
Esok harinya Audy berdiri di depan rumahnya, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Dari kejauhan, sebuah motor vespa menuju ke arah Audy. Audy mencoba menghentikan motor itu, motor vespa itu berhenti.
"Bonceng dong," ucap Audy tanpa basa-basi.
Seorang yang menaiki motor vespa itu terkejut.
"Lo kenapa bengong?"
Pria itu pun tersadar dari lamunannya. Tanpa pikir panjang pria itu langsung mempersilahkan Audy duduk di belakang motornya.
Audy duduk dengan posisi miring, walaupun hari ini dia memakai celana skinny. "Gue gak pake helm gak pa-pa, kan?"
"Gak pa-pa," jawab pria itu.
"O iya, Rei. Nanti bantuin gue dong buat skripsi awal," pinta Audy.
"Boleh, kapan?"
"Nanti siang jam istirahat."
Reihan pun menyetujuinya. Jantungnya Reihan sedari tadi berdegup dengan kencang. tangan gemetar, tapi dia berusaha mengendalikan motornya supaya tetap seimbang.
Di kampus, Nadia terlihat sedang mencari Aldo.
"Levi!" panggil Nadia.
Levi menoleh, menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Lo lihat Aldo gak?" tanya Nadia saat menghampiri Levi.
"Gak lihat," jawab Levi singkat.
Nadia tampak berwajah sendu, khawatir Aldo kenapa-napa.
"Gue ke kelas dulu ya." Levi menuju kelasnya.
Levi sebenarnya kasihan melihat Nadia. Namun, dia sudah berjanji untuk tidak memberitahu keberadaan Aldo kepada siapapun.
Sedangkan Aldo baru mau berangkat ke kampus. Pagi ini dia tidak ada jam kelas, siang baru ada. Aldo mencoba memulai hidup baru. Amanda sudah tidak ada lagi dalam kamusnya. Kini dia fokus memperbaiki diri.
mobilnya di jual, sebagian uangnya dibelikan motor, sebagian lagi untuk keperluan sehari-hari. Ini hari pertama Aldo berangkat ke kampus menaiki motor.
Sedangkan Reihan tengah asyik membantu Audy membuat skripsi. Reihan mulai terbiasa dengan Audy, sesekali dia bercanda untuk mencairkan suasana. Tiba-tiba Audy merasakan mual.
"Lo kenapa, Dy?" Reihan terlihat panik.
"Gak pa-pa, mungkin lagi masuk angin." Audy menyembunyikan sesuatu dari Reihan.
"Kalau sakit istirahat dulu saja, nanti skripsi lo biar gue yang ngerjain," ucap Reihan.
__ADS_1
Audy menggeleng. "Gak usah, gue gak mau ngrepotin lo."
"Gak pa-pa, gue ikhlas ngelakuinnya," desak Reihan.
Audy langsung menonyor kepala Reihan. "Lo jadi cowok jangan goblok gitu dong. Mau saja dimanfaatin demi mendapat simpati."
Audy pun langsung pergi dari hadapan Reihan. Reihan masih belum mengerti mengapa Audy tiba-tiba marah. Padahal dia berniat baik ingin membantunya.
Audy menuju kamar mandi mencuci wajahnya. Dia mamandangi cermin dengan tatapan tajam. Audy takut kalau dia hamil. Kalau dia hamil siapa yang akan bertanggung jawab. Audy tidak sudi jika dia harus menikah dengan Ryan.
Audy hari itu juga izin pulang, dia bergegas membeli tes pack untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak.
Rumah Audy kebetulan masih sepi. Papa dan mamanya masih sibuk kerja. Dia mulai menggunakan benda panjang tipis itu. beberapa detik kemudian warna merah muda begaris satu. Audy tampak lega, ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi.
Aldo terlihat memarkirkan motornya dengan sempurna. Teman satu angkatannya terlihat heran, baru kali ini melihat Aldo memakai motor.
Aldo berjalan melihat Reihan sedang berjalan ke arahnya. Wajah Reihan terlihat dingin jika melihat Aldo.
"Reihan ..." sapa Aldo.
Reihan menghentikan langkah. "Ngapain lo manggil-manggil gue."
Aldo tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. "Gue minta maaf sama lo karena selama ini berbuat gak baik sama lo."
Reihan tersenyum sinis. "Sudah sandiwaranya."
Aldo hanya terdiam menatap punggung Reihan yang semakin jauh. Reihan wajar melakukan ini kepadanya, selama ini dia selalu mencuranginya.
"Nadia." Aldo terlihat salah tingkah, dia terlalu malu untuk bertemu dengan Nadia.
"Kamu kemana saja?" tanya Nadia dengan napas yang menderu.
Aldo tersenyum simpul. "Aku lagi ada urusan."
"Tas, handpone dan buku kamu ada di kelasku. Tadi aku seharian nyariin kamu."
Aldo termangu, Walaupun Aldo sering menyakiti Nadia, tapi dia masih saja baik dengannya. Aldo semakin berpikir kalau Nadia terlalu baik untuknya.
"Aldo ...." Nadia menepuk lengan Aldo.
Aldo tersadar.
"Kamu kenapa?"
"Gak pa-pa, aku hanya kecapean saja," alasan Aldo.
Nadia berjalan diikuti Aldo. Mereka saling diam, tapi hati mereka ingin sekali bertanya tentang banyak hal. Nadia melihat Aldo terlihat sederhana dan tenang. Sedangkan, Aldo berharap Nadia memaafkannya.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Nadia.
"Di rumah teman," jawab Aldo.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak pulang." Nadia berkata lirih.
"Pulang kemana?"
"Pulang ke rumah ku."
Aldo menatap lekat Nadia, lalu memegang kedua lengannya. "Aku sudah di usir sama papa Reno. Terima kasih selama ini kamu sudah percaya denganku."
Nadia terisak. "Haruskah kita seperti ini?"
"Aku tidak tau, aku akan berusaha membuktikan kepada papa dan om Reno," ucap Aldo dengan suara gemetar.
Nadia tertunduk, Nadia ingin sekali membantu Aldo, tapi dalam hatinya berkata jangan. Aldo merendahkan tubuhnya, mencium perut Nadia yang semakin besar. Nadia menangis, baru kali ini Aldo mencium perutnya.
"Jaga bayi kita ya," ucap Aldo lirih.
Nadia mengangguk pelan sambil terisak.
"Aku akan membuktikan kepada papa kamu, kalau aku akan berhasil." Aldo berlalu dari hadapan Nadia.
...***...
Sore harinya, Reihan berniat untuk mengajak Audy pulang bersama. Namun, Audy menolaknya.
"Sorry ya, gue ada urusan."
"Lo masih marah sama gue, Dy?"
Audy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Terus kenapa lo gak mau pulang sama gue."
Audy menghela napas. "Gak mau pulang bareng bukan berarti gue marah sama lo. Gue ada urusan, Reihan.
"Ya sudah lo mau kemana biar gue antar."
Audy tampak jengah dengan sikap kekanak-kakaknya Reihan. "Gak perlu ...."
"Berarti lo marah sama gue ..."
Audy mendelik ke arah Reihan. "Iya kali ini gue marah sama lo. Puas lo! Bisa gak sih lo bersikap dewasa sedikit saja."
Reihan mulai takut, tanpa diminta dia menjauh dari Audy. Namun, Reihan masih penasaran apa yang hendak dilakukan Audy. Reihan memutuskan untuk mengikuti Audy. Dia curiga jangan-jangan Audy mau ke tempat Ryan.
Audy memang ingin ke tempat Ryan, dia belum puas kalau dia belum membongkar kebohongan Ryan di depan Sonia. Audy harus berhati-hati jika masuk ke cafenya Ryan. Banyak cctv disana.
Audy menunggu di depan cafe sambil berharap sonia keluar. Lama Audy disana Sonia belum keluar juga, hingga malam setelah magrib, Audy melihat Sonia dngan Ryan. Ini waktu yang tidak tepat, Audy ingin berbicara empat mata dengan Sonia.
Audy memutuskan mengikuti mobilnya Ryan menggunakan taksi. Ryan berhenti di sebuah restoran, perut Audy jadi ikut lapar. Reihan diam-diam mengikuti Audy sambil memberi Audy berger supaya perut Audy terisi.
Bersambung ...
__ADS_1