
Sore harinya, Audy dan Reihan kembali mengikuti Levi. Mereka berdua sudah mengira kalau Levi akan ke tempat kost nya Aldo. Di sana sudah ada Aldo yabg terlihat duduk di teras kost. Levi merogoh tas nya, lalu memberikan kotak makanan kepada Aldo.
"Dapat dari mana tu Levi?" tanya Reihan pelan.
"Mana gue tau, lihat saja dulu apa yang dilakukan mereka berdua," jawab Audy.
Tak berselang lama Levi pergi dari kost Aldo. Reihan dan Audy segera menghampiri Aldo yang terlihat masuk kamar kost.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Aldo terkejut saat tau Levi dan Reihan berada di depannya.
"Dari mana kalian tau tempat gue?"
"Gue tadi ngikutin Levi," jawab Audy.
Reihan celingukan melihat isi di dalam kost nya Aldo.
"Ngapain lo celingukan?" tanya Aldo kesal.
"Ah, gak ... lo betah tinggal di sini, Do?"
"Bukan urusan lo," jawab Aldo yang menilai Reihan tidak sopan.
"Do gue mau tanya sama lo?" kali ini Audy yang bicara.
"Tanya apa?"
"Masuk dulu deh," ucap Audy.
"Ngapain?"
"Lo masih nganggap gue Kakak ipar lo, kan?"
Aldo berdecak, lalui terdiam sejenak untuk mempersilahkan Audy dan Reihan masuk.
"Kali ini gue harus jujur sama lo, Do?"
"To the point saja, gak usah basa-basi. Habis ini gue mau kerja," ucap Aldo.
Reihan mengacungkan dua jempol ke arah Aldo.
"Lo saat nidurin Nadia dapat obat perangsang dari mana?" tanya Audy serius.
"Gue dapat dari pacar lo Ryan." Dengan jujur Aldo menjawab. Aldo kini sudah tidak ada kepentingan apapun.
Audy sudah menduganya. "Berarti lo tau, kan? Gue pernah dipakai sama Ryan dengan cara yang sama?"
Aldo mengangguk. "Ryan sudah pernah ngomong sama gue."
"Lo tau juga 'kan? Kalau dia itu punya istri yang bernama Sonia Jubaedah."
"Tau." Aldo mengangguk.
"Kemarin gue ketemu sama Sonia Jubaedah. Gue cerita kebusukan Ryan, tapi apa yang dikatakannya, dia tidak peduli dengan semua itu," ucap Audy
"Terus hubungannya sama gue apa? Gue hanya sebatas kenal sama tante Sonia."
"Lo bisa bantu gue gak? Cari tau siapa Sonia Jubaedah itu."
"Gak bisa, gue gak mau berurusan sesuatu yang belum jelas. Gue mau memperbaiki diri gue."
__ADS_1
"Membantu orang tanpa pamrih juga salah satu pembuktian kalau lo benar-benar berubah. Gue janji Nadia gak bakal tau rencana lo," ucap Audy.
"Gue takut, kalau gue gak kuat?"
"Tenang saja, nanti lo bakal di temani sama Reihan. Iya 'kan, Rei."
Reihan terkejut jari telunjuknya menunjuk ke wajahnya. "Gue?"
Audy mengangguk.
"Gak pa-pa sih, asal Aldonya bisa di ajak kerja sama."
"Bisa 'kan, Do."
"Tujuan lo memang apa sih?" Tanya Aldo.
"Gue curiga kalau tante Sonia mucikari," ucap Audy pelan.
Aldo terbelalak. Dia pernah melihat tante Sonia. Kecurigaan Audy bisa jadi benar. Aldo pun jadi tertarik ingin membuktikan kebenaran ini. Jika benar, berarti selama ini Ryan berpura-pura baik terhadapnya.
"Gimana, lo setuju, kan?" Reihan menepuk punggung Aldo.
"Oke, gue setuju." Aldo mengangguk.
Audy dan Reihan terlihat senang.
"Kapan kita bisa mulai."
"Saat hari kibur saja kita bertindak. Lo 'kan kerja juga," ucap Audy.
"Gue sebenarnya pernah lihat tante Sonia dengan beberapa temannya. Mereka terlihat seperti perempuan panggilan."
"Dimana?" tanya Audy terkejut.
"Pasti ada maunya itu!" sahut Reihan.
"Kalau gitu, lo temenin Aldo kerja," perintah Audy kepada Reihan.
"Gue banyak tugas skripsi."
"Begini saja, nanti kalau tante Sonia memesan order, gue kasih tau lo."
"Oke. Begitu lebih baik."
Audy dan Reihan pun pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan Aldo besiap kerja memakai jaket berwarna orange. Aplikasi yang ada di handphone nya sudah on. Tak berselang lama order pertama datang, Aldo siap berangkat mengantar makanan sesuai apa yang diminta customer.
Sekitar pukul sembilan malam, Mrs X memesan makanan lewat aplikasi. Sepuluh omlette dan latte di cafenya Ryan. Aldo segera menuju cafenya Ryan untuk memesan sesuai customer.
Pelayan cafe yang mengenal Aldo heran kenapa Aldo pakai jaket pengantar makanan online.
"Mau pesan apa, Bos?" tanya salah satu pelayan.
"Ryan mana?" tanya Aldo.
"Bos Ryan lagi keluar," jawab pelayan yang memakai kemeja putih dan celemek berwarna hitam itu.
"Tolong buatin omlette sepuluh sama latte sepuluh, di bungkus ya?" seru Aldo.
"Bos Aldo kerja?" tanya pelayan itu tampak ragu.
Aldo tersenyum simpul, lalu mengangguk
"Lha ... kok bisa." Pelayan itu semakin heran.
"Sudah jangan banyak tanya, buatin saja gak pake lama," ucap Aldo.
__ADS_1
"Siap, Bos!" Pelayan itu segera bergegas membuatkan pesanan Aldo.
Sambil menunggu Aldo menelpone Reihan.
📲"Halo, Reihan,"
📲"Iya."
📲"Lo bisa ke cafe nya Aldo. Tante Sonia pesan makanan ke gue." Aldo memelankan nada suaranya.
📲"Oke, gue segera kesana."
📲"Tunggu di perempatan jalan Pramuka, takut ada yang lihat."
📲"Oke bisa diatur."
Aldo mematikan handphone nya saat pelayan cafe itu memberikan pesanan Aldo.
"Makasih ya." Aldo tersenyum, lalu segera menuju perempatan jalan Pramuka menunggu Reihan.
Lima menit berselang Reihan melambaikan tangan di sebrang jalan. Aldo segera melajukan motornya, Reihan mengikutinya dari belakang. Aldo berhenti di sebuah rumah megah berwarna serba putih. Reihan tampak kagum dengan bangunan yang ada di depannya.
"Gila gede banget rumahnya."
"Lo tunggu di sini, biar gue yang masuk. Tunggu intruksi dari gue."
Reihan mengangkat jempolnya.
Aldo dengan izin penjaga rumah masuk ke rumah besar itu.
"Hey Aldo, Tante sudah menunggu kamu lho," ucap Sonia dengan ramah.
"Maaf agak telat, Tante?"
"Masuk dulu gie, biar lebih akrab sama temen-temen Tante."
Aldo melangkah masuk sampai ruang tamu. Di sana terlihat ada empat wanita yang sebaya dengan Sonia.
"Brondong!" celetuk salah satu teman Sonia.
Sonia segera menegur temannya dengan menempel jari telunjuk ke bibirnya.
"Maafkan kelakuan temen Tante ya?"
Aldo tersenyum gugup. "Gak pa-pa, Tante."
"Duduk dulu gie," ucap Sonia.
"Saya langsung pulang saja, Tante." Aldo tampak tidak nyaman.
"Duduk dulu, Tante mau ambil uang di kamar atas."
Aldo pun duduk di Sofa panjang. Sedangkan, Sonia naik ke ruang atas. Seketika itu salah seorang teman Sonia membawa minuman.
"Silahkan diminum ya ganteng?"
Aldo tampak ragu dengan minuman itu. Aldo takut kalau minuman itu telah dicampur obat perangsang. Aldo pura-pura meminumnya, tapi tidak memasukan air itu ke tenggorokannya.
"Tante Sonia mana ya?" tanya Aldo yang menunggu terlalu lama.
"Mungkin lagi kebelet, ayo minum lagi, sayang." Salah satu teman Sonia mendesak Aldo.
Aldo menolak dengan cara halus.
Bersambung ...
__ADS_1