Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Cari Tau.


__ADS_3

Setelah melakukan pembicaraan dengan papanya, Aldo dan Ryan kembali ke kost. Levi masih menatap sinis Ryan, dia menelpon Reihan memberitahu kalau Ryan sedang bersama Aldo. Reihan yang sedang bersama Audy mengajak ketemuan Levi di depan kampus.


Lebih segera bepakaian, menaiki ojeg online menuju kampus. Sepuluh menit berselang, Levi datang menemui Audy dan Reihan. Levi mengajak Reihan dan Audy ke tempat kosnya Aldo.


"Lo yakin Aldo ada di kos?" tanya Audy.


"Yakin," jawab Levi singkat.


"Lo tau kenapa Ryan sama Aldo?" tanya Reihan.


"Mana gue tau. Kalau gue tau ngapain ngajak lo untuk nemenin gue.


Sesampainya di kos terlihat Aldo dan Ryan sedang sarapan nadi bungkus berdua. Audy, Reihan dan Levi mematung menatap Aldo dan Ryan. Rasa kesal yang ada di hati mereka bertiga seolah sirna karena melihat Aldo dan Ryan makan secara sederhana.


"Eh, kalian. Ayo masuk!" Aldo menyuruh mereka bertiga masuk.


Audy tersenyum nyengir. "Kami di sini saja."


"Lo gimana sih, katanya mau ngelabrak Ryan." Levi berbisik kepada Audy.


"Nanti saja, gue gak tega lihat mereka makan sebungkus berdua."


"Payah lo," cibir Levi.


Audy melotot menatap Levi.


Selesai makan mereka bertiga duduk menatap canggung Aldo. Mereka saling dorong membujuk satu sama lain untuk siapa yang terlebih dulu bicara.


"Gue tau kalian pasti heran 'kan karena ada Ryan di sini?" Aldo sudah menduganya.


Mereka bertiga serentak mengangguk.


"Ryan di sini untuk membantu gue, membongkar siapa pembunuh ibu gue," ucap Aldo.


"Hah, bukannya ibu lo mengalami kecelakaan ya, Do?" tanya Reihan.


Aldo menggeleng. "Lima belas tahun yang lalu ibu gue sengaja dibunuh. Sonia ada dibalik semua ini."


Mereka bertiga pun tidak menyangka Sonia ternyata sudah sejauh itu.


"Kok lo tau Sonia ada di balik semua ini, apa dari borokokok itu?" tanya Reihan menunjuk Ryan


Aldo mengangguk. "Ryan tidak sengaja mendengarnya."


"Lo percaya sama dia, Do. Jangan-jangan dia ngelabuhi lo lagi," ucap Audy.


"Gue percaya sama Ryan. Sonia dulu adalah pacar papa, tapi karena papa memilih ibu gue, Sonia pun marah dan mencelakai ibu. Gue tadi sudah pulang ke rumah, memastikan kebenarannya."

__ADS_1


"Eh, Bajingan. Awas lo berani macam-macam sama kita," ancam Audy.


"Gue janji gue gak akan berkhianat, setelah tau siapa itu Sonia gue langsung ke sini mencari Aldo. Maafin gue selama ini membuat kalian bertengkar satu sama lain. Maafin gue juga karena pernah ngejebak lo, Dy," ucap Ryan


"Kalau itu gue gak akan maafin lo. Jangan ungkit kejadian itu lagi," ucap Audy kesal.


"Kejadian apa nie, kok gue belum tau," sahut Levi.


Reihan menonyor kepala Levi. "Lo gak perlu tau."


"Pelit lo," cibir Levi.


"Kalian susah jelas, kan?"


Mereka bertiga mengangguk. "Ya sudah deh, gue sama Reihan mau cabut dulu."


"Tu 'kan kebiasaan gue ditinggalin, mentang-mentang sudah akrab," ucap Levi.


Audy memajukan bibirnya mengejek Levi, lalu segera pergi dengan Reihan. Levi menyusul mereka berdua.


"Bagi ongkos dong?" pinta Levi.


"Ogah, memang gue orang tua lo apa," cibir Audy.


"Ceban saja, buat naik angkot, gue gak ada duit nie," bujuk Levi.


"Ceban ya." Audy merogoh tas kecilnya, lalu memberikan uang sepuluh ribu kepada Levi.


"Halah, kalau ada maunya saja lo baikin gue," ucap Audy.


"Tau nie Levi, minta uang mulu. Emang lo gak dikasih duit sama bokapnya Aldo?" tanya Reihan.


"Dikasih, cuma selalu habis, buat taruhan bola." Levi langsung pergi berlawanan arah dari Audy dan Reihan.


"Dasar Levi, gimana mau kaya kalau taruhan terus." Reihan menggeleng menatap punggung Levi yang semakin jauh dari pandangan.


...***...


Tio segera meminta anak buahnya yang bernama Fatah mengusut kecelakaan tunggal yang menyebabkan kematian seorang wanita yang bernama Kinanti Putri.


"Cari tau bisnis apa yang digeluti Sonia," ucap Tio duduk di tempat kerjanya.


"Siap, Pak!" Fatah segera bertindak. Fatah memiliki perawakan yang tinggi besar dan rambut bros seperti potongan tentara. Umurnya sekitar tiga puluh tahunan.


Tugas Fatah yang pertama mencari keberadaan Sonia. Fatah susah diberitahu Tempat tinggal Sonia. Rumah besar berwarna putih dengan dua pilar besar yang gagah berdiri di depan terlihat sepi. Seorang satpam penjaga ada di postnya sedang mendengarkan musik.


Fatah menunggu satu jam, tapi Sonia belum juga keluar rumah. Fatah beralih menuju cafenya Sonia. Pintu utama Cafe tertutup rapat. Tidak ada informasi yang jelas tentang keberadaan Sonia. Sampai siang hari, Fatah belum menemukan keberadaan Sonia.

__ADS_1


Fatah kembali menghadap Tio. "Sonia tidak ada di rumah, cafenya pun tutup."


"Coba kamu tanya sama anakku, mungkin dia tau informasi yang lebih kongrit."


Fatah mengangguk.


Tio menelpon Aldo untuk datang ke kantornya sekalian mengajak Ryan. Aldo dan Ryan dengan senang hati menyanggupi permintaan Tio. Dua puluh menit menunggu, Aldo dan Ryan akhirnya datang menghadap Tio.


"Siang, Pa." Aldo mencium punggung tangan Tio, hal yang tidak pernah dilakukan Aldo saat masih berada di rumah. Tio pun terharu dengan sikap sopannya Aldo.


Tio mempersilahkan Aldo dan Ryan duduk di sofa panjang bersama dengan Fatah.


"Ini namanya Fatah, orang yang akan menyelidiki siapa itu Sonia." Tio memperkenalkan fatah kepada Ryan dan Aldo. Mereka bersalaman satu sama lain.


"Apa yang bisa kita bantu?" tanya Aldo.


"Saya ingin tau dimana Sonia biasa berkumpul dengan temannya?" tanya Fatah.


"Di rumah Siska. Basanya mereka sedang arisan brondong," sahut Ryan.


Fatah menatap Ryan menyelidik. "Bisa kamu tunjukan dimana rumahnya Siska."


"Bisa, Bang. Tapi, saya tidak berani untuk menampakan diri."


"Kanapa?" tanya Fatah.


"Saya jadi incaran anak buah Sonia. Dulu saya suaminya, cuma setelah tau keburukan Sonia, saya jadi sadar dan memilih untuk kabur," ucap Ryan.


Fatah menaik-turunkan kepala. "Berarti kamu tau banyak tentang Sonia."


"Tidak terlalu. Saya hanya di suruh mengurusi cafeshopnya."


"Kamu tau, Dimana biasanya Sonia memperjual-belikan wanita?"


Ryan menggeleng. "Sonia begitu pintar menyembunyikan segala sesuatu. Mungkin anak buahnya yang selalu mendampinginya tau dimana Sonia menyebar perempuan psk nya."


Fatah menegang matanya menatap ke depan.


"Apa menurutmu, Fatah?" tanya Tio.


"Kemungkinan dia sudah profesional, dan sudah lama menjadi mucakari. Dugaanku, Sonia melakukan bisnisnya hanya untuk menutupi siapa dia. Kita harus berhati-hati dengannya," jawab Fatah.


"Oke aku mengerti, apa kamu butuh bantuan orang lain?" tanya Tio.


"Untuk saat ini belum, Pak. Biar mereka bedua yang membantu saya," jawab Fatah.


"Bilang saja kalau kamu butuh bantuan. Kita akan siap membantu."

__ADS_1


Fatah tersenyum tipis. "Siap, Pak."


Bersambung ...


__ADS_2