Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Tuntutan Nadia.


__ADS_3

Audy kebetulan melihat Reihan yang sedang berolah raga. Dengan wajah sumringah Audy menyapanya. Reihan balas menyapa dengan hangat.


"Lo olah raga juga, Rei?" tanya Audy.


"Iya, dong. Anak gunung harus punya stamina yang kuat."


Audy tersenyum. "Gue duluan ya, Rei."


"Ngapain ... bareng lah kita." Reihan berlari kecil beriringan dengan Audy. Wajah Audy terlihat bersemu merah. Tak henti Audy melirikkan matanya ke arah Reihan.


Namun, Reihan tidak pernah melirik Audy. Wajahnya fokus ke depan berputar mengelilingi lapangan. Baru setengah putaran Audy terjatuh karena tidak fokus. Reihan dengan sigap menangkap tubuh Audy.


Tubuh Audy bergelendotan, mata mereka berdua saling bertemu menatap satu sama lain. Waktu seolah berhenti bagi Audy, dia terlihat nyaman dengan posisi seperti ini.


"Lo gak pa-pa, Dy?" Reihan membuyarkan lamunan Audy.


Audy segera bangkit, lalu menjawab pertanyaan dari Reihan.


"Gak ada yang cedera, kan?" Reihan melihat kaki Audy.


"Gak ada hanya kepleset saja tadi." Audy menjadi gugup.


"Lanjut yuk!"


Audy mengangguk, kembali berlari dengan Reihan.


Setelah lima putaran Audy dan Reihan duduk di kursi panjang sambil meminum air mineral.


"Lo makin lincah saja, Dy." Reihan memuji Audy.


"Biasa saja, kalau kita latihan terus lama-lama juga terbiasa.


"Emang tiap hari lo olah raga di sini?"


"Gak juga."


"Terus."


"Tiap hari gue 'kan dibuat emosi sama Levi, itu baik untuk mengatur napas."


Mereka berdua tertawa.


"Levi memang orang paling nyebelin se dunia, cuma kalau gak ada dia suasana gak rame," ucap Reihan.


"Betul tu. cuma tu bocah kalau sudah ngeselin pengen gue jambak saja rambutnya."


Reihan tertawa. "Lagian rambut bagus kayak gitu di buat belah tengah, pakai minyak kemiri lagi biar klimis."


Mereka berdua saling tertawa membicarakan Levi.


"Ya sudah, Dy. Gue pulang dulu sudah mau siang nie."


"Gue juga mau pulang." Audy beranjak dari tempat duduknya. Mereka berdua berpisah saat berada di pertigaan jalan.

__ADS_1


Audy melihat papa dan mamanya berdandan rapi sambil memanaskan mobil.


"Widih ... anak papa habis joging cerah sekali wajahnya," ucap Reno.


Audy menyunggingkan senyum.


"Pasti olah raganya sama gebetan," goda Ayu.


"Ihh ... mama ini." Wajah Audy bersemu merah, lalu masuk ke rumah.


Ayu dan Reno pun tertawa melihat tingkah anak sulungnya itu.


Di meja makan Audy kembali mendengar Nadia mual dari kamarnya. Audy dengan segera mengetuk pintu kamar Nadia.


Cukup lama Nadia membuka pintu kamar sampai dia tersenyum melihat Audy.


"Lo kenapa sih, Nad. Kakak sudah beberapa kali ngelihat lo mual." Wajah Audy menyelidik.


"Gak pa-pa, Kak. Nadia cuma alergi saja dengan udara. Jadi kalau Nadia terlalu bersemangat itu bisa mual."


"Sejak kapan kamu alergi dengan udara? Sebelumnya gak pernah?"


Nadia hanya menyunggingkan senyum, lalu menutup pintu kamarnya.


"Nadia Kakak belum salesai bicara!" seru Audy mengetuk pintu kamar adiknya.


Nadia berdiri di balik pintu sambil terisak. Haruskah Nadia berterus terang kepada Kakaknya. Tapi, Nadia masih takut menerima semua ini.


Audy masih berdiri di depan pintu kamar Nadia. Kali ini dia sengaja tidak mengetuk pintu. Audy akan mencari tau sendiri, ini pasti ada hubungannya dengan Aldo. Audy naik ke atas menuju kamarnya.


Di saat bersamaan Aldo datang menemui Nadia. Nadia sengaja menghubungi Aldo untuk menyelesaikan masalah bagaimana baiknya. Aldo menunggu di depan rumah. Nadia dengan langkah cepat menghampiri Aldo, lalu segera masuk mobil.


"Kita mau kemana, sayang?" Aldo tersenyum memegang pipi Nadia.


"Terserah kamu saja, yang penting aman," jawab Nadia.


Selama Audy pergi camping. Aldo sudah beberapa kali ke rumah menemui Nadia. Bagi Aldo itu kesempatan nya supaya bisa tidur bareng dengan Nadia lagi. Namun, rencana itu selalu gagal. Nadia sudah tau jalan pikiran Aldo.


Aldo mengajak Nadia ke cafeshop milik Ryan. Teman basketnya Aldo. Mereka berdua duduk lesehan di meja panjang dan karpet hijau di lantai.


"Kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Aldo ramah.


"Apa saja," jawab Nadia.


"Cappucino panas dua sama sama roti bakar," ucap Aldo kepada pelayan cafe.


Nadia menatap tajam Aldo. "Gue mau ngomong masalah kehamilan gue."


"Kenapa lagi ... kan sudah jelas. Gue akan tanggung jawab atas kehamilan lo, Nadia."


"Gak semudah itu. Gimana Kalau keluarga gue tau duluan kalau gue hamil anak lo."


"Ya jangan sampai tau dong, sayang? Itu 'kan sudah menjadi kesepakatan kita."

__ADS_1


Nadia tersenyum sinis. "Lo gak pernah mikir ya, perut gue semakin hari akan semakin membesar. Itu pasti akan mengundang kecurigaan mereka. Apalagi Kak Audy sudah curiga karena akhir-akhir ini gue ketahuan mual."


"Terus mau lo gimana?"


"Gue mau nikah sama lo secepatnya. Minimal sampai anak ini lahir," jawab Nadia.


Aldo menggeleng. "Gak ... aku belum siap kalau nikah sekarang."


"Kenapa? Lo gak mau tanggung jawab."


"Aku bukannya gak mau tanggung jawab, tapi aku belum siap kalau nikah sekarang."


"Kenapa?" Nadia meninggikan suaranya.


Aldo sedikit panik menenangkan Nadia karena pengunjung cafe menoleh ke arah mereka saat Nadia meninggikan suaranya.


"Gue belum siap, Nad." Aldo berkata pelan.


"Gue gak bisa ngebayangin kalau keluarga gue tau kalau gue hamil," ucap Nadia terisak.


"Gimana kalau lo pindah kampus yang jauh dari rumah. Di Bandung misalnya. Nanti kamu bisa nempati apartement milik bokap gue supaya kandungan lo tidak di ketahui sama keluarga," ucap Aldo.


"Gak mau."


Aldo terlihat bingung menjambak rambutnya. "Mau lo gimana sih, Nad? itu solusi yang tepat."


"Mau gue, lo nikahin gue secepatnya, atau kalau gak gue laporin lo ke polisi karena telah ngejebak gue."


Aldo mengeraskan rahang. "Oke ... kasih gue waktu seminggu."


"Oke ... sebelum masuk semester baru. Lo harus nikahin gue."


Aldo mengangkat tangannya, dia tidak punya pilihan lain.


"Anterin gue pulang." Nadia dan Aldo beranjak dari tempatnya.


Di saat bersamaan, Reihan dan Audy datang.


"Nadia ... lo di sini juga." Audy menyapa Nadia


Nadia agak kaku melihat Audy. "Iya, Kak. Cuma ngobrol sebentar saja. Ini mau pulang."


"O ... ya sudah. Jagain adik gue. Awas lo mainin dia," ancam Audy.


Aldo hanya menatap sinis Audy.


"Ya sudah, Kak. Kita pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati." Audy menatap punggung Nadia.


"Lo gimana sih, Do. Katanya aman. Hampir saja gue ketahuan sama kak Audy," cibir Nadia.


Aldo berdecak kesal masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sedangkan di cafe, Reihan terlihat cemburu karena Nadia begitu akrab dengan Aldo.


Bersambung ...


__ADS_2