
Satu minggu berlalu, kegiatan camping di bumi Bogor sudah selesai. Reihan dan Audy bersiap untuk kembali ke Jakarta. Levi masih sakit, selama satu minggu ini dia hanya tertidur di tenda.
Levi duduk di samping supir memakai jaket tebal, padahal cuaca saat itu terik. Suasana mobil compi terlihat sepi. Mereka semua terlihat kelelahan, tidur di mobil compi yang berjalan.
Dua jam sudah berlalu, pak supir membangunkan Reihan dan kawan-kawan. Menurunkan tas ranselnya masing-masing. Levi masih malas bergerak dati tempat duduknya, badan terasa pegal katanya.
Reihan mendesak Levi untuk turun, tapi seruannya tetap tidak diacuhkan. Hingga pak supir mengancamnya turun, barulah Levi mau turun. Pria kurus menyebalkan itu memang selalu buat masalah.
Levi tidak pernah bekerja dengan baik, kecuali jika Aldo yang menyuruh. Dengan segera Levi melaksanakan perintahnya. Mungkin Levi merasa berterima kadih kepadabkeluarga Aldo yang sering membantunya.
"Di bilangin susah sih!" cibir Audy.
"Orang lagi sakit dipaksa-paksa, nunggu satu jam kek," ucap Levi.
"Lo pikir hotel apa." Audy menonyor kepala Levi.
"Anterin gue pulang dong, badan gue lemes banget nie?" pinta Levi kepada Reihan.
"Ogah, Kapok gue nganterin lo," jawab Reihan.
"Yaela ... tega amat sama teman yang lagi sakit," ucap Levi dengan wajah sayu.
"Sakit gitu saja manjanya minta ampun," cibir Reihan.
Levi terlihat kehilangan keseimbangan, dia tejatuh di Aula kampus. Audy dan Reihan pun panik menidurkan Levi di kursi panjang.
"Nie anak bikin susah mulu," umpat Audy.
"Pingsan beneran nie dia, mukanya pucat gitu," ucap Reihan.
"Terus gimana, Rei.?" tanya Audy.
"Kasih minyak Angin," ucap Reihan.
Audy mengambil minyak angin di dalam tas, lalu memberikan kepada Reihan. Reihan mengoleskan minyak angin itu di bawah lubang hidung Levi. Beberapa menit kemudian Levi terbangun.
"Dimana ini?" Levi mengigau.
"Di akherat, lo sudah mati," jawab Audy kesal.
"Levi kembali pingsan."
"Kok pingsan lagi sih." riuh audy.
"Lo sih ngomongnya sembarangan, pingsan lagi, kan." Reihan menyalahkan Audy.
"Nyusahin amat sih lo," cibir Audy
"Kita anterin sajalah ke rumahnya pakai taksi."
"Pakai duit siapa?" tanya Audy.
"Pakai duit lo lah, duit gue sudah habis," jawab Reihan.
__ADS_1
Audy dengan wajah cemberut memesan taksi online untuk Levi. Tak berselang lama Taksi online sudah berada di depan Aula kampus.
"Barang kita taruh sini dulu sajalah, nanti balik lagi."
Audy mengangguk. Levi dibawa masuk pak supir dan Reihan menuju taksi.
"Temannya kenapa, Mas?" tanya supir taksi.
"Pingsan, Pak." Reihan yang menjawabnya.
Taksi melaju menuju tempat tinggal Levi. Levi terlihat kembali tidur pulas disertai mengorok.
"Dasar bangor," cibir Audy yang duduk disamping supir.
Tak berselang lama, taksi sudah sampai di depan gapura perumahannya.
"Levi bangun, sudah sampai nie." Reihan membangunkan Levi.
Levi langsung terbangun. "Sudah sampai ya, makasih ya sudah di antar."
Audy dan Reihan sejenak mematung menatap Levi.
"Ambilin tas gue, dong!" perintah Levi.
Reihan mengambil tas Levi yang ada di jok paling belakang. Mereka berdua masih mematung menatap kosong. Reihan dan Audy baru sadar saat Levi keluar menutup pintu mobil.
"Levi katanya lo sakit!" teriak Audy sambil membuka kaca mobil, Audy begitu kesal.
"Sudah sembuh." jawab Levi tanpa melihat ke belakang.
"Kenapa dari tadi kita gak tau ya," ucap Reihan.
"Levi itu memang pintar bohongin temannya sendiri," balas Audy.
Supir taksi hanya senyum-senyum sendiri melihat kelakar mereka berdua. Audy dan Reihan kembali ke kampus untuk mengambil barang bawaan. Badan mereka sudah sangat lelah, tapi mereka berdua mendapat kepuasan batin yang esok akan di ceritakan anak cucu.
Di mobil Audy dan Reihan tertidur saling bersandar kepala. Pak supir membangunkan mereka saat mobil sudah sampai di depan rumah. Audy dan Reihan saling menatap dan tersenyum satu sama lain saat kepala mereka saling berbenturan.
Audy membayar ongkos taksi saat keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada pak supir. Reihan mengambil motornya yang ada di rumah di rumah Audy.
"Makasih ya, Dy."
Audy tersenyum menatap Reihan. Masih ada dua minggu libur panjang. Audy ingin berolah raga supaya badannya lebih proporsional.
Rumah terlihat sepi, mamanya pasti ke toko kue karena mobilnya juga tidak ada di garasi. Audy masuk rumah dan mendengar suara seorang sedang mual. Audy melihat Nadia muntah di wastafel dekat kamar mandi.
"Nad, lo sakit?" tanya Audy sambil menghampiri Nadia.
Nadia menggeleng sambil menelan ludah, lalu masuk kamar. Audy merasa ada yang tidak beres dengan adiknya. Namun, Audy berusaha menghilangkan pikiran negatifnya. Ini kali kedua Audy melihat Nadia mual.
Bersambung ...
Malam harinya, Reno Ayah kandung Audy dan Nadia datang. Ayu menyambutnya dengan suka cita. Audy turun dari tangga menyapa manja papanya.
__ADS_1
"Papa lama banget sih pulangnya."
Reno terkekeh. "Maaf, Nak. Papa sibuk."
Audy memeluk papanya. "Papa berapa lama ke rumah?"
"Satu bulan." Reno menjawil hidung mancung Audy.
Audy kegirangan. "Berarti lama dong!"
Reno tersenyum memegang kedua lengan Audy. "Anak papa makin cantik saja."
Audy menyunggingkan senyum. "Siapa dulu dong papanya, papa Reno."
Reno tertawa melepaskan cakalan tangannya. "Nadia mana, Ma?"
"Ada di kamar, sebentar Mama panggilkan." Ayu mengetuk kamar Nadia.
Nadia keluar, wajahnya terlihat pucat. "Ada apa, Ma.
"Papa kamu datang, disambut gie."
"O ya!" Nadia segera keluar menyambut papanya.
"Anak bungsu Papa keluar juga dari kamarnya."
Nadia memeluk papanya. "Papa baru datang atau sudah dari tadi."
"Baru, Nak. Kamu di kamar terus sih." Reno mencubit hidung Nadia.
"Nadia di kamar 'kan buat konten, Pa. Lumayan buat uang jajan."
"Ya sudah, ayo kita makan malam, Mama sudah siapin semuanya."
Pagi harinya Audy terlihat sudah siap dengan pakaian olah raganya.
"Mau olah raga?" tebak Reno saat melihat Audy.
"Iya dong, Pa ..."
"Anak papa sudah banyak kemajuan rupanya, pasti lagi naksir cowok ya," tebak Reno.
Audy terperanjat tersenyum nyengir. "Ya gak lah, Pa. Audy olah raga biar sehat saja."
"Kalau iya juga gak pa-pa, lagian kamu 'kan sudah besar."
"Audy mau kuliah serius dulu saja, Pa." Audy beralasan.
"Bagus kalau gitu."
Audy tersenyum. "Audy berangkat dulu ya, Pa."
Reno mengangguk sambil membaca koran. Kenapa sih, semua orang bisa menebak perasaan Audy. Padahal Audy tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaan nya kepada Reihan. Audy belum siap menerima kalau dia sedang jatuh cinta dengan Reihan. Itu sebabnya dia menyembunyikannya.
__ADS_1
Bersambung ...