
Hari-hari dilalui Audy dengan penuh semangat. setiap hari dia tidak henti berolah raga dibantu oleh Nadia. Tubuh Audy yang dulunya gemuk, kini terlihat sedikit menyusut.
Besok hari terakhir tepat satu bulan Audy dan Reihan taruhan. Audy terlihat percaya diri dengan perubahan tubuhnya. Dia mulai menimbang berat badannya.
"75 kg! Pas banget!" Audy besorak gembira memeluk Nadia.
"Selamat ya, Kak." Nadia ikut senang dengan kamajuan Kakaknya.
"Makasih, Nad. Ini semua berkat lo," ucap Audy.
Nadia tersenyum. "Kak Audy tambah cantik lo. Tinggal gaya berpakaiannya saja harus diubah."
"Masa sih, Nad?" Audy terlihat malu.
"Iya, coba Kak Audy pakai celana jeans, rambutnya di gerai sama sedikit make up. pasti cantik," ucap Nadia.
"Kak Audy coba deh." Audy memegang wajahnya, lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Dia berkaca di depan cermin besar. Mengambil celana panjang dan kemeja yang lama sudah tidak dia pakai.
Nadia menyusul di kamar melihat kakaknya sedang menghadap cermin sambil memilih baju yang pas untuk Audy. Sesuatu yang jarang Nadia lihat.
"Coba pakai ini, Kak." Nadia memilihkan kemeja dan celana jeans yang terlihat cocok untuk Audy.
Audy mencoba memakainya, ternyata masih kekecilan.
"Ini 'kan baju saat Kakak masih SMA, jadi sudah gak muat.
"Kita beli baju saja yuk, Kak."
"Boleh deh."
"Coba hari ini Kakak tampil beda, pasti banyak orang yang ngelihatin Kakak."
Audy mengangguk.
"Nadia tunggu di bawah ya?"
Tak berselang lama Audy turun dari tangga. Walaupun masih memakai rok panjang dan suiter, tapi Audy kali ini tidak memakai bando yang biasa di pakai. Rambutnya yang berombak tergerai indah dengan sedikit polesan make up di wajah.
"Wah ... cantik sekali. Nadia yakin, kalau Kak Audy berpenampilam kayak gini, pasti banyak yang suka. Termasuk Reihan," goda Nadia.
Audy tertunduk malu.
"Ayo berangkat, kita pakai mobil mama. Nadia sudah izin tadi."
Kakak beradik itu menuju Mall terdekat. Nadia mencoba mencoba memilihkan kemeja dan celana yang cocok untk Audy.
"Kayaknya ini bagus deh buat Kakak." Nadia memilihkan kemeja polos berwarna biru dan celana skinny yang sesuai untuk Audy.
Audy mencobanya. Beberapa menit kemudian dia keluar dari ruang ganti sambil bergaya di depan adiknya.
Nadia mengacungkan jempolnya. "Keren, Kak."
__ADS_1
Audy tersenyum ikut mengacungkan jempolnya. Audy akhirnya membeli baju dan celana masing-masing dua steel.
Pagi harinya Audy terlihat cantik dengan celana skinny, kemeja biru dengan rambut bergelombang tergerai indah. Ayu yang melihat anak sulungnya itu terkejut dengan outfit baru yang dikenakan. Audy tersenyum, kemudian memutar badannya memperlihatkan tubuhnya yang padat berisi. Jerawat yang biasa tumbuh di wajahnya pun kini berkurang.
"Anak Mama cantik sekali pagi ini," ucap Ayu.
"Makasih, Ma. Audy berangkat ke kampus dulu ya." Audy mencium punggung tangan mamanya.
Audy menoleh ke kiri jalan gang rumahnya berharap melihat Reihan. Ini hari terakhirnya berangkat tanpa Reihan. besok kondisi mulai normal lagi. Reihan tidak kunjung lewat depan rumahnya, mungkin dia sudah berangkat.
Audy menaiki ojeg online. Sepuluh menit sudah sampai di depan kampus. Audy turun sambil memakai kaca mata hitam berjalan lenggak-lenggok seperti seorang model. Para mahasiswa fokus melihat Audy. Mereka kira mahasiswa baru.
"Namanya siapa, Neng." goda salah satu mahasiswa.
Audy menghentikan langkah, lalu mengangkat sedikit kaca mata hitamnya. "Nang neng nang neng! Lo gak kenal sama gue?"
Mahasiswa itu terkaget saat melihat gaya bahasa perempuan itu, ternyata itu adalah Audy. Cewek gendut yang jadi bahan bullyan teman-temen kampusnya.
"Buset ... Lo semok banget, Dy?"
"Apa lo! Berani lo sama gue!" seru Audy.
"Kagak, Dy. Kan gue cuma memuji," ucap Mahasiswa itu.
Audy melanjutkan langkahnya mencari Reihan.
"Levi ...!" panggil Audy.
Levi terperangah membuka mulutnya melihat penampilan baru Audy.
Levi masih mematung membuka mulutnya. Audy menepuk pundak Levi hingga dia tersadar dari lamunannya.
"Di tanya malah bengong."
"Lo Audy?"
"Emang lo pikir gue siapa? Gimana penampilan gue, keren 'kan?" Audy bergaya di depan Levi.
"Lo cantik banget dandan kayak gini? Coba dari dulu lo dandan casual kayak gini, sudah gue pacarin lo!"
Audy menonyor kepala Levi. "Walaupun gue gendut kayak dulu juga, gue gak bakalan mau sama lo."
"Gitu amat lo sama gue."
"Lo lihat Reihan gak?" tanya Audy sekali lagi.
"Kagak ... gue juga baru nyampe."
Audy menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil matanya melihat ke segala arah mencari Reihan.
"Dari pada lo nyari Reihan yang gak jelas, lo sama gue saja?" bujuk Levi.
__ADS_1
"Gak mau, lo tukang tipu," cibir Audy.
"Gue sekarang sudah tobat," ucap Levi
Audy mengibaskan tangannya ke udara, lalu melangkah dari hadapan Levi. "YA sudahlah.
Levi ikut berjalan di belakang Audy.
"Lo ngapain ngikutin gue!" hardik Audy.
"Siapa yang ngikutin lo. Gue mau masuk kelas. Kan kelas gue disana." Levi menunjuk searah dengan Audy.
"Ya sudah lo jalan duluan."
Levi memperbaiki posisi tas punggungnya, lalu dia bejalan melewati Audy. Audy kembali mencari Reihan, menuju taman siswa. Ternyata Reihan memang ada disana sedang membaca buku. Audy berjalan mengendap hendak mngagetkan Reihan.
"Reihan!" Audy menepuk Bahu Reihan dari belakang.
Reihan terperanjat sampai jatuh ke tanah. "Siapa lo?"
Audy terkekeh. "Lo gak kenal gue? Parah nie anak," ucap Audy.
"Audy?"
Audy mengangguk. Reihan terperangah melihat Audy dari wajah hingga sepatunya.
"Keren banget penampilan lo sekarang. Tubuh lo juga padat berisi," ucap Reihan.
Audy tersenyum bergaya di depan Reihan.
"Kalau kayak gini lama-lama gue bakalan suka nie sama lo," canda Reihan.
Audy mendorong Reihan. "Dasar cowok."
Reihan terkekeh. "Lo sudah turun berapa kilo?"
"Gue sudah berhasil nurunin berat tubuh gue sebanyak sepuluh kilo dari awal pas kita taruhan," ucap Audy bangga.
Reihan sedikit khawatir, dia mulai merencanakan sesuatu. Reihan berdehem. "Berarti gue kalah, dong."
Audy mengangguk menyunggingkan senyum. "Mulai besok lo harus traktir gue selama satu bulan."
"Kan belum di timbang, kali saja timbangan di rumah lo salah."
"Oke ... ayo kita buktikan pake timbangan kampus," tantang Audy.
"Bentar dulu, nanti siang saja habis makan. Gue lagi sibuk," ucap Reihan beralasan.
"Oke terserah kamu, gue tunggu di kantin." Audy begitu yakin dia akan menang.
Reihan yang melihat tubuh Audy terlihat lebih ramping pun sedikit khawatir. Dia segera menuju ruang olah raga mengakali timbangan besar itu supaya beratnya tidak sesuai.
__ADS_1
Siang hari setelah makan, Reihan dan Audy menuju ruang olah raga. Audy menarik napas, melepas sepatunya, lalu menginjak timbangan. Levi dan Reihan yang menjadi saksinya.
Bersambung ...