Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Audy Pingsan.


__ADS_3

siang harinya seusai jam kelas, Levi dan Audy mencari Reihan. Mereka berdua sudah mencari di sekitaran kampus, tapi Reihan tidak ada.


"Kemana sih tu anak. Tumben-tumbenan siang gini Reihan gak ada di kampus," ucap Audy


"Sembunyi kali," ucap Levi.


"Mana cuacanya terik banget lagi." Audy menyeka dahinya yang berkeringat.


"Makan dulu yuk! Lapar nie gue," ajak Levi.


"Gue lagi diet, entar aja makannya setelah kita berhasil membuat perhitungan sama Reihan," balas Audy.


Levi tidak bisa untuk tidak tertawa. Dia tertawa lepas sampai perutnya terasa kaku. Audy melotot sambil bertolak pinggang menatap Levi.


"Apa lo, mau ngledek?"


"Gue gak percaya lo bisa kurus" Levi kembali tertawa.


Audy kesal, menepuk punggung Levi hampir dia jatuh ke tanah.


"Aduh ... gila lo ya. pikir-pikir dong kalau mau nepuk pungung orang?" cibir Levi.


"Halah ... baru juga di tepuk pelan sudah jatuh," balas Audy.


"Badan gue 'kan kurus. Beda sama badan lo yang kayak ..."


"Apa ...! Lo mau ngomong apa. Lo mau bilang kalau badan gue kayak gajah, badak." Audy mendelik sambil menyingkap lengan panjangnya.


"Kagak ... gak jadi. Mending kita cari Reihan sajalah. Dari pada berdebat mulu."Levi akhirnya mengalah, dia mengikuti perintah Audy.


"Kita cari di taman, biasanya jam segini dia ada disana."


Mereka berdua menuju taman siswa. Mereka mencari di sekitaran taman, tetap tidak ada Reihan.


"Duduk dulu deh, capek gue seharian jalan," ucap Levi.


Audy menonyor kepala Levi. "Baru juga sejam, ngomong lo kayak apa saja."


"Iya ... tapi rasanya kayak seharian."


"ya udah deh. Kita Istirahat lima belas menit," ucap Audy


Audy dan Levi duduk di kursi taman di bawah pohon mangga yang besar.


Tiba-tiba seseorang menaruh ular karet di pundak Audy. Itu adalah Reihan sengaja bersembunyi di balik pohon rindang. Audy yang memang takut dengan ular berteriak histeris hingga membuat Levi terjatuh dari tempat duduknya.


"Lo kenapa sih!" hardik Levi.


"Ada ular." Audy bergidik geli."


Levi melihat serta mengamati ular itu. "Hey ... ini cuma ular mainan."


"Mainan?" Audy teringat Reihan. "Dia ada di sini! Itu ular mainan yang kemarin buat ngerjain gue!"

__ADS_1


Levi dengan sigap menoleh ke kiri ke kanan depan dan belakang. Tidak ada Reihan.


"Mana?"


Audy mulai tau dimana Reihan bersembunyi, dia memberi kode kepada Levi untuk menyergap Reihan dari balik pohon mangga itu. Levi dan Audy mengendap hendak mengagetkan Reihan.


Namun, Reihan tidak Ada di balik pohon. Levi menundukan kepala sambil menggelengkannya. Audy sudah kelelahan, dia bertolak pinggang sambil mendongak ke atas. Audy tersenyum lebar saat tau Reihan ternyata ada di atas pohon.


"Reihan! Mau kemana lo sekarang."


Levi ikut mendongak ke atas, terkejut melihat Reihan bisa memanjat sampai di ujung pohon. Reihan tersenyum nyengir, dia tidak bisa lari lagi. Mau melompat terlalu tinggi untuknya.


Audy mengambil rambutan dari dalam tasnya, lalu satu per satu buah itu di lempar ke arah Reihan.


"Rasain lo, ini pembalasan dari gue."


"Jangan, Dy. Gue geli audy sama rambutan!" teriak Reihan.


Audy tidak peduli, dia dan Levi terus melempar rambutan. Reihan pun sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya merasa lemas, matanya mulai berkunang-kunang. Reihan tidak bisa menjaga keseimbangan, dia terjatuh menimpa Audy.


Audy yang seperti terkena hantaman keras pingsan dan kepalanya mengeluarkan darah. Sedangkan Reihan hanya sakit di pinggang.


"Audy, bangun. Lo gak pa-pa, kan?" Reihan terlihat khawatir.


Audy belum sadarkan diri.


"Lev! Bantuan dong! Jangan diem saja!" pekik Reihan.


Levi segera membantu. Namun, apa daya Levi tidak kuat mengangkat tubuh besar Audy.


"Ya udah cepet cari bantuan!" perintah Reihan.


Levi segera mencari beberapa mahasiswa untuk membawa Audy ke ruang Kesehatan. Audy mulai mendapatkan perawatan.


"Ada minyak angin gak?" tanya Reihan kepada Levi.


"Ada." Levi merogoh tasnya, lalu memberi minyak Angin kepada Reihan.


Reihan membuka tutup minyak angin itu, lalu mendekatkannya di lubang hidung Audy. Beberapa menit kemudian Audy tersadar, kepalanya rasanya pusing.


"Dimana gue?" tanya Audy sambil memegang kepalanya.


"Lo di ruang kesehatan, tadi lo pingsan," jawab Reihan.


Audy berdecak menunduk, kondisinya masih lemah.


"Lev, beli teh manis hangat," ucap Reihan.


Levi mengangguk segera dia berlari menuju kantin. Reihan mencopot bando yang melingkar di kepala Audy supaya mendapat asupan udara lebih banyak. Rambut audy terlihat indah bergelombang.


Reihan tersenyum menatap Audy. "Lo kalau kayak gini cantik juga ya."


"Apaan sih, Rei? Gue masih lemes nie. Jangan digombalin dulu." Audy mencoba menepis rayuan Reihan, tapi wajahnya terlihat bersemu merah.

__ADS_1


Tak berselang lama Levi datang membawa teh hangat, lalu menberikannya kepada Reihan.


"Minum dulu, Dy. Biar tubuh lo gak lemes lagi." Reihan membantu menyandarkan tubuh Audy, lalu memberikan gelas teh hangat untuk Audy.


"Gue pergi dulu ya. Ada urusan nie sama bos Aldo," pamit Levi.


Audy mengangguk. Kini hanya Audy dan Reihan bedua di ruangan 4x4 berwarna putih. Audy berpikir ini saat yang tepat mengerjai Reihan.


"Pijitin kaki gue dong, Rei. Lemes banget rasanya," ucap Audy.


Reihan pun mengiyakan ucapan Audy. Reihan memijat telapak kaki Audy.


Tak berselang lama Nadia datang melihat Reihan sedang memijat kaki Audy.


"Kak Audy." Suasana lengang sesaat.


Audy tersenyum melihat Nadia, lalu menyurhnya masuk.


"Kak Audy gak pa2, kan?" tanya Nadia khawatir.


"Gak pa-pa. cuma pusing saja."


"Gue baru dikasih tau Levi kalau Kak Audy tertimpa tubuh Reihan dari atas pohon," ucap Nadia.


"Tadi gue kehilangan keseimbangan saja," sahut Reihan.


"Diam lo! Gara-gara lo Kakak gue pingsan," hardik Nadia.


"Gue gak sengaja. Lagian Kakak lo ngelempar buah rambutan ke arah gue."


"Jadi lo mau nyalahin Kak Audy!"


"Sudah-sudah kok malah berantem sih!" sahut Audy.


Nadia dan Reihan terdiam. Reihan terlihat kesal mengambil tas punggungnya, lalu keluar ruangan. Nadia meruncingkan bibirnya meledek Reihan.


"Reihan itu gak salah, Nad. Tadi Kakak itu pengen ngerjain Reihan. Cuma gagal, malah kakak sendiri yang kena batunya," jelas Audy.


Nadia berdecak. "Tetap saja, Kak. Dia yang menybabkan Kak Audy pingsan."


"Kakak gak pa-pa kok, bentar lagi juga sembuh."


"Kakak kok belain Reihan terus sih. Kakak suka ya sama Reihan?"


"Gak tau lah, Nad." Audy berkata spontan.


Nadia membulatkan mata melihat Audy.


"Ma-maksudnya, Kakak itu cuman nganggap Reihan teman saja gitu," ucap Audy nyengir.


Nadia menaik-turunkan kepalanya. "Kirain Kak Audy beneran suka sama Reihan."


Audy tersenyum nyengir. Namun dalam hatinya, Audy selalu memikirkan Reihan. Apa Audy benar-benar suka sama Reihan?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2