
Audy segera memberikan Vitamin K untuk meredakan gejala panas yang ada ditubuhnya Levi.
"Lo pasti ngerjain gue ya, Dy?" tebak Levi.
Audy membulatkan mata. "Sudah lo jangan banyak mikir dulu."
"Jadi ini ulah lo?" tuduh Reihan.
Audy segera berbalik badan menatap tajam Reihan. "Jangan nuduh sembarangan ya!"
Reihan tersentak mundur beberapa langkah sambil menelan ludahnya. Tanpa disadari Levi sudah tertidur. Obat yang diberikan Audy kepada Levi sudah bekerja. Audy terheran, kenapa Levi bisa secepat itu tertidur. Namun, Audy lega tidak terjadi apa-apa dengan Levi.
"Lo tunggu di sini sampai Levi bangun," ucap Audy kepada Reihan.
"Lo mau kemana?" tanya Reihan yang bersandar di dinding.
"Bukan urusan lo." Audy keluar dari ruang kesehatan.
Reihan dari sudut pintu melihat audy yang semakin menjauh dari netranya.
Audy hendak menunggu Ryan, dia sudah berjanji katanya ingin menemui Audy di taman siswa. Audy duduk sambil menunggu Ryan. Tak berselang lama Ryan datang membawa makanan untuk Audy.
"Hay sayang ...?" Ryan dan Audy saling cipika-cipiki, lalu duduk disamping Audy.
"Sudah lama nunggu!" tanya Ryan.
Audy tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ini aku bawakan makanan buat kamu." Ryan memberikan satu kotak makanan kepada Audy.
"Kok di taruh, dimakan dong," ucap Ryan saat Audy menaruh makanan kotak di sampingnya.
"Nanti saja, tadi aku sudah makan," jawab Audy.
"Oya ... aku ingin bicara sama kamu," ucap Ryan terlihat bersemangat.
"Jangan bilang kamu mau nikahin aku." Wajah Audy terlihat riang.
Ryan tersenyum simpul. "Bukan itu, sayang. Aku ingin bertanya sama kamu tentang kejadian kemarin saat kita berada di cafe. Kamu tau apa yang terjadi?"
Audy memasang wajah lugu sambil memajukan bibir bawahnya. "Kemarin siang itu?"
Ryan mengangguk.
"Kemarin setelah minum aku tertidur di lantai, setelah aku bangun kamu juga tertidur. Aku kira kamu kelelahan, jadi aku gak bangunin kamu," ucap Audy.
Ryan menatap Lekat wajah Audy cukup lama, lalu dia tersenyum.
Audy menaikan kedua alisnya sambil memegang pipinya. "Kenapa? Pipiku tembem ya?"
Ryan tersenyum menatap Audy. Dia tidak tahan melihat wajah imut Audy. Ryan mendekatkat bibirnya, tapi Audy segera mencegahnya dengan alasan dilihat banyak orang.
Ryan sedikit kesal. "Nanti malam kita jalan yuk!"
"Nanti malam aku sibuk, Yang? Tau sendiri minggu depan aku mau KKN."
__ADS_1
Ryan berdecak, wajahnya terlihat kecewa.
"Kamu gak marah, kan!"
"Kamu KKN sampai kapan?" tanya Ryan.
"Mungkin sebulan."
"Berarti selama sebulan aku gak bisa ketemu sama kamu."
"Kan kita bisa telponan, sayang." Audy mengelus pundak Ryan.
"Aku butuh kehangatan. Kalau aku tidak bertemu langsung sama kamu selama sebulan. Dedekku bisa berontak," ucap Ryan.
Audy mengehela napas. "Kan bisa ke kamar mandi dulu?"
"Kamu mau aku main sama wanita lain."
"Dasar laki-laki brengsek. Sudah punya istri masih saja gatal. Awas saja, sebentar lagi gue bongkar kebusukan lo di depan istri," batin audy menatap sinis Ryan.
Audy pura-pura menangis. "Jangan dong, sayang. Aku gak mau di duain. Aku janji selepas KKN aku gak bakalan ngecewain kamu."
Ryan menatap Audy. "Janji ya."
Audy mengangguk sambil memasang mata sembab.
"Ya sudah aku balik dulu. Jaga dirimu disana ya." Ryan mengecup kening Audy.
Audy segera mengusap bekas ciuman Ryan pakai tisu basah sambil memasang wajah jijik saat Ryan sudah jauh.
Audy kembali ke ruang kesehatan. Reihan masih menjaga Levi dengan baik. Audy tersenyum tipis menatap Reihan yang sedang duduk di dekat Levi.
"Ngapain lo kesini lagi?" tanya Reihan kesal.
audy menghela napas sambil melipat kedua tangannya. "Bagaimanapun juga Levi kayak gini gara-gara gue, jadi gak salah dong gue datang kesini sebagai tanggung jawab gue."
Reihan berdiri dari tempat duduknya menatap tajam Audy. "Lo sudah kelewatan."
"Yang kelewatan itu lo, Rei." Audy duduk di tempat duduknya Reihan.
Reihan mengangkat satu alisnya.
"Lo jadi orang gak pernah bisa menyikapi masalah dengan dewasa."
Reihan semakin tidak mengerti. "Lo jangan membuat gue simpati sama lo lagi ya. Gak akan!"
"Lo tu siapa sih, Rei. Jangan sok-sok an deh jadi orang. Gue bisa kali dapetin sepuluh cowok kayak lo." Audy berdiri tersenyum sinis menatap Reihan.
Reihan menatap tajam sambil mengepalkan tangannya hingga terlihat otot yang kekar di sekitar tangannya.
"Kenapa? Lo dendam sama gue." Audy menantang Reihan.
Namun, Reihan hanya bisa pergi menendang pintu, menahan amarahnya. Audy melakukan ini supaya Reihan pergi dari ruangan kesehatan. Audy ingin berbicara dengan Levi. Ini sudah sore, harusnya efek samping obat perangsangnya sudah tidak bekerja lagi.
"Lev, bangun." Audy membangunkan Levi.
__ADS_1
"Dimana gue?" Levi tampak samar menatap. Kacamata tebalnya ada di meja samping tempat tidur. Audy membantu memakaikannya.
"Levi ini gue."
"Ngapain lo ada di sini, kenapa juga gue ada di sini?" Levi masih tampak bingung.
"Sudah ... kalau di ceritain panjang. Gue mau ngomong sama lo," ucap Audy.
Levi terbangun, lalu bersandar. "Apa?"
"Masukin gue jadi kelompok KKN lo."
"Ooo ... kirain apaan. Itu mah gampang, nanti gue bilangin sama Reihan dan Vita," balas Audy.
"Gak usah bilang sama Reihan, nanti dia bisa marah," ucap Audy.
"Nanti dia juga bakalan tau, kan?"
"Sudah lo ikutin perintah gue. Gak usah bilang ke Reihan." Audy memberikan uang setatus ribu kepada Levi.
Levi tersenyum lebar menerima uang itu. "Lo memang tau apa yang gue butuhin."
"Ya sudah, gue pulang dulu ya?"
"Bareng dong, lo tega ninggalin gue sendirian," ucap Levi.
Audy memutar bola matanya. "Ya sudah ayo."
Di tempat lain, Aldo sedang berada di tempatnya Ryan tanpa memberitahu Nadia. Dia sedang menunggu Amanda yang hendak menuju kesini. Ryan datang duduk di meja Aldo.
"Kenapa lo? Murung amat tu muka?" tanya Aldo.
"Istri gue mau balik kesini," jawab Ryan lirih.
"What ...!" Aldo terkaget. "Tante Sonia mau kesini!"
Ryan mendekatkan jari telunjuk di mulutnya menyuruh Aldo untuk memelankan nada suaranya.
"Kapan?" tanya Aldo lirih.
"Hari minggu gue jemput dia ke Bandara."
"Aldo terkekeh. "Kalau urusan ini, gue gak bisa bantu lo."
"Rese lo!" cibir Ryan.
Tak berselang lama Amanda datang dengan gaya berjalannya bak seorang model.
"Sayang ... sudah lama menunggu ya." Amanda langsung menyosor pipi Aldo.
Ryan yang melihat Amanda merasa jengah, dia pun beranjak pergi beralasan sedang banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
Amanda duduk di samping Aldo. "Kamu sudah pesan makanan?"
Aldo menggeleng sambil menjawil dagu Amanda.
__ADS_1
Bersambung ...