Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Terlihat Tampan.


__ADS_3

"Itu lebih masuk akal," ucap Levi.


"Oke. Gue gak masalah."


"Jangan lupa lo berpenampilan seganteng mungkin, biar lo jadi pusat perhatian," ucap Audy.


Aldo mengangguk.


"Gue saranin lo minta bantuan sama bokap lo, gue yakin beliau gak keberatan."


Aldo menunduk tampak ragu.


Levi menepuk pundak Aldo. "Tenang, Bos. Tuan sudah memaafkan Bos dari dulu."


Aldo menatap Levi, lalu mengangguk mantap


Di tempat lain, Ryan masih berada di kamar, dia ingin keluar. Namun, dia tidak membawa kuncinya. Dari kemarin Sonia mengunci Ryan di kamar. Ryan sudah tidak tahan, dia berusaha keluar dari kamar dengan cara apapun.


Tidak ada celah untuk keluar. Semua Jendela di lapisi tralis besi, pintu dari semalam dikunci. Mungkin lewat eternit, tapi jaraknya terlalu tinggi. Ryan mencoba berteriak berharap ada orang yang membuka pintu kamarnya. Ceklak, Sonia membukakan pintu menatap tajam ke arah Ryan.


"Lo pikir ini hutan apa, pakai teriak-teriak segala," cibir Sonia dengan tatapan jam.


Ryan langsung berlutut sambil memeluk perut Sonia. "Sayang, aku minta maaf atas kebodohanku selama ini, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Sonia tersenyum sinis. "Oke, kali ini aku maafkan, tapi kalau kamu protes lagi, aku usir kamu masuk di kolong jembatan!"


Ryan berdiri tersenyum, berjanji tidak akan mengecewakan Sonia lagi.


"Aku punya tugas untukmu," ucap Sonia.


"Apa itu, sayang. Apapun tugas yang kamu berikan aku akan menjalankannya dengan baik."


"Aku butuh Aldo malam ini, bawakan Aldo saat pesta ulang tahunku satu ranjang denganku," ucap Sonia.


Ryan terdiam, dia terlihat ragu dengan tugas yang diberikan oleh Sonia.


"Kenapa? Kamu tidak sanggup?" Tanya Sonia dengan tatapan tajam.


"Ta-tapi, gimana caranya membawa Aldo ke sini."


"Aku mengundang Aldo ke pesta ulang tahunku, kamu pastikan dia hadir." Sonia dengan langkah pelan keluar dari kamar.


Ryan segera menelpone Aldo, tapi handphonenya tidak aktif. Mungkin sedang ada jam kelas, dia memgirim pesan. Ryan dengan mengendarai mobil menuju ke kampusnya Aldo. Dia berharap rencana ini akan berhasil supaya Sonia tidak terus mengancamnya.


Di pintu masuk kampus terlihat sudah banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Ryan masuk bertanya kepada salah satu mahasiswa dimana Aldo. Mahasiswa itu memberitahu biasa jam segini Aldo ada di lapangan basket.


Ryan segera menuju lapangan basket. Audy dan Reihan melihat Ryan.


"Ngapain bajingan itu ke sini?" Wajah Audy langsung berubah merah saat melihat Ryan.


"Kita ikuti," ucap Reihan.


"Lo saja yang ngikuti, Rei. Biar gue nelpone Levi."

__ADS_1


Reihan setuju, dia mengikuti Ryan sampai ke gedung basket. Levi dari belakang menepuk pundak Reihan.


"Gue disuruh Audy nemenin lo, mana orangnya," ucap Levi pelan.


"Itu," tunjuk Reihan.


"Gimana, apa kita langsung serang?"


"Jangan dulu, ini kampus. Kita cari tau ngapain dia ke sini," ucap Reihan.


"Sudah jelas itu, pasti lagi nyari bos Aldo."


"Sok tau lo."


"Siapa lagi yang dia cari, temennya di sini cuma bos Aldo doang," ucap Levi.


"Lo tau dimana Aldo?"


Levi menggeleng. "Mungkin ada di dalam."


"Ya sudah ayo masuk."


Levi menahan Reihan. "Kalau kita masuk mau sembunyi dimana? Itu 'kan lapangan basket, yang ada Ryan curiga sama kita."


Reihan berdecak. "Terus gimana?"


"Ya sudah tunggu di sini sampai Ryan keluar," jawab Levi.


Di dalam Ryan menemukan Aldo dengan kaki pincang sedang bermain basket sendirian.


Aldo terkejut dengan kedatangan Ryan. "Ryan, Sejak kapan lo ada di sini?"


"Barusan, kata anak kampus sini lo ada di gedung baaket, jadi gue nemuin lo ke sini."


Aldo mengajak Ryan duduk di kursi kayu panjang berwarna putih.


"Niat amat lo ke sini, memang ada apa?" tanya Aldo.


"Istri gue nanti ulang tahun, lo bisa 'kan datang ke sana. Gue gak enak saja gak ngundang lo," ucap Aldo.


"Lo tenang saja, gue diundang kok di acaranya tante Sonia. Entar malam gue pasti datang."


"O, gitu. Baru tau gue," alasan Ryan.


Aldo tersenyum.


"Btw, kaki sama muka lo kenapa?" tanya Ryan.


Aldo membulatkan mata. Dia bertanya dalam hati. "apakah ini rencananya Ryan dan tante Sonia,"


"Do, kok bengong sih." Ryan menggoyangkan bahu Aldo.


"Gak pa-pa, ini cuma jatuh dari motor," ucap Aldo.

__ADS_1


"Waduh ... hati-hati lah, Do. Kalau naik motor."


Aldo mengangguk mengiyakan nasehat dari Ryan.


"Gue pulang dulu ya, jangan lupa entar malam. Atau, mau gue jemput?"


"Gak usah, gue naik taksi saja," jawab Aldo.


"Oke. Gue tunggu." Ryan beranjak dari tempatnya keluar dari gedung lapangan basket.


Reihan dan Levi sudah siaga di depan bersiap untuk mengikuti kemana Ryan pergi. Namun, Reihan tiba-tiba berhenti mengikuti Ryan.


"Napa lo?" tanya Levi.


"Kita cukup di sini saja," jawab Reihan.


"Ada apa sih sama lo, aneh."


"Lo gak inget apa, habis ini ada jam kelasnya pak Bambang. Lo berani bolos di jam kelasnya pak Bambang, bisa gak lulus kita," ucap Reihan.


Levi menepuk keningnya. "Gue lupa, untung lo ingetin. Ya sudah ayo balik."


Sedangkan Ryan berseru senang, akhirnya Aldo mau datang di pesta ulang tahun istrinya. Perasaan Ryan sedikit lega karena Sonia pasti tidak mencecarnya lagi. Rencana berikutnya, Aldo harus bisa tidur dengan Sonia.


"Sayang ..." sapa Ryan duduk ruang tamu dengan wajah sumringah.


"Gimana?"


"Nanti malam dia akan datang ke sini," ucap Ryan.


"Bagus. Ini obat tidur, campur minumannya saat dia sedang lengah." Sonia memberikan satu botol kecil obat tidur.


"Wah ... kelihatan mau dapat brondong nie ..." sahut salah satu teman Sonia.


"Tenang saja, habis gue, lo juga bisa nyicipin." Sonia tertawa diiringi temannya.


Ryan ikut tertawa, padahal dalam hatinya sudah tidak tahan dengan tingkah Sonia. Ingin rasanya dia keluar, cuma Ryan takut nyawanya akan terancam.


Di tempat lain, Aldo mulai berdandan semaksimal mungkin. Aldo belum siap bertemu dengan papanya, jadi Aldo meminta tolong kepada Audy dan Reihan untuk membantunya menyewakan jas dan menemaninya pergi ke salon. Sudah lama Aldo tidak merawat dirinya ke salon.


Pegawai salon yang kemayu itu membuat penampilan Aldo menjadi maksimal. Aldo terlihat gagah dan tampan dengan jas tuksedo dan rambut klimis yang disibak ke belakang.


"Cucok," ucap pegawai salon sambil


mengedipkan secara cepat matanya.


Audy dan Reihan setuju dengan pegawai salon itu.


"Keren, Do?


"Coba lo bukan istrinya adik gue, sudah gue embat lo," canda Audy.


"Yeee ... lihat cowok ganteng langsung deh lupa datatan. Gue kalau di dandani juga gak kalah sama Aldo," ucap Reihan kesal.

__ADS_1


Brrsambung ...


__ADS_2