Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Tidak Bisa Berbuat Apa-apa.


__ADS_3

"Terserah, yang jelas lo gak boleh pergi hari ini," tegas Nadia


Aldo pun kesal merebahkan diri di kasur.


"Kalau mau tidur di bawah, itu tempat tidur gue," ucap Nadia.


"Lo mau nyiksa gue?"


"Kita gak boleh bersentuhan. Itu ada di perjanjian kita."


Aldo segera pindah mengambil bantal, lalu menggelar tikar kecil di bawah.


Di sisi lain, Audy masih membayangkan saat Reihan mengecup bibirnya. Audy merasa malu sendiri, kecupan itu tiba-tiba dan membuat jantung Audy berdetak lebih kencang. Wajahnya memerah.


Audy memukul-mukul guling yang ada di sampingnya. Malam ini kelihatannya Audy tidak bisa tidur, bukan hanya malam ini mungkin satu minggu ke depan. Audy bukannya melupakan Reihan, tapi malah semakin memikirkannya.


Namun jika Audy mengingat Reihan suka dengan Nadia, dia kembali bersedih. Audy merasa hanya dijadikan batu loncatan oleh Reihan.


...***...


Libur panjang telah berlalu, Audy dan Nadia kembali bersiap berangkat ke kampus. Nadia berangkat dengan Aldo, sedangkan Audy menunggu Reihan di depan rumahnya. Tadi pagi Reihan sudah menghubunginya untuk menjemput Audy.


Semenjak kejadian di Ancol, Audy tidak pernah menghubungi Reihan. Setiap kali ingin mengajaknya keluar, Audy mengurungkan niatnya. Reihan juga baru tadi pagi menghubunginya.


Aldo dan Nadia sudah berangkat terlebih dulu. Dari arah kiri jalan, Audy melihat sepeda motor vespa Reihan menuju ke arahnya.


"Sudah dari tadi nunggu ya?" tanya Reihan.


Audy tersenyum. "Gak kok."


"Badan lo makin kurus saja, Dy? Tanya Reihan yang melihat tubuh Audy semakin kurus.


"Gue diet."


Reihan mengacungkan jempolnya. "Lo tambah cantik."


Audy pun tersentak, lalu segera duduk di jok belakang. Audy menyembunyikan rasa malunya, menepuk punggung Reihan.


Reihan melajukan motornya menuju kampus. Audy dan Reihan sudah minta memasuki semester akhir. Itu berarti, mereka akan sibuk KKN dan membuat skripsi.


Sesampainya di kampus, pundaknya Reihan ada yang menepuk dari belakang. Itu Levi tersenyum lebar menyambut Reihan dan Audy.


"Pagi putri keong dan pangeran jambang!" heboh Levi.


"Bikin kaget saja lo!" cibir Reihan.


"Lo kemarin kenapa gak datang di pernikahan bos lo," ucap Audy.


"Gue di suruh jaga rumah."

__ADS_1


Audy tertawa. "Kasihan banget sih, lo?"


"Bagi duit dong, buat beli rokok sebatang," pinta Levi.


"Gak ada ... lo minta saja sama bos lo," jawab Audy.


"Lagian pagi-pagi sudah minta duit ke kita," sahut Reihan.


"Kan lo tau bos Aldo gak pernah pulang ke rumah semenjak nikah," ucap Aldo.


"Iya sih, di kamar mulu bos lo itu. keluar cuma saat makan." Audy terkekeh.


"Enak tu ya di kamar mulu, habis berapa ronde ya kira-kira," pancing Levi.


Audy tertawa lepas. "Puluhan ronde mungkin."


Mereka tertawa kecuali Reihan yang bermuka masam. Sepertinya Reihan masih sakit hati dengan Nadia dan Aldo.


Levi menepuk pundak Reihan. "Kenapa muka lo ditekuk kayak gitu."


Reihan berdecak. "Dy, cepet kasih duit. Sebelum mood gue ilang."


Audy segera memberikan uang kepada Levi sebelum Reihan bertambah kesal.


"Nie ... habis ini jangan minta duit lagi," ucap Audy.


Levi mengendikan kepala kepada Audy melihat Reihan yang terlihat kesal. Audy menyuruh Levi pergi karena Lebih belum tau kalau Reihan suka dengan Nadia. Setau Levi, Reihan suka dengan Audy, tapi tidak berani mengungkapkan.


Mereka berjalan beriringan. Kebetulan hari ini kelasnya pak Bambang. Dosen killer di kampus ini.


Di tempat lain, Nadia dan Aldo ternyata tidak masuk kuliah. Nadia memaksa Aldo untuk bertemu dengan Amanda. Aldo tidak bisa menolak permintaan Nadia. Aldo pun mengajak Amanda ketemuan di sebuah taman kota.


Amanda terlihat duduk di kursi taman melihat Aldo bersama Nadia. Amanda Terkejut, karena dia mengira Aldo datang sendirian.


"Hay selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Aku gak nyangka lho kalian akan menikah secepat ini." Amanda mengulurkan tangan berucap basa-basi.


Nadia terlihat memutar manik matanya dengan sandiwara yang dilakukan Amanda. Sedangkan Aldo salah tingkah dengan sikap yang ditunjukan Amanda. Ternyata Amanda belum tau kalau Nadia sudah mengetahui sandiwara mereka.


Nadia tersenyum kecut menyambut uluran tangan Amanda.


"Gue di sini gak mau basa-basi. Gue Sudah tau kalau kalian berdua bukan saudara sepupu. Jadi buat lo cewek murahan, jangan dekati suami gue lagi." Nadia tersenyum menyeringai.


Mata Amanda membulat. Dia menjadi bingung sendiri dan menatap Aldo tajam. Aldo hanya bisa menunduk.


"Kenapa? Lo kaget ya. Sudahlah gak usah sandiwara lagi di depan gue. Karena pria bajingan ini, telah menjadi milik gue." Nadia menjawil lembut dagu Aldo.


Amanda mengeraskan rahang menatap Nadia. Tanpa sepatah kata dia pergi meninggalkan Aldo dan Nadia. Dia terlihat kesal dan tidak terima dengan perlakuan Aldo dan Nadia.


Aldo ingin mengejar Amanda, tapi Nadia mencegahnya.

__ADS_1


"Sudah deh. Gak usah drama. Nanti kalau anak ini lahir, lo boleh ngejar dia sepuasnya," ucap Nadia sinis.


Aldo hanya bisa mendengus kesal dengan sikap istrinya itu.


"Antar gue ke kampus," ucap Nadia.


"Ngapain ... kan kita lagi bolos?"


"Lo saja yang bolos. Lo sudah ngancurin masa depan gue. Lo mau ngancurin kuliah gue juga." Nadia memarahi Aldo.


Kali ini Aldo tidak mau kalah, dia menatap tajam Amanda. "Gue gak mau."


Nadia tersenyum sinis, lalu dia berjalan meninggalkan Aldo. Aldo merasa senang karena untuk hal ini dia berhasil mengalahkan Nadia. Aldo segera menaiki mobilnya berencana menemui Amanda.


Bunyi handphone Aldo berdering. Itu dari Tio papanya Aldo.


πŸ“²"Halo, Pa?"


πŸ“²"Lagi dimana kamu!"


πŸ“²Lagi di jalan, Ada apa, Pa?"


πŸ“²"Papa baru di telpon sama Nadia kalau kamu ninggalin dia di tengah jalan. Kamu itu sudah punya istri, malah kelayapan dimana-mana!"


πŸ“²"Aldo bisa jelasin, Pa."


πŸ“²Papa tidak butuh penjelasan darimu. Cepat jemput Nadia, atau kalau gak, kamu tidak dapat harta Papa sepeser pun!" Tio langsung mematikan handphone nya secara sepihak.


πŸ“²Halo, Papa!"


Aldo berteriak kesal memukul setir mobil. Dia terpaksa balik arah menjemput Nadia. Terlihat Nadia sudah tidak ada di tempat. Aldo menelponnya tapi Nadia langsung mematikan panggilannya. Aldo pun menuju kampus. Nadia benar-benar tidak bisa membuat Aldo bergerak leluasa. Bahkan, dia bisa mempengaruhi papanya.


Sesampainya di kampus, Aldo segera mencari Nadia dikelas. Ternyata dia sedang mengikuti jam kuliah. Nadia melihat Aldo, lalu tersenyum menyeringai. Aldo terpaksa menunggu sampai jam kuliah Nadia selesai.


Aldo mengambil handphone nya.


πŸ“²"Halo, Levi."


πŸ“²"Iya, bos."


πŸ“²"Ke kantin sekarang."


πŸ“²"Kantin mana, bos?"


πŸ“²"Kantin kampuslah. Memang kantin mana lagi. Cepetan!"


πŸ“²"Siap, bos!"


Levi merapikan rambut klimis belah tengahnya segera menuju kantin menemui Aldo.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2