Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Kesedihan Audy.


__ADS_3

Reihan menatap pelayan Resto itu dengan mata tajam, lalu berjalan menghampiri Audy.


"Audy lo jangan mau sama pria ini, dia itu penipu!" ucap Reihan dengan mata memerah.


"Reihan." Audy terkejut melihat Reihan ada di sini. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan melihat orang sekitar.


"Maksud lo apa!" Ryan berdiri menatap tajam Reihan.


"Rei, mending lo keluar deh. Gak enak di lihat orang," ucap Audy.


"Lo ngusir gue, Dy. Gue repot-repot kesini buat lo, Dy." Reihan berbicara dengan nada bergetar.


"Bukan gitu, Rei."


Beberapa menit kemudian dua petugas keamanan menyeret Reihan keluar. Reihan berteriak memanggil nama Audy, tapi Audy hanya bisa melihat Reihan sambil menutup mulutnya. Audy tidak tega melihat sahabat di usir seperti itu.


Audy hendak menghampiri Reihan, tapi Ryan mencengkram lengan Audy. Ryan menggeleng menatap Audy lekat seolah mengisyaratkan jangan di kejar.


"Audy lo harus percaya sama gue!" Reihan masih berteriak menyakinkan Audy.


Levi membawa Reihan menjauh dari Audy. Reihan berontak ingin kembali ke tempat Audy, tapi Levi terus memegangnya kuat.


"Gue harus balik kesana, Lev?" Reihan terus meraung.


"Ngapain lo balik kesana. Lo malah mempermalukan diri lo sendiri." Levi berusaha menahan Reihan sampai kacamata bulatnya terjatuh dan terinjak kakinya sendiri. Pandangan matanya mulai buram tanpa kacamata itu. Dengan tangan meraba Levi mengambil kacamata itu.


Reihan berlari kembali menghampiri Audy. Dengan penglihatan buram, Levi memanggil Reihan untuk kembali. Namun, Reihan tidak mempedulikan ucapan Levi. Levi kembali meraba mengambil kacamatanya yang sudah remuk. Levi harus menunggu di tempat karena tanpa kacamata Levi tidak bisa melihat dengan jelas.


Audy terlihat cek-cok dengan Ryan, tiba-tiba Reihan dari arah depan memukul wajah Ryan hingga terjatuh di lantai. Audy segera menolong Ryan.


"Lo apa-apaan sih!" pekik Audy.


"Lo jangan percaya dengan pria ini!"


Audy langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Reihan. "Lo tu kenapa sih. Cemburu!"


Reihan menatap Audy tajam. "Gue gak mau lo disakitin pria kayak dia."


"Pergi lo! Gue sudah jadian sama Ryan!" Audy spontan berkata seperti itu.


Reihan terdiam, matanya kosong menatap ke depan. Seketika itu hatinya terasa hancur. Audy dengan jelas di depan Reihan mendeklarasikan hubungannya dengan Ryan. Dengan ujung bibir yang berdarah, Ryan tersenyum sinis di belakang Audy.


Reihan masih mematung, kembali dua orang penjaga keamanan menarik Reihan menjauh dari Audy dan Ryan. Kali ini Reihan terlihat pasrah. Sudah tidak ada lagi yang di perjuangkan Reihan.

__ADS_1


Levi tanpa kacamata minusnya, berjalan di bantu seorang cleaning service menemui Reihan.


"Tunggu, Pak!" panggil Levi saat Penjaga hendak membawa Reihan ke ruang keamanan.


Dua penjaga itu menoleh


Levi dibantu cleaning service menghampiri Reihan. "Dia teman saya, Pak?"


"Teman kamu ini telah membuat ulah, kami harus membawanya ke ruangan security."


Levi lalu menjelaskan kepada security itu kenapa Reihan bisa lepas kendali. Levi menceritakan apa adanya. Penjaga keamanan bisa memakluminya, Reihan tidak perlu di dihukum. Reihan masih terlihat seperti orang bingung. Sedangkan Levi tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata.


Dua penjaga itu menuntun Levi dan Reihan keluar.


"Rei, sadar." Reihan mulai sadar seiring kebisingan lalu lintas di jalan.


"Maafin gue, Lev. Gara-gara gue kacamata lo pecah.


"Sudah santai saja yang penting lo gak kenapa-kenapa."


Reihan tersenyum tipis menatap Levi.


"Ya sudah gue pulang dulu ya, lo bisa 'kan pulang sendiri?" tanya Levi.


"Yakin lo?"


Reihan mengangguk.


"Kalau gitu gue tunggu di sini ya," ucap Levi.


Reihan segera menuju parkiran mengambil sepeda motor vespanya. Levi naik di belakang nya teridur bersandarkan punggung Reihan.


Di tempat lain, Audy merasa menyesal berkata kalau dia sudah jadian dengan Ryan. Audy duduk di samping Ryan, tatapannya kosong menatap kaca mobil. Ryan dan Audy saling diam sampai mobil alpard warna hitam berhenti di depan rumah Audy. Ryan membuyarkan lamunan Audy.


"Maaf kalau malam ini membuatmu tidak nyaman," ucap Ryan.


Audy tersenyum tipis menatap Ryan. "Makasih untuk malam ini, lo gak salah buat apa minta maaf."


Suasana lengang sejenak, hanya ada bunyi siulan angin malam yang menyayat hati. Audy turun dari mobil, lalu melihat belakang mobil Ryan yang menghilang saat berbelok.


Dari belakang, terdengar suara bising motor Reihan, cahaya lampunya menyilaukan mata Audy. Reihan turun dari vespanya menghampiri Audy.


"Rei, lo ..."

__ADS_1


"Lo menang." Reihan langsung memotong pembicaraan Audy.


"Maksud lo?" Audy memicingkan matanya.


"Mulai hari ini gue gak bisa lagi ketawa-ketiwi sama lo."


Audy terdiam, menunduk.


"Gue salah!"


Kali ini Audy menatap Reihan.


"Gue harusnya tau diri. Gue gak pantes jatuh cinta sama lo. Sampai gue harus mempermalukan diri sendiri." Reihan terlihat emosi.


"Gak gitu, Rei?" Audy menangis.


"Gue sadar kalau lo sudah menjadi tuan putri yang di gilai para lelaki. Gue doain semoga lo bahagia." Reihan dengan amarah meninggalkan Audy yang menangis di depan rumahnya.


"Reihan lo salah paham ...!" Teriak Audy sambil tersedu.


Malam yang kelam bagi Audy dan Reihan. Malam itu langit tampak tidak bersahabat tanpa bintang. Audy terlihat letih, terjatuh dengan posisi terduduk. Audy tidak percaya persahabatannya dengan Reihan akan berakhir.


Hari-hari berikutnya, semuanya berjalan seperti biasa. Nadia dan Aldo semakin mesra. Mamanya selalu menyapa Audy dengan hangat. Ryan yang setiap hari selalu menjemputnya tepat waktu.


Namun, saat di kampus, Audy merasa sendiri. Reihan seolah sudah tidak peduli dengan Audy. Levi yang biasanya selalu menyapa dengan riuh kini hanya berlalu saja saat melihatnya. Audy rindu dengan suara motor vespa Reihan. Audy juga Rindu dengan tingkah konyolnya Levi yang selalu membuat Audy kesal sekaligus ingin tertawa.


Audy rindu pergi camping dengan teman-teman perhutani. Membantu banyak orang yang membutuhkan. Setiap hari Audy duduk sendiri, makan sendiri di kampus. Tiap hari hanya ada beberapa pria genit yang ingin mencari perhatian Audy. Mereka semua tidak asyik, hanya membuat Audy semakin bersalah kepada Reihan.


Nadia menghampiri Audy yang duduk termenung di taman siswa.


"Lo, Nad? Suami lo mana?" tanya Audy.


"Lagi ada jam kuliah," jawab Nadia duduk di sebelah Audy.


Audy melihat ke arah perut Nadia yang semakin membesar. Audy bahkan tidak menyadari kalau perut Nadia sudah semakin besar.


"Lo ada masalah, Kak?" tanya Nadia.


"Gak ada, biasa saja."


"Nadia lihatin akhir-akhir ini kakak sering menyendiri? Biasanya juga bercanda sama Reihan dan Levi."


Audy menelan ludah, lalu merapikan rambutnya yang tertiup angin. "Gak pa-pa kok, Nad?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2