Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Curiga.


__ADS_3

"Bukannya gue takut, enak saja lo bilang gitu."


"Terus kenapa?"


"Ribet berurusan sama dia. Lo ingatkan saat gue menyelamatkan Nadia di cafeshop? Kenapa Nadia bisa nuduh gue?"


"Kenapa?" tanya Audy penasaran.


"Karena mulutnya Aldo yang pandai memutar balikan fakta," jawab Reihan.


Audy menghela napas. "Oke ... lo bantu gue ngebongkar siapa Aldo di depan Nadia. Makan gratis selama satu bulan gue anggap lunas."


"Yakin lo?"


Audy mengangguk.


Reihan berterimakasih mencubit gemas pipi tembem Audy. Dia menyetujui tawaran dari Audy.


"Apaan sih kamu, Rei." Audy menunduk menutupi wajah malunya.


Reihan salah tingkah menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dengan malu-malu Reihan pamit pulang. Audy mengangguk pelan masih duduk di kursi panjang pinggir taman. Dia mendongak sambil tersenyum lebar menatap langit yang cerah hari ini. Hari ini Audy tidak ada acara, dia bisa nonton film sepuasnya di kamar.


"Mama," ucap Audy riang.


"Kamu sudah pulang, cerah sekali wajah kamu hari ini," ucap Ayu.


Audy menyunggingkan senyum. "Masak Apa hari ini, Ma?"


"Mama gak masak, gak ada mbok Yem. Mama sudah pesan sarapan lewat online sebentar lagi juga sampai," jawab Ayu.


Nadia keluar dari kamarnya, terlihat masih mengantuk duduk di meja makan dengan rambut acak-acakan.


"Sudah bangun, Nad."


Nadia tersenyum simpul masih mengantuk.


"Cuci muka dulu sana," ucap Ayu.


"Nad, hari ini lo jadi jalan sama Aldo?" tanya Audy sambil makan apel yang ada di lemari pendingin.


"Jadi, Kak."


"Kemana?"


"Nadia mau lihat Aldo main basket sama teman-temannya, Kak."


Audy mengangguk, lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Audy hendak mandi, lalu menonton film sepuasnya di kamar.


Siang hari suara klakson mobil Aldo terdengar. Nadia sudah siap dengan pakaian casualnya yang semakin menambah kecantikannya. Nadia masuk mobil disamping Aldo, lalu tersenyum melihatnya.


"hay, Sayang," sapa Aldo mencium kening Nadia. Aldo melajukan mobilnya dengan sedang.


"Oiya ... pertandingan basketku di undur nanti sore, gimana kalau kita ke cafenya Ryan dulu," ucap Aldo.

__ADS_1


"Boleh."


Cafeshop milik temannya Aldo itu menjadi tempat yang menarik bagi setiap pengunjung. Bentuknya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi anak kuliahan seperti Aldo dan Nadia.


Di tempat lain, Audy terlihat bosan berada di kamar. Biasanya jika hari lbur seperti ini, Audy begitu betah di kamar seharian. Kali ini dia begitu gelisah, entah kenapa Audy ingin sekali bertemu dengan Reihan.


Audy merubah posisinya duduk di tepi kasur mengambil handphone yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya. Audy ingin menelpone Reihan hendak mengajak keluar, tapi dia hanya menatap layar hp.


Tangannya terasa berat, dadanya berdegup kencang mencari nomor kontak Reihan. Padahal hari-hari sebelumnya Audy begitu mudah melakukannya.


Audy kesal sendiri dengan tingkahnya, dia membanting handphone di tempat tidur. Mengacak-acak rambutnya, lalu becermin melihat wajahnya sendiri.


"Kok gue kayak gini sih ... jangan-jangan gue beneran suka lagi sama Reihan. Aduh ... gimana dong." Audy bermonolog sambil memperbaiki anak rambut yang mnghalangi matanya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Suara pintu terdengar di telinga. Audy membukanya.


"Ada apa, Ma?"


"Itu ada Reihan di bawah nyariin kamu."


Audy tersenyum sumringah, dengan cepat dia menuruni tangga mengabaikan Ayu.


Reihan terlihat duduk di ruang tamu. Audy merapikan rambut dan bajunya berusaha bersikap biasa.


Audy bedehem duduk disamping sofa sebelah. Reihan tersenyum melihat Audy.


"Jalan yuk, gue bosen di rumah mulu," ajak Reihan.


Jantung Audy berdegup kencang. Dalam hati dia begitu senang, tapi dia pura-pura cuek memutar kepalanya. Reihan pun merasa aneh melihat tingkah Audy.


"Lo kenapa sih?"


"Gak pa-pa." Audy begitu gugup, cuma untuk menutupinya dia berusaha cuek di depan Reihan. Namun, sikap cueknya malah memperlihatkan kalau Audy sedang tidak baik-baik saja.


"Yakin lo gak pa-pa?" tanya Reihan Heran.


Audy mengangguk duduk melipat kaki dengan kedua tangan bertumpu di lutut.


"Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo mau kagak jalan di cafeshop biasa."


"Mau." Audy mengangguk Kaku.


"Ya sudah ayo!"


"Gu-gue mau siap-siap dulu di kamar." Audy segera naik ke atas Menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia tidak pernah segugup ini bertemu dengan Reihan. Audy segera berdandan secantik mungkin, memakai parfum dan menyisir rambutnya serta memakai sedikit polesan di wajah.


Sepuluh menit kemudian, Audy berdiri di hadapan Reihan sambil memainkan ujung bajunya, wajah Audy besemu merah. Reihan mendongak menatap Audy dari wajah sampai ujung kaki. Audy tampak cantik dengan kemeja panjang sedikit ketat berwarna biru dan celana skinny serta rambut berombak yang panjang terurai.

__ADS_1


"Cantik sekali kamu," ucap Reihan secara spontan.


Audy tersenyum. Beberapa detik kemudian mereka terasa kalau mereka saling mengagumi satu sama lain. Namun, mereka berdua tidak berani mengatakan satu sama lain dengan alasan pertemanan.


"Ayo berangkat," ucap Audy.


Reihan mempersilahkan Audy berjalan duluan. Reihan mencoba mengatur napas yang dari tadi terasa sesak.


"Kita mau kemana, Rei?" tanya Audy.


"Ke cafe biasa saja." Reihan mulai menghidupkan motornya. Audy duduk di belakang dengan posisi mengangkang sedikit menjaga jarak.


"Kapan kita ngebongkar kebusukan Aldo?" tanya Reihan yang sedang melajukan motornya . Reihan membuka pembicaraan karena sedari tadi mereka hanya diam.


"Kita lihat saja besok kalau ada kesempatan," jawab Audy mencoba mengalihkan suara bising kendaraan yang lain.


"Gue punya ide supaya kita bisa bongkar kebusukan Aldo," ucap Reihan.


"Gimana?"


"Lewat Levi. Kita bisa bertanya dengan Levi ngapain saja Aldo setelah pulang kuliah. Tentunya dengan sedikit trik supaya Levi tidak curiga."


"Ide yang bagus, Reihan. Terus gimana supaya Levi tidak curiga sama kita?"


"Levi itu sama kayak kamu. doyan makan, kita traktir dia sambil bertanya tentang Aldo," ucap Reihan.


Audy menepuk punggung Reihan. "Enak saja gue di samain dengan Levi."


Reihan tertawa, suasana menjadi lebih cair. Tak terasa mereka sampai di tempat tujuan. Audy dan Reihan melihat mobilnya Aldo.


"Ini mobilnya Aldo?"


"Tadi pagi Aldo pergi sama Nadia," jawab Audy pelan.


Mereka berdua masuk, mencari Aldo dan Nadia.


"Nadia!" panggil Audy dari pintu masuk. Audy dan Reihan menemui Nadia dan Aldo.


"Tumben Kakak kesini," ucap Nadia senang.


Aldo terlihat pangkling menatap Audy. "Lo Audy. Baru beberapa hari gak ketemu. Makin cantik saja lo."


Audy tersenyum kecut.


"Kemarin Kak Audy diet, yang."


Aldo mengangguk. "Pantas saja badan lo terlihat lebih seksi."


"Kalian mau kemana gabung sini saja," ucap Nadia.


Audy dan Reihan saling menatap, lalu mengangguk menerima tawaran Nadia.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2