
pagi hari Audy sudah bersiap untk melakukan camping lengkap dengan seragam perhutani bewarna hijau dan bando yang melingkar di kepalanya. Reihan sudah menunggu di luar. Mereka berdua menuju kantor perhutani untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.
Para penjaga hutan itu menaiki truk untk mencapai tempat tujuan. Sepanjang perjalanan terlihat banyak sekali hutan gundul habis di tebangi. Audy dan kawan-kawan merasa prihatin dengan apa yang dilihatnya.
Selama satu jam perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ada sepuluh orang yang ikut serta, tiga perempuan tujuh laki-laki. Mereka mendirikan empat tenda. Ketua tim perhutani menyuruh berkumpul untuk melakukan breifing.
"Baik teman-teman kita di sini kurang lebih selama tiga hari. Jadi kita manfaatkan kegiatan ini sebaik-baiknya."
Semua anggota serentak berkata siap. Mereka kembali ke tendanya masing-masing untuk beristirahat sejenak.
Audy dan dua teman perempuan berada di tenda yang paling besar. Sedangkan yang laki-laki satu tenda untuk dua orang dan ketua tim berada di tenda yang paling kecil.
Audy dan dua temannya istirahat sejenak. Reihan duduk di depan tenda dengan temannya meminum kopi sambil menikmati pandangan alam yang terhampar luas.
Sore yang cerah tiba, para pecinta alam berbaris untuk mendengar intruksi dari pimpinan.
"Baiklah, di sore yang cerah ini, kita mulai kegiatan pertama. Kita akan menanam bibit beringin. Masing-masing akan di bagi menjadi lima kelompok," ucap ketua tim.
Lima kelompok berpencar, Audy dan Reihan memilih untuk bekerja sama karena sudah tau satu sama lain. Audy dan Reihan turun menuju bukit yang gundul. Terlihat bekas tanaman di tebang begitu banyaknya. Ini bisa menyebabkan longsor, banjir dan wabah penyakit kalau tidak segera ditanam pohon.
"Para banget ya, sampai gundul kayak gini. Memangnya warga di sekitar sini gak ada yang melaporkannya, atau minimal memperingatkan para penebang liar itu," ucap Audy kesal.
"Warga di sini bukannya gak mau bertindak, tapi mereka kebanyakan takut kalau di ancam para penebang liar itu," jawab Reihan.
"Kalau takut kenapa tidak lapor polisi saja?"
"Lo kayak gak tau hukum di negeri ini saja, tajam ke atas tumpul ke bawah. Mungkin mereka takut berurusan dengan para penebang liar itu."
"Sumpah gue sebel banget liat kondisi hutan kayak gini," ucap Audy.
"Sudah gak usah menyalahkan siapapun. Yang terpenting kita lakukan apa yang bisa di kerjakan," ucap Reihan sambil menanam bibit beringin.
"Emang lo bisa apa?" tanya Audy meremehkan Reihan.
"Menanam, ini yang bisa kita lakukan."
Audy tersenyum kepada Reihan. "Sekian lama gue temenan sama lo. Gue baru lihat sisi bijak lo hari ini."
Reihan tersenyum, lalu menarik topi payung yang di kenakan Audy hingga tertunduk. Audy memajukan bibir memperbaiki kembali topinya.
Mereka menanam bibit hingga lembayung senja Berwarna keemasan menyapa mereka berdua. Audy dan Reihan menepuk telapak tangannya. Pekerjaan sudah selesai.
Malam harinya tim perhutani berkumpul melingkar di tengah api unggun. Ada pemberitahuan dari ketus tim.
"Besok akan ada adik-adik SMA kita yang akan berkemah di sini. Kalian bisa memberikan ilmu yang kalian tau tentang pentingnya menanam kepada mereka."
__ADS_1
"ilmu apa ketua?" tanya salah satu teman.
"Apa saja yang kalian bisa. Ajak mereka ikut menanam pohon. Jadikan kegiatan menanam pohon menyenangkan untuk mereka."
"Siap!" Serentak berkata.
...***...
pagi harinya, terlihat rombongan anak SMA Datang menggunakan mobil truk. Sangat riuh dan juga ramai. Relawan perhutani ikut membantu menurunkan barang dan mengajarkan kepada mereka membuat tenda.
Setelah selesai mereka kembali melakukan kegiatan sosial memberi penyuluhan kepada warga sekitar tentang pentingnya merawat alam.
Reihan dan Audy begitu senang dengan kegiatan hari ini. Mereka berdua senang bisa membantu warga sekitar.
"Kita cari makan dulu yuk, Rei?" pinta Audy.
Reihan mengangguk. Mereka berdua makan di sebuah warung tenda terdekat.
"Bu, pesan nasi sama ayam tiga ya," ucap Audy kepada penjaga warung.
"Lho, kok tiga?" tanya Reihan.
"Gue lapar banget, satu mah kurang," jawab Audy.
Audy tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya. Mereka duduk lesehan saling berhadapan satu meja.
pesanan sudah datang, Audy tidak sabar untuk mencicipinya. Reihan menepuk tangannya saat Audy mau mengambil lauk dari tangannya.
"Cuci tangan dulu, berdoa baru makan."
Audy berdecak, menuruti ucapan Reihan.
Setelah selesai makan siang, Mereka berdua kembali ke tenda. Disana terlihat ada Nadia yang sedang asyik bercengkrama dengan kakak pembina.
Audy memanggil Nadia dari kejauhan. Nadia menoleh, tersenyum, lalu menghampiri Kakaknya.
"Lo di sini?" tanya Audy riang.
Nadia mengangguk. "Gue diundang untuk mengisi acara nanti malam."
"Wah ... keren banget," ucap Audy.
"Gue ke tenda dulu ya " ucap Reihan.
Audy mengangguk. "Nanti kalau ada kegiatan kabarin ya, Rei?"
__ADS_1
Reihan berjalan membelakangi Audy sambil mengacungkan jempolnya.
Beberapa siswi SMA mendekati Nadia dan Audy.
"Kak Nadia Fiorentina ya?" tanya salah satu siswi SMA itu.
Nadia mengangguk.
"Boleh minta tanda tangannya gak, aku selalu mengikuti konten Kakak." Siswi SMA itu meyodorkan pulpen dan kaos.
"Boleh." Nadia memberi tanda tangan kepada siswi itu.
Audy sedikit menjauh dari Nadia, rasa minder kembali muncul. Namun, Audy berusaha untuk melawannya.
Reihan memanggil Audy untuk berkumpul.
"Nad, gue kesana dulu ya."
"Iya, Kak." Nadia masih sibuk melayani siswi SMA itu.
Audy segera menuju tempat Reihan. Mereka berbaris dua shaf dengan sikap yang sempurna hendak mendengarkan arahan dari ketua.
"Sore ini kita akan mencoba menanam lagi dibukit sebelah sana." ketua tim menunjuk bukit gundul yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka mendirikan tenda. "Kata warga di sana sering longsor karena pohon-pohonnya di tebangi," lanjutnya.
"Bagaimana cara kita sampai di sana, Ketua?" tanya Reihan.
"Kita naik truk yang mengangkut anak SMA tadi," jawab Ketua.
"Siap," serentak berkata.
Relawan perhutani mulai mempersiapkan peralatan yang ada, mulai dari Bibit pohon, tali, dan tongkat untuk menaiki bukit. Mereka berangkat menuju tempat tujuan.
Para warga juga bersedia membantu sebisanya.
Mereka tidak berani ikut campur karena takut di tuduh pencuri pohon. Pada kasus sebelumnya warga yang hendak menegur penebang liar justru di tuduh sebagai pencuri hanya karena mereka pernah mencari kayu di sana.
Namun, dengan adanya relawan perhutani, mereka tidak takut lagi karena ada yang melindungi.
Para warga dan relawan bahu membahu menanam pohon. kondisi bukit memang memprihatinkan banyak sekali pohon-pohon habis ditebangi.
butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat bukit ini hijau kembali.
"Bapak-bapak bibit sudah ditanam semua. Jika melihat penebang liar bisa menghubungi nomor kantor perhutani. Nanti kami akan menindak tegas orang-orang yang ingin merusak alam kita."
Bersambung...
__ADS_1