
Bibir mereka saling berpagut satu sama lain. siang itu dua sejoli sedang memadu kasih. Nadia tersenyum mengusap bibir Aldo.
"gue cinta sama lo, Do. Jangan tinggalin gue ya," ucap Nadia sambil memeluk Aldo.
Aldo dengan aksinya membuka resleting dress belakang Nadia, lalu tangannya masuk meraba punggung Nadia.
"Gue juga cinta sama lo, Nad?" Aldo mulai menindih tubuh Nadia.
Nadia tersentak segera melepas pelukannya. "Aldo! lo gila ya!" tegur Nadia.
"why ... kita sama-sama cinta?" tanya Aldo heran.
"Tapi gak kayak gini caranya." Nadia kembali menutup resleting belakang dresnya.
"come on, Nad?" Aldo terus membujuk Nadia.
Nadia dengan wajah masam pergi meninggalkan Aldo.
"Nadia! Lo mau kemana?" panggil Aldo.
Nadia tidak menghiraukan. Aldo berlari mengejar Nadia.
"Nad, gue minta maaf? Gue bener-bener khilaf."
Nadia sedikit pun tidak menatap Aldo, dia terus berjalan dengan wajah masam.
"Ngomong dong, Nad?"
Nadia menghentikan langkahnya, menatap Aldo. "Gue mau pulang. Sekarang!"
"Oke, aku antar kamu pulang. Tapi, please maafin gue."
Di perjalanan Aldo terus meminta maaf, Nadia hanya diam tidak memberi respon permintaan maaf dari Aldo.
"Ngomong dong, Nad? Gue minta maaf banget sama lo."
"Laki-laki memang tidak bisa dipercaya." Nadia terisak.
"Gue janji gak bakalan kurang ajar sama lo lagi. Gak bakalan!"
Nadia mendengus kesal. "Bisa-bisanya lo ya!siang bolong mau berbuat mesum sama gue."
"I am sorry, say. Lo mau 'kan maafin gue." Sambil menyetir Aldo memegang pipi Nadia.
Nadia sedikit iba dengan permintaan maaf dari Aldo dan memberi kesempatan sekali lagi.
"Makasih ya, sayang."
Sesampainya di depan rumah, Nadia membuka pintu mobil tanpa pamit dengan Aldo. Walaupun Nadia sudah memaafkan Aldo, tapi rasa kecewanya masih tertanam.
"Nad, sudah pulang," ucap Audy yang duduk sambil ngemil di ruang tamu.
Nadia tidak menjawab panggilan Audy, dia langsung masuk kamar dan melempar tas di sembarang tempat. Tidur tengkurap bersandar pada bantal sambil terisak. Nadia memang telah memaafkan Aldo, tapi bukan berarti dia melupakan perbuatan kurang ajarnya.
Audy yang melihat adiknya bermuka masam pun terlihat khawatir.
Ayu keluar kamar menghampiri Audy. "Adik kamu sudah pulang?"
"Sudah, Ma. Coba lihat Nadia deh, Ma. Kelihatannya lagi sedih."
__ADS_1
"Kenapa," ucap Ayu pelan.
"Tadi habis jalan sama Aldo."
Ayu menaik- turunkan kepalanya. Ayu menuju kamar Nadia mengetuk pintu secara pelan.
"Nadia, kamu sudah makan, Nak?"
Nadia yang mendengar suara mamanya menyeka pipi, mengubah posisi duduk di tepi kasur.
"Sudah, Ma! Nadia mau bobok. Ngantuk!"
Ayu terdiam, mengamati Nada suara Nadia yang terlihat marah.
"Gimana, Ma?" tanya Audy saat Ayu duduk di sofa sebelahnya.
"Sepertinya adikmu itu sedang marah."
"Pasti gara-gara si Aldo tu, Ma."
Ayu menghela napas. "Namanya juga permasalahan anak muda. Biar Nadia sendiri yang menyelesaikan, Mama hanya bisa memantaunya dari kejauhan."
"Ya sudah deh, Audy mau ngerjain tugas kuliah." Audy berdiri dari tempat duduknya.
Ayu tersenyum tipis.
Audy menaiki tangga menuju kamarnya.
...***...
Di tempat lain, Reihan yang bosan di rumah hendak menuju cafeshop favoritnya. Lima belas menit perjalanan Reihan sampai di depan cafeshop.
Levi melihat Reihan, lalu memberi tau Aldo.
"Ada Reihan, bos?"
Aldo menatap Reihan tajam. "Bentar ya gue mau menyapa teman lama dulu."
Aldo menghampiri Reihan duduk di depannya.
"Apa kabar pahlawan kesiangan."
"Mau apa lo?" tanya Reihan sambil meneguk latte.
"Gue kesini mau ngasih tau lo aja sih. Jangan ganggu hubungan gue sama Nadia."
Reihan tersenyum sinis. "Kali ini gue setuju sama omongan lo. Gue gak mau ikut campur hubungan lo sama Nadia. Kemarin itu gue cuma numpang lewat saja."
Aldo tersenyum menepuk bahu Reihan. "Thank you ya, bro. Gue pegang omongan lo."
Reihan sudah tidak peduli lagi dengan Nadia semenjak Nadia menuduhnya yang bukan-bukan.
Sore tiba, Audy melanjutkan aktifitasnya berolah raga. Kali ini dia mulai mengakat barbel seberat lima kilo gram. Audy begitu bersemangat, dia ingin menjawab tantangan dari Reihan.
Nadia yang melihat pemandangan yang tidak biasa dari kakaknya itu ikut menyemangati.
"Kak Audy ...! Ayo lanjut, Kakak pasti bisa!" teriak Nadia dari jendela kamar.
Audy tersenyum simpul melihat Nadia. "Ajarin Kakak dong, Supaya bisa cepat kurus."
__ADS_1
Nadia segera berlari menghampiri Audy seolah melupakan kejadian tadi siang bersama Aldo.
"Caranya gini, Kak. Kalau angkat barbel. Kaki kiri kedepan agak di tekuk kaki kanan ke belakang sebagai tumpuan. Tarik napas keluarkan keluarkan dari mulut." Nadia memberi pelatihan kepada Audy.
Audy mencobanya, tenyata memang lebih ringan dari pada gerakannya tadi.
"Pelan-pelan, jangan terlalu cepat. Atur napas," ucap Nadia.
Sepuluh menit berlatih Audy mulai lelah. Audy dan Nadia duduk di teras rumah sambil minum air mineral.
"Tumben-tumbenan Kak Audy latihan angkat barbel?" tanya Nadia.
Audy terkekeh. "Gue lagi taruhan sama Reihan, kalau gue menang dia bakalan traktir gue di cafeshop langganan kita selama satu bulan."
"Jadi karena itu Kak Audy latihan."
Audy mengangguk.
Mending Kak Audy ngegym bareng nadia saja, nanti juga diajari sama instrukturnya.
"Gak, ah. Mending latihan di rumah saja, Kak Audy malu. Nanti disana malah dibully lagi."
"Gak bakalan, Kak. justru Kak Audy akan dibantu." Nadia mencoba menyakinkan Audy.
"Yakin?"
Nadia mengangguk sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.
Audy tersenyum. "Boleh, deh."
Nadia tersenyum lebar, melakukan tos tangan dengan Audy. "Nah gitu dong."
"Berapa kali seminggu datang ke tempat gym?" tanya Audy.
"Seminggu tiga kali, nanti kesana bareng sama Nadia."
Reihan yang dari cafeshop melintas di depan rumah Audy.
"Tadi yang lewat rumah Reihan ya?"
"Bukan ah," jawab Nadia.
"Kakak yakin itu Reihan." Audy berjalan keluar pintu pagar memastikan. Namun, tidak Reihan sudah jauh.
"Kak Audy ini suka ya sama Reihan?" tanya Nadia.
Audy tersentak. "Ya gak lah! Gila apa Kakak suka sama Reihan."
"Kalau suka juga gak pa-pa sih, Kak."
Audy memicingkan mata. "Bukanya kemarin kamu benci banget ya ngelihat Reihan, sekarang kok malah mendukung Kakak sama Reihan."
Nadia terbelalak, "Na-Nadia sudah memaafkan Reihan." Nadia tersenyum nyengir sambil meminum air mineral yang ada di meja.
"Kamu yakin," ucap Audy dengan wajah menyelidik.
Nadia mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Nadia mau ke kamar, mau ngerjain tugas kampus."
Nadia tidak mungkin mengatakan kepada Audy, Kalau penyebab dia tidak marah dengan Reihan karena Aldo tadi siang hendak berbuat kurang ajar.
__ADS_1
Besambung ...