
"Adik Bapak bisa berdiri seharian," bisik Reihan menunjuk apa yang ada di balik celana.
Dua penjaga itu tersenyum saling menatap, tanpa ragu mereka berdua mengambil minuman itu, lalu menenggaknya.
"Ah ... segar," ucap salah satu bodyguard itu
Reihan tersenyum sinis karena rencananya berhasil. Namun. Reihan dan Levi harus tetap hati-hati. Masih banyak orang yang berlalu-lalang. Acara juga belum selesai, salah langkah Reihan dan Levi bisa ketahuan
Levi menghampiri Reihan membawa dua kursi kecil.
"Om, mending duduk, dari pada berdiri terus," ucap Levi.
Dua orang tinggi besar itu setuju dengan usul Levi. Beberapa menit kemudian, penjaga itu mulai menguap.
"Ngantuk banget oew," ucap salah satu penjaga itu kepada temannya.
"Sama." Mereka akhirnya tertidur dengan posisi duduk serta kepala menunduk ke bawah.
Reihan segera meraba tubuh penjaga itu mencari kunci kamar. Dapat di saku celana, Levi siap berjaga-jaga di muka pintu. Reihan dengan tangan yang gemetar secepatnya membuka pintu kamar. Pintu terbuka, di sana rupanya ada Ryan yang menunggu Aldo sedang terbaring di ranjang. Ryan berteriak, namun Reihan segera menutup pintu rapat-rapat.
"Lo apain temen gue!" pekik Reihan menatap tajam.
"Bangsat!" Ryan mencoba memukul Reihan, tapi Reihan berhasil menghindari pukulan Ryan.
Reihan memasang kuda-kuda bersiap melawan Ryan. Ryan membuka jasnya, lalu mereka saling adu pukul. Reihan terkena pukulan dari Ryan, tapi itu tidak membuat Reihan terjatuh. Justru Ryanlah yang terjatuh karena terkena tendangan di perutnya.
Reihan segera menyelesaikan perkelahian ini. Dengan sekali pukul tepat di wajah Ryan, Reihan berhasil membuat Ryan terjatuh dan mengeluarkan daah di bibirnya. Segera Reihan membangunkan Aldo yang masih pingsan.
"Bangun, Do." Reihan menepuk-nepuk pipi Aldo.
Aldo mengerjapkan mata, menatap Reihan lamat-lamat.
"Dimana gue?" Aldo terlihat masih merasakan pusing di kepalanya.
"Lo gak usah banyak bicara, Do. Yang penting kita harus segera keluar dari tempat ini," ucap Reihan.
Reihan membuka sedikit pintu menyuruh Levi masuk.
"Lev, lo amanin situasi, biar gue yang bawa Aldo pergi."
Levi mengangguk. "Lo pake topeng mata ini, Bos."
Levi memakaikan topeng itu ke wajah Aldo. Reihan memapah Aldo keluar dari kamar, sedangkankan Levi berada di depannya. Reihan menyuruh Aldo seperti orang mabuk, biar Sonia tidak curiga.
__ADS_1
Di atas podium Sonia melihat dua orang pelayan dan seorang tamu undangan yang terlihat mabuk memakai penutup mata. Namun, Sonia mengenali jas itu, segera Sonia turun dari panggung untuk melihat situasi.
Kamarnya masih terkunci, tapi dua anak buahnya tertidur pulas dengan posisi duduk. Sonia membangunkan kedua anak buahnya itu.
"Hey kalian cepat bangun."
"Bos."
"Mengapa kalian bisa tidur di tempat ini?"
Dua penjaga bertubuh besar itu hanya menunduk. Sonia mengetuk pintu kamar. Tidak ada yang menjawab.
"Aldo ada di kamar, kan?"
"Ada, Bos."
"Buka pintunya," perintah Sonia.
"Siap, Bos." penjaga yang membawa kunci pintu itu tampak gelisah mencari kunci pintu kamar. Penjaga yang satu menyenggol lengan temannya menanyakan kunci.
Sonia tampak kesal. "Mana kuncinya!"
"Tadi ada di saku celana," jawab penjaga itu.
Penjaga itu memegang handle pintu, ternyata tidak dikunci. Sonia menjadi kesal, dia tidak mau di salahkan. Di dalam kamar terlihat Ryan yang pingsan dengan luka lebam di hidungnya.
"Mana dia!" Sonia tampak marah ketika dia tidak mendapati Aldo ada di kamarnya.
Penjaga itu baru teringat seorang pelayan yang membawakan minuman.
"Maaf, Bos. Tadi ada seorang pelayan yang membawa minuman. Mungkin minuman itu sudah dicampur obat tidur, Bos."
"Kalian memang tidak bisa diandalkan. Sama cecunguk kecil saja kalian bisa diperdaya. Cepat cari mereka, aku ingin Aldo ada di sini!" Sonia betul-betul menginginkan Aldo untuk pelampiasan nafsunya.
Penjaga itu segera berlari mencari keberadaan Aldo. Namun, Aldo, Levi dan Reihan sudah bergegas pulang. Reihan dengan motor vespa tuanya membonceng Aldo yang masih lemas. Sedangkan, Levi mengikuti dari belakang menaiki ojeg online.
Sesampainya di kost Aldo, Levi dan Reihan segera memapah Aldo masuk kamar.
"Gimana keadaan lo, Bos?" tanya Levi.
"Badan gue masih lemes," jawab Aldo lirih.
"Ini pasti ulahnya si Ryan, awas saja kalau ketemu, gue bikin perkedel," cibir Levi.
__ADS_1
"Gimana nie, apa kita harus kembali ke pestanya tante Sonia lagi?" tanya Reihan.
"Gak usah, terlalu berbahaya. Pasti anak buahnya tante Sonia sedang mencari kita," jawab Aldo.
"Ya sudah, kalau gitu gue pulang dulu, besok kita bicarakan lagi." Reihan pamit sambil menatap Levi
"Gue di sini saja nemenin Bos Aldo," ucap Levi.
Di tempat Lain Sona begitu marah dengan Reihan dan kedua anak buahnya. Wanita yang baru menginjak usia empat puluh tiga tahun itu meluapkan amarahnya dengan memaki dan memukuli anak buahnya.
"Kalian dibayar mahal-mahal, tidak becus kerja!" umpat Sonia.
Dua anak buahnya dan Ryan hanya berdiri menunduk dalam-dalam. Entah apa yang yang ada di dalam diri Sonia sehingga tiga pria itu tunduk terhadapnya.
"Apa yang harus aku katakan kepada clien dan teman-temanku nanti!" pekik Sonia menatap Ryan.
Ryan dengan posisi berdiri. "Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji akan menangkap Aldo untukmu, sayang."
Sonia langsung menatap tajam ke arah Ryan. "Kamu masih berani bilang sayang sama aku." Sonia menampar wajah Ryan dengan keras hingga bibirnya berdarah. "Panggil aku Bos dasar laki-laki tidak tau diuntung."
Suasana terasa hening, walaupun di luar kamar banyak orang yang tengah membereskan peralatan pesta.
"Baiklah kalau itu mau mu, tangkap Aldo dengan cara apapun bawa dia di hadapanku. Dan ingat, aku tidak mau mendengar kata gagal lagi."
"Baik, Bos." Ryan menjawab dengan nada bergetar.
Ini benar-benar malam yang menyedihkan untuk Ryan. Dia sudah tidak dianggap lagi sebagai suami. Bahkan, dia harus mengemis untuk membuktikan kalau dia tidak seperti yang Sonia pikir.
"Aku akan memberimu waktubselama tiga hari, kalau dalam tiga hari kamu tidak bisa membawakan Aldo di hadapanku ...." Jemari Sonia membentuk seperti pistol, lalu ditempelkannya di kening Ryan.
wajah Ryan langsung pucat menerima ancaman dari Sonia. Mau tidak mau Ryan harus bisa menangkap Aldo hidup-hidup, apapun caranya.
"Cepat pergi dari hadapanku, aku muak melihat kamu," ucap Sonia.
Ryan keluar dari kamar. Dua orang tinggi besar itu masih ada di dalam.
"Apa kita harus bantu Ryan untuk bisa menangkap Aldo?" tanya salah anak buah Sonia.
"Tidak usah, kalian awasi saja Ryan. Aku curiga kalau dia akan berkhianat," perintah Sonia.
"Baik, Nyonya."
"Kalian keluarlah, aku mau istirahat."
__ADS_1
Bersambung ...