Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Hukuman Lagi.


__ADS_3

"kalau gitu gue pesen latte saja, sama roti bakar," ucap Reihan dengan wajah masam.


Waiter kembali mengulang menu yang di pesan Audy dan Reihan, lalu beranjak menuju dapur.


"Lo sudah ngerjain tugas dari pak Bambang belum?"


Audy yang menyandarkan kepala di tangannya pun langsung menegakkan tubuhnya.


"Mampus gue! Belum."


"Lo gila ya! Tugasnya harus selesai besok tau."


"Sumpah gue gak ingat. Reihan ... pliss pinjemin buku lo sekali lagi." Audy merengek minta tolong.


Reihan berdecak kesal. "Ya udah deh! Habis ini gue pinjemin."


Audy tersenyum lebar. "Makasih Reihan ... lo memang temen terbaik gue."


"Iya kalau ada maunya ... lihat tu jerawat lo makin gede kalau lagi panik."


Audy hanya tersenyum tanpa dosa, memperbaiki posisi bando yang melingkar di kepalanya.


Waiter datang menaruh pesanan di meja, Audy terlihat tidak sabar untuk mencicipi omlette dan cappucino panas yang terlihat menggoda.


"hmm ... enak," ucap Audy sambil makan.


"ya iya lah enak. Gratis!" seru Reihan.


Audy menaik-turunkan alisnya sambil mengnguyah makanan. Reihan hanya melihat sinis saat Audy makan.


Sepuluh menit berselang mereka berdua selesai makan, tinggal piring dan gelas kosong yang ada di meja.


"Kenyang!" seru Audy mengusap perutnya.


"Lo tu kayak gak dikasih makan satu minggu tau, gak?" cibir Reihan.


"Namanya orang lapar mau gimana lagi?"


"Rugi gue ngajak lo!" Reihan tak henti mencibir Audy.


Audy hanya diam, memainkan tusuk gigi di mulutnya bodo amat dengan ucapan Reihan.


"kita pulang yuk!" ajak Audy.


"Belum setengah jam di sini, lo ngajak pulang."


"Kan gue mau ngerjain tugas dari pak Bambang."


"bukan ngerjain, tapi nyontek tugas dari gue." Reihan membulatkan matanya.


"Sudah cepet ah! Bayar sono!" desak Audy.


"Iya ... sabar." Reihan mengangkat tangan, lalu menjentikan jarinya memanggil waiter. Seorang waiter menghampiri Reihan memberi kertas bil.


Reihan merogoh dompet di saku belakangnya lalu membayar menu makanan kepada waiter.

__ADS_1


"Gara-gara lo uang jajan satu minggu gue tinggal separo."


"Kok gara-gara gue sih ... gue muntahin lagi nie makanannya." Audy membuka mulutnya karena di salahkan terus oleh Reihan.


Reihan hanya diam saja melihat kelakar Audy.


"Kok lo diam aja sih, panik kek, apa kek," ucap Audy.


"Gue malah pengen lihat makanan yang ada di perut lo muntah di sini. Palingan nanti lo disuruh ngepel satu ruangan ini," ucap Reihan.


"Yeee ... tega banget sih sama temen sendiri. Sudah ah ayo pulang." Audy beranjak dari tempatnya. Disusul Reihan dari belakang.


Mereka menuju parkiran mengambil motor vespa. Audy duduk di belakang Reihan dengan posisi miring.


"Ke rumah lo dulu ya?"


"Iya," ucap Reihan berusaha mengalahkan suara kendaraan.


Sesampainya di rumah, Audy segera menyalin tugas dari pak Bambang di kamarnya.


Esok paginya seperti biasa Audy berangkat kuliah berboncengan dengan Reihan. Pagi ini ada mata kuliah dari pak Bambang. Audy dan Reihan harus sudah ada di kelas lima belas menit sebelum jam kuliah di mulai.


Audy dan Reihan sudah sampai dua puluh menit sebelum mata kuliahnya pak Bambang di mulai. Wajah Audy tampak tenang karena dia sudah mengerjakan tugas dari pak Bambang, walaupun hasil menyalin tugasnya Reihan.


Tak berselang lama pak Bambang datang berjalan sedikit membungkuk dengan kaca mata bulat sedikit ke bawah menatap tajam kepada setiap mahasiswa


"Tugas dari saya silahkan dikumpulkan di meja, yang wanita dan pria di bedakan," perintah pak Bambang.


Salah satu mahasiswa berdiri mengambil tugas satu per satu.


"Rei, kenapa dipisah tugasnya?" tanya Audy yang duduk di kursi sebelah Reihan.


"Gue lupa, kalau tugas pria dan wanita beda."


"Hah ...!" teriak Audy yang tedengar satu ruangan.


"Kamu kenapa teriak di jam mata kuliah saya?" tanya pak Bambang dengan nada keras.


Audy menatap Pak Bambang tersenyum nyengir. "Gak pa-pa, Pak. Cuma kaget saja, kirain ada ular."


Pak Bambang menggeleng. "Kamu ngigau ya, mana mungkin ada ular di dalam kelas. Kecuali ular yang ada di ****** ******** teman laki-lakimu," ucap pak Bambang.


Satu ruang tertawa.


pak Bambang duduk mengecek satu per satu tugas para mahasiswa. Audi terlihat cemas, dia berdoa supaya pak Bambang tidak melihat tugasnya. Namun, doanya tidak dikabulkan.


Pak Bambang memanggil Audy ke depan. Audy gemetaran, firasat buruk mulai meracuni pikirannya.


"Kenapa kamu membuat tugas untuk laki-laki?" tanya pak Bambang


Audy terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Jawab!" Pak Bambang memukul penggaris kayu di mejanya. Suasana kelas menjadi sunyi.


audy terperanjat. "Nganu, Pak. Saya salah informasi."

__ADS_1


"Salah informasi, alasan saja. Kamu pasti tidak mengerjakan tugas, nyontek 'kan punya temen kamu."


Deg ... tepat sekali apa yang dibicarakan pak Bambang.


"katakan kepada saya, siapa teman pria kamu yang memberi contekan?" tanya pak Bambang.


Audy menunduk dalam-dalam, dia tidak berani melihat pak Bambang.


"Baik kalau kamu tidak mau bicara. Kalau begitu tugas ini batal. Semuanya akan dapat nilai C," tegas pak Bambang.


Semua mahasiswa terlihat panik, salah satu mahasiswa mendesak Audy untuk Berbicara jujur.


Reihan pun berdiri. "Saya Pak yang memberi contekan itu kepada Audy."


pak Bambang melihat Reihan. Semua mahasiswa yang tadinya mendesak Audy bicara kini terdiam.


"Maju ke depan," ucap pak Bambang menatap Reihan.


Reihan dengan langkah pelan menghampiri pak Bambang.


"Kenapa kamu kasih contekan kepada dia. Kamu suka dengan dia?" tanya pak Bambang.


"Maaf, Pak. Saya salah."


"Bagus, sekarang kalian berdiri di lapangan sambil hormat menghadap tiang bendera," ucap pak Bambang.


Audy dan Reihan pun keluar kelas menuju lapangan.


"Gara-gara lo gue ikutan di hukum pak Bambang," ucap Reihan saat berdiri di lapangan.


"Ya maaf ... lagian lo gak bilang kalau tugas pria dan wanita beda, tau gitu 'kan gue bisa pinjam sama temen cewek," bantah Audy.


"Lo tu ya, gak mau disalahin," ucap Reihan.


"Sudahlah, yang jelas kita berdiri di sini selama dua jam," ucap Audy kesal.


Nadia yang berjalan di lorong kampus tidak sengaja melihat Audy dan Reihan berdiri di lapangan.


"Cie, cie ... kompak amat. Mau upacara bendera ya," ledek Nadia.


Audy pun langsung melotot ke arah Nadia. "Satu lagi orang ngeselin datang."


Nadia terkekeh, pergi meninggalkan Audy dan Reihan.


"Kenapa sih setiap lihat Nadia lo langsung nyolot?" tanya Reihan


"Dia duluan yang mulai," jawab Audy.


Dua jam berlalu Reihan dan Audy sudah selesai menjalankan hukuman. Mereka langsung ke kantin untuk membeli minum.


"Gila ... haus bener gue, Rei!" seru Audy.


"he'em ... panas banget cuacanya."


bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2