Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Panas.


__ADS_3

Audy mulai nyaman ngobrol dengan Ryan. Ryan mengajak Audy di salah satu restoran mahal yang ada di Jakarta. Ryan yang seorang pengusaha tentu tidak sulit untuk membayar harga makanan di restoran yang semuanya berwarna putih itu.


"Lo mau makan apa?" tanya Ryan yang duduk satu meja disamping Audy.


"Sefood saja," jawab Audy saat melihat menu makanannya.


Ryan juga memesan menu yang sama dengan Audy. Seorang pelayan kembali menyebut pesanan mereka, lalu dengan senyum ramah pelayan itu pergi menuju dapur.


"Lo suka makanan laut juga?" Tanya Audy.


Ryan mengangguk. "Suka. Lebih tepatnya kerang. Waktu kecil gue tinggal di tepi pantai. Setiap hari Mama selalu membeli kerang karena kalau gak ada kerang, gue gak bisa makan."


Audy terkekeh. "Kok bisa?"


Ryan mengangkat bahunya. "Entahlah."


Pelayan restoran datang membawakan pesanan makanan berbagai jenis seefod terhidang di meja yang berbentuk persegi panjang. Audy mengambil pisau potong dan garpu, mengambil lobster, lalu menaruh di piringnya.


"Lo suka lobster?" tanya Ryan.


Audy menggeleng sambil memakan potongan lobster. "Gue suka semua makanan. Waktu berat badan gue 85 kg, semua makanan masuk ke dalam perut gue."


Ryan terkekeh sambil kedua tangannya memegang sendok dan garpu.


"Dulu gue jadi bahan bullyan di kampus, apalgi gue punya adik cantik kayak Nadia. Gue selalu dibandingin dan punya julukan si cantik dan si gendut," ucap Audy.


Ryan kembali terkekeh. "Kalau dengan penampilan lo sekarang, gimana?"


"Gue buat diam para pria yang ngebully gue. Bahkan, banyak yang minta no hp gue."


Reihan tertawa. "Lo memang keren."


Audy tersenyum, lalu melanjutkan acara makannya.


Setelah selesai makan, Ryan mengucapkan terima kasih kepada Audy karena telah menemaninya makan.


"Justru gue yang berterima kasih, baru kenal dua hari sudah ditraktir makan."


"Lo tu gokil ya," ucap Ryan yang sedang menyetir.


Audy tertawa.


Ryan mengantarkan Audy sampai di depan rumah. Audy mengucapkan terima kasih kepada Ryan. Namun sebelum Audy keluar, Ryan memegang punggung tangan Audy menatapnya lekat. Audy terkaget menoleh menatap Ryan.


"Besok gue antar ya," ucap Ryan lirih.


Audy menyunggingkan senyum, lalu mengangguk.

__ADS_1


Di pelataran rumah, ada Aldo dan Nadia yang duduk sehabis olahraga.


"Cieee ... Kak Audy. Diantar sama siapa tu?" goda Nadia.


"Dia lagi pdkt sama Ryan," sahut Aldo.


"Kalian ini apaan sih. Gak baik ngecengin kakak," balas Audy yang langsung berlari menuju kamarnya.


Nadia dan Aldo tertawa. Nadia langsung bermuka masam saat melihat Aldo tertawa, lalu dia mamalingkan wajahnya tersenyum senang.


Audy yang berada dikamar tidak tau kalau Reihan sedari tadi menelponnya. Sedari tadi hp Audy di silent, baru ini membukanya lagi. Audy menelpone balik Reihan.


"📲"Halo, Reihan."


📲"Halo."


📲"Lo nelpon gue sampai sebanyak itu memang ada apa?"


📲" Gak pa-pa? Cuma khawatir saja. Lo sudah pulang?"


📲"Sudah."


Reihan mematikan panggilan secara sepihak. Audy kesal mengomel di dalam kamar karena Reihan mematikan panggilannya. Audy tau Reihan cemburu kepada Ryan.


Kini keadaan berbalik. Dulu Audy yang mengejar cintanya Reihan. Kini giliran Reihan yang sakit hati karena ulahnya. Audy bergegas membersihkan diri.


Suara pintu terdengar dari kamar Audy. Ayu memintanya untuk makan malam.


"Sama siapa?"


"Sama temen," jawab Audy.


"Sama gebetan barunya, Ma."Sahut Nadia dari lantai bawah.


"Jangan didengerin, Ma."


"Iya ... kalau kamu lapar ke bawah saja."


Audy mengangguk.


...***...


Di tempat lain, Reihan terbaring di kamarnya yang berukuran 4x4 meter sambil manyandarkan kedua tangannya di kepala. Reihan tidak henti memikirkan Audy dan pemilik cafeshop itu. Baru dua hari bertemu dengan pria maskulin itu, Audy mulai menjauhi Reihan.


Reihan semakin yakin kalau dia mencintai Audy. Dia berencana untuk menjauhkan Ryan dengan Audy. Namun, Reihan tidak tau caranya. Di tengah rasa penasarannya, Reihan beranjak dari kamar, lalu mengambil motor vespa berangkat menuju cafeshop milik Ryan.


Cafeshop itu terlihat ramai dengan pengunjung. Reihan duduk di kursi paling pojok sambil melepas jaket jeans nya. Reihan tidak mungkin menyaingi Ryan dalam segi ekonomi. Lihat saja, cafenya saja selalu ramai dengan pengunjung. Reihan hanya unggul dari sisi intensitas waktu saja karena dia sering bertemu Audy di kampus.

__ADS_1


Sudut mata Reihan melihat sosok gadis yang pernah dilihatnya. Itu Amanda, mantan simpanannya Aldo. Reihan segara menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam karena Amanda duduk sendirian di meja sebelah Reihan.


Wajah Amanda terlihat masam sambil mengetikkan jari di hp nya. Reihan mengamati Amanda dengan wajah tertutupnya. Amanda mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Dia tampak marah-marah kepada seseorang yang diajaknya bicara lewat hp.


Reihan mendengar ucapan sayang dan nama Aldo di akhir pembicaraannya. Amanda juga menyuruh Aldo untuk segera menceraikan Nadia. Reihan sudah menduga ada yang tidak beres dengan pembicaraan Amanda.


Reihan segera beranjak pergi, akhirnya Reihan punya bahan untuk berbicara dengan Audy. Reihan hendak mengajak Audy untuk menyelidiki pernikahan Nadia dan Aldo. Bunyi pesan terdengar sari saku celananya. Itu dari Audy, menyuruhnya tidak usah menjemputnya besok.


Reihan marah, memukul kaca spidometer motornya. Pasti besok berangkat bareng dengan Ryan. Tidak apa kali ini Reihan mengalah. Reihan akan berbicara dengan Audy saat berada di kampus.


Esok harinya, Reihan melihat Audy di depan rumahnya sedang bercengkrama akrab dengan Ryan. Reihan tentu saja cemburu, dia hanya bisa membunyikan klakson sebagai tanda Reihan menunggunya di kampus. Reihan tadi pagi sudah mengirim pesan kepada Audy, tapi belum dibaca.


Audy terlihat berjalan masuk kampus, Reihan melihatnya segera dia menghampiri Audy.


"Dy, lo sudah baca pesan dari gue, belum?"


Audy menggeleng. "Belum."


"Pacaran mulu sih," sindir Reihan.


Audy mengambil handphone dari tas cangklungnya.


Audy tersenyum melihat pesan Reihan. "Mau ngomong apa?"


"Ini tentang Nadia?"


Audy memutar manik matanya terlihat jengah. "Sudahlah, Rei. Nadia itu sudah punya suami. Mending lo cari cewek lain. Atau, mau gue cariin."


"Bukan itu."


"Terus apa?"


Reihan mengajak Audy duduk di taman siswa.


"Lo mau bicara apa sih...?"


"Kemarin pas gue main di cafe. Gue denger Amanda nyuruh Aldo untuk menceraikan Nadia," ucap Reihan.


Audy terbelalak, mengubah posisinya. "Apa!"


"Kaget 'kan lo." Reihan terlihat senang.


Namun, Audy langsung merubah raut wajahnya, dia tidak ingin dulu terlalu intens dengan Reihan. Audy ingin mendekati Ryan supaya Reihan tau kalau Audy juga berharga.


Audy mulai betakting. "Biarinlah itu masalah mereka. Gue gak mau ikut campur."


"Lo kok berubah sih, Dy. Biasanya lo marah kalau adik lo disakiti," ucap Reihan heran.

__ADS_1


"Itu dulu, sebelum adik gue nikah?"


Bersambung ...


__ADS_2