
"Duluan deh. Gue nunggu di sini saja."
Audy mendengus. "Ya gak bisa dong Reihan, kan kita berangkat bareng, jadi pulang juga harus bareng," alasan Audy.
Audy sebenarnya mengajak Reihan pulang hanya untuk mengetes Reihan saja. Ternyata Reihan lebih mementingkan Levi dari pada hanya untuk mengantar Audy pulang. Audy tertunduk dengan wajah memberangut.
Tak berselang lama, Levi mulai siuman. Dia menatap nanar Reihan dan Audy. Reihan memakaikan kaca mata bulat Levi yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya.
"Ach ...!" Levi berteriak ketakutan saat melihat wajah Audy dan Reihan.
"Kenapa sih nie anak," ucap Audy.
"Levi sadar. Ini gue Reihan." Kedua tangan Reihan memegang wajah Levi.
Levi terdiam sejenak. "Kecoa ...!"
Reihan terperanjat melepas cakalannya. Audy pun sama dengan Reihan.
"Gila ya nie anak lama-lama." cibir Audy.
Levi menutup wajahnya dengan selimut karena ketakutan.
"Sepertinya Levi trauma, Dy." Reihan berkata pelan.
"Terus gimana dong, masak kita ninggalin Levi sendirian. Mana sudah sore lagi."
Reihan tampak berpikir memegang dagunya. "Kita telpone Aldo saja, suruh jemput Levi."
"Lo punya nomornya?" tanya Audy.
Reihan mengangguk, lalu segera menelpone Aldo. Nomor telponenya Aldo aktif, tapi tidak di angkat.
"Coba sekali lagi," ucap Audy.
Reihan mencoba menelpone Aldo sekali lagi. Kali ini diangkat, tapi Reihan hanya mendengar suara musik yang menghentak dan teriakan banyak wanita yang seperti sedang berpesta.
"Gak ada suaranya, cuma terdengar musik hip-hop dan perempuan," ucap Reihan.
"Apa!" Audy terkejut. "Kemana tu bocah."
"Palingan lagi dugem," jawab Reihan.
"Gila lo. Sore-sore gini mana ada diskotik yang buka," balas Audy.
"Ada saja. Ini Jakarta, coy!" seru Aldo.
"Terus gimana nie?" Audy sudah kehilangan akal.
"Kita paksa saja," jawab Reihan.
Audy mengangguk.
Reihan dan Audy menyeret tangan Levi. Namun, Levi berontak sambil berteriak kecoa. Bahkan Levi meludahi Reihan dan Audy hingga terjatuh
"Achh ...!" Audy melepas cakalannya, lalu mengibaskan tangan kanannya yang terkena liurnya Levi. Reihan pun sama. Levi segera menutup pintu ruangan dan mengunci rapat-rapat.
"Levi bukain!" Audy menggedor-gedor pintu. Levi malah menjulurkan lidah mengejek Audy.
Reihan berteriak kesal. Audy bertolak pinggang, lalu mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Levi kalau lo gak mau ikut kita pulang! Terpaksa gue dan Audy tinggal lo di sini!" ancam Reihan.
"Kita hitung sampai sepuluh, kalau kamu gak bukain pintu. terpaksa kita tinggal lo di sini." Audy ikut menggertak Levi.
__ADS_1
Audy dan Reihan menggangguk saling menatap.
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan ... sembilan setengah ... sepuluh. Levi kita pulang!" teriak Audy.
Reihan dan Audy pun pergi meninggalkan Audy. Levi yang melihat mereka pergi pun membuka pintu.
"Woy ... tungguin gue!"
Audy dan Reihan menoleh.
Levi menghampiri mereka sambil tersenyum nyengir. "Tega amat ninggalin gue sendiri di sini."
Reihan dan Audy geram, menjambak rambut klimisnya Levi sampai berantakan.
"Kalian gila ya! Kalian mau buat gue pingsan lagi!" umpat Levi.
"Lo yang gila. Kita pikir lo beneran trauma. taunya hanya pura-pura. Mana pakai ngludah segala lagi," ucap Audy kesal.
"Tau gitu gue kunci beneran lo disana!" sahut Reihan.
"Tega amat sih. Habisnya kalian bercandanya keterlaluan sih. Masak kecoa di aduk ke makanan gue. Mana gue lagi lapar-laparnya lagi," balas Levi.
"Sudahlah Ayo, sudah malam," ucap Reihan berjalan duluan di susul Audy dan Levi.
"Lo 'kan naik motor, Rei?" Audy bertanya.
"Iya ya."
"Ya sudah. Lo boncengin gue. Biar Audy naik angkot," ucap Levi.
"Enak saja. Gue 'kan cewek.
"Ya sudah ... Gue saja yang naik motor, biar Reihan pulang naik angkot."
"Terus gimana, dong!" Levi kesal menghentikan langkahnya.
"Lo saja yang naik angkot, gue kasih ongkos deh?"
"Gak mau, kalian harus bertanggung jawab, kalau gak gue bilangin sama anak-anak," ancam Levi.
"Ya sudah-ya sudah ... gue antar lo pulang," ucap Reihan.
"Terus gue gimana dong, Rei?"
"Lo naik angkot saja dulu, Dy. Sorry ya ... dari pada besok kita habis sama anak-anak."
Audy menghentakkan kakinya bergantian, kesal kepada Levi. Gara-gara Levi Audy tidak bisa berangkat bareng sama Reihan.
Levi tersenyum lebar sambil merapikan rambut klimis belah tengahnya.
"Bye-bye putri keong," ledek Levi saat Reihan melajukan motornya.
Audy terpaksa memesan taksi. Sesampainya di rumah, Ayu terlihat sudah berdiri di depan teras. Audy memanggilnya.
Ayu menghampiri Audy membuka pintu pagar.
"Kamu kemana saja, Audy.?" tanya Ayu terlihat khawatir.
"Dari Kampus, Ma. Tadi Audy sama Reihan lagi nungguin temen yang pingsan." Audy masuk ke dalam rumah dengan Ayu.
"Kok kamu gak diantar sama Reihan?"
"Reihan lagi nganter teman Audy, jadi terpaksa Audy naik taksi." Audy memasang muka masam.
__ADS_1
"Kamu cemburu ya," goda Ayu.
"Temannya Reihan itu cowok, Ma. Masak Audy cemburu sama cowok," ucap Audy.
"Terus kenapa kamu cemburu?"
"Audy gak cemburu, Ma. Audy cuma kesel sama tu anak."
"Jadi kamu kesel karena gak bisa boncengan berdua sama Reihan."
"Ihhh ... Mama." Audy langsung berjalan menuju kamarnya.
Ayu memaklumi tingkah Audy yang berwajah merah padam. "Jangan lupa mandi, lalu makan."
"Iya, Ma!" seru Audy saat sudah sampai depan kamarnya.
Nadia keluar dari kamarnya. "Kak Audy sudah pulang, Ma."
"Sudah, Kamu makan dulu gie, mumpung masih anget."
Nadia duduk, hanya mengambil jeruk yang ada di meja. "Tumben Kak Audy baru pulang?"
"Maklumlah namanya juga orang lagi jatuh cinta," ucap Ayu pelan.
Nadia menyungingkan senyumnya.
Tak berselang lama, Audy turun dari tangga. Nadia sedang mengupas jeruk, sedangkan Ayu sudah selesai makan.
"Nanti habis makan beresin ya, Nak? Mama mau ke kamar dulu, ada pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Iya, Ma." ucap Audy duduk sambil mengambil piring.
"Lo gak makan, Nad?" tanya Audy.
"Ini lagi makan jeruk, Kak."
"Lo gak makan nasi?" tanya Audy lagi.
"Lagi males, Kak."
"Tadi katanya lo gak masuk kampus ya, Nad?"
"Lagi kurang enak badan, Kak."
"Tadi si Aldo nyariin lo." Audy sambil makan.
"Tadi sudah kesini." Nadia berkata spontan.
"Apa!" Audy menghentikan makannya sejenak.
"Ma-maksud Nadia, dia mau kesini tapi tidak Nadia bolehin." Nadia tersenyum nyengir.
Audy menaik-turunkan kepalanya.
"Kakak tadi pulang malam habis ngapain?" tanya Nadia balik.
"Tadi si Levi pingsan. Gue sama Reihan suruh jagain dia sampai siuman."
"Kenapa bisa pingsan, Kak. Nadia tertarik mendengar cerita dari Audy.
"Ulah Reihan ngasih kecoa di nasinya Levi."
Nadia tertawa, dia sudah tau endingnya akan seperti apa.
__ADS_1
Bersambung ...