kelas Nadia.
"Ngapain kesana, Dy?" tanya Reihan berjalan beriringan dengan Audy.
"Gue takut kalau Nadia dipaksa Aldo lagi."
"Memang masalahnya apa sih?"
"Sudahlah jangan banyak nanya, nanti lo juga bakalan tau," ucap Audy.
Reihan terdiam mengikuti langkah Audy.
"Nad, lo sudah makan?" tanya Audy saat berada di kelas Nadia.
"Lo kenapa, Nad? Pucat banget wajah lo?" tanya Reihan.
Nadia menyunggingkan senyum. "Gak pa-pa kok, Rei."
"Kakak beliin roti ya. Nad?"
"Gak usah, Kak."
Reihan dan Audy saling menatap bingung.
"Ya sudah kalau gitu, Kak mau ke kantin dulu. Nanti pulangnya bareng sama Kakak ya," ucap Audy.
Nadia mengangguk.
"Yuk, Rei. Audy dan Reihan Keluar kelas menuju kantin.
"Adik lo kenapa, gak biasanya dia diam," ucap Reihan.
"Gak tau gue, kelhatannya lagi marahan sama Aldo lagi."
Reihan mengangkat satu alisnya.
"Tadi pagi Aldo minta maaf sambil maksa Nadia gitu," ucap Audy.
"Hati-hati sama Aldo, dia itu buaya darat," ucap Reihan.
__ADS_1
"Sama kayak lo." Audy langsung berlalu mencari tempat duduk.
Reihan ikut duduk di depan Audy. "Enak saja. Mana pernah gue mainin cewek. Pacaran saja gak pernah."
"Lo kenapa gak cari pacar, Rei?" tanya Audy malu.
"Gue belum nemuin cewek yang pas," jawab Reihan.
"Memang kriteria lo kayak gimana sih?"
"Cantik, pinter, kulitnya putih sama terkenal."
Audy terkekeh. "pantas saja saja lo gak punya pacar. Kriteria lo ketinggian."
"Biarin, dari pada kerendahan."
"Di kampus ini ada yang lo incar gak?"
"Ada sih, cuma dia sudah punya pacar."
Audy bermuka masam. "Siapa?"
"Gak ah ... gue malu."
"Sudah katakan saja, kayak sama siapa saja." Audy mencoba memastikan.
"Tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya," ucap Reihan pelan.
Audy mengangguk. "Iya."
"Adik lo."
Deg ... jantung Audy seperti berhenti. Audy tdak menyangka kalau Reihan selama ini suka dengan Nadia. Audy mulai bingung apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus mengikuti salah satu pepatah pujangga, bahwa cinta tak harus memiliki. Audy sejenak mematung, menatap kosong ke depan.
"Audy. lo kenapa?" Reihan membangunkan lamunan Audy.
Audy tersenyum simpul. "Gak pa-pa. kaget saja dengernya."
"Siang-siang ngelamun, kesambet baru tau rasa lo," canda Reihan.
"Gu-gue ke belakang dulu ya, Rei.
"Mau kemana?" tanya Reihan.
"Sebentar saja nanti balik lagi." Audy pun menuju kamar mandi. Tanpa sadar bulir bening menetes di pipinya. Kalau saja yang dicintai Reihan bukan Nadia, dia tidak akan sesedih ini. Bahkan, dia akan bersaing dengan perempuan itu. Namun, Nadia adalah adiknya, gimana ini. Audy menyeka pipinya, lalu menuju wastafel mencuci wajahnya kembali ke tempat Reihan.
"Lama amat sih, Dy. Makanan lo sampai dingin tu," omel Reihan.
Audy tersenyum simpul duduk di depan Reihan. "Sory gue tadi kebelet."
"Lo 'kan sudah tau nie, kalau gue suka sama Nadia. Lo bantuin gue kek," ucap Reihan.
"Bantu gimana, Rei. Lo 'kan tau kalau Nadia itu punya Aldo." Audy merasakan sakit saat Reihan bilang seperti itu.
"Gimana kek. Gue jujur saja gak berani ngedeketin Nadia?"
"Kenapa? Lo tiap hari 'kan ke rumah gue."
__ADS_1
"Gue ke rumah lo 'kan cuma pengen jemput lo, Dy. Sambil sedikit ngelirik Nadia sih." Reihan tersenyum nyengir.
Bersambung ...