
Audy dan Vita sengaja berputar-putar untuk mengerjai Reihan dan Levi. Tubuh Levi yang kurus sudah tidak kuat lagi membawa barang Audy yang berat itu. Dia meletakkan koper yang di panggulnya ke tanah.
"Istirahat dulu deh, perasaan kita dari muter-muter mulu," ucap Levi sambil mengatur napas.
"Baru jalan sebentar saja sudah kecapean," cibir Audy.
"Sebenarnya kost nya dimana sih? Perasan kita cuma muterin gang saja," ucap Reihan.
Audy dan Vita menahan tawa saling menatap. "Sudah gak usah banyak ngeluh, ayo cepetan biar kita bisa cepat istirahat."
Mereka kembali berjalan selama lima belas menit. Audy dan Vita yang puas mengerjai Reihan dan Levi.
"Ini dia tempat kost kita," ucap vita saat sampai di depan bangunan dua lantai yang bentuknya seperti ruko.
"Kalian ngerjain kita ya, bangunan ini 'kan dekat rumahnya pak kepala desa," ucap Reihan kesal.
"Emang. Habisnya kalian berdua gak bisa diandelin." wajah Audy terlihat dingin menatap Reihan.
"Iya betul, disuruh nyari kost malah main di tambak," sahut Vita.
"Kalian tega amat sih, 'kan itu gak sengaja," ucap Levi.
"Anggap saja ini untuk menbus hutang lo berdua sama gue," ucap Audy.
Reihan berdecak kesal, tanpa permisi dia langsung masuk gedung.
"Tu 'kan dia marah," ucap Levi.
"Biarin, dia memang baperan orangnya. Dasar cowok lemah!" balas Audy.
"Sudahlah, ayo masuk," ucap Vita.
Ruangan gedungnya begitu nyaman dan dingin.
"Berapa harga kost di sini?" tanya Levi.
"Dua juta," jawab Vita.
"Hah ... mahal amat!" Levi terkaget.
"Ya standartlah, lo bandingin saja sama Jakarta. Kalau tempatnya nyaman seperti ini mah, minimal lima juta kalee." Audy menimpali.
"Tapi ini 'kan kampung, masak cari kost yang murah dikit gak mau," gerutu Levi.
"Kalau cari kost yang murah, nanti gue mandi lo ngintip lagi," ucap Vita.
Levi hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Temen lo mana?" tanya Audy.
"Si Reihan."
"Iya siapa lagi."
"Iya ya, kemana ya tu bocah."
__ADS_1
"Di ambil kolong wewe kali, kebanyakan ngambek sih tu orang," cibir Audy.
"Tu dia orangnya ... lo kemana saja tadi?" tanya Levi saat Reihan berjalan mendekati Levi.
Reihan tersenyum tipis. "Gue tadi ke toilet sebentar.
Audy tersenyum sinis melihat Reihan.
"Kamar kita yang mana, Vit?" tanya Reihan.
"Nomor sebelas, kita nomor dua belas," jawab Vita.
"Kuncinya mana?" pinta Levi.
"Bayar dulu uang bulanannya," ucap Audy menodongkan tangan.
Levi dan Reihan segera merogoh tasnya.
"Berapa, Lev," bisik Reihan.
"Dua juta, gue cuma punya tiga juta buat ongkos kereta pulang-pergi sejuta. Tinggal sejuta lagi buat tinggal di sini selama sebulan, nanti kalau duit habis gue ngutang sama lo ya," ucap Levi pelan sambil menaik-turunkan alisnya.
Reihan merasa risih dengan ucapan Levi yang terakhir itu.
"Nie." Reihan memberikan uang bulanan kost kepada Audy.
"Oke." Audy memberikan kunci kost kepada Reihan.
"Hari ini kita isirahat, besok baru kita mulai penelitian," ucap Audy.
"Keren nie, bisa tidur nyenyak kalau kayak gini," ucap Levi.
Reihan juga merasakan hal yang sama dengan Levi.
Reihan membuka lemari. "Levi, tempat baju lo yang mana?"
"Yang mana saja."
"Gue yang kiri lo yang kanan." Reihan menata pakaiannya masuk di lemari.
"Sekalian baju gue lo masukin ya," ucap Levi yang masih rebahan menikmati kasur empuknya.
"Enak saja lo, masukin sendiri," ucap Reihan kesal.
Levi beranjak dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju balkon.
"Wihh ... di sini kita bisa lihat pemandangan nie!" seru Levi.
Reihan penasaran menghampiri Levi. "Oiya, itu rumahnya kepala desa."
"Jangan norak deh, di Jakarta kayak gini banyak kali," ucap Audy yang juga sedang berada di balkon sebelah.
Reihan dan Levi terkaget. "Wah, ternyata bisa bicara lewat sini juga."
"Ya iyalah, kita 'kan tetanggaan," ucap Audy.
__ADS_1
"Berarti gue bisa ngintip lo dong," canda Levi.
"Dasar lo otak mesum, gak jauh beda sama bosnya," cibir Audy.
Levi tertawa. "Nama juga satu perguruan."
Audy memencongkan bibir atasnya, merasa ilfil dengan Levi. Reihan hanya terdiam melihat keakraban Levi dan Audy. Sebenarnya Reihan juga ingin akrab kembali dengan Audy. Cuma, dia merasa kalau Audy sudah tidak seperti dulu lagi.
Audy pun masuk ke dalam kamar. Levi tersenyum menatap punggung Audy. Dia seolah membayangkan Audy yang tidak-tidak. Reihan yang melihatnya langsung menonyor kepalanya. Levi pun terperanjat terbangun dari lamunannya.
"Apa sih lo! Ganggu orang lagi ngayal saja," ucap Levi kesal.
"Gue tau apa yang ada di dalam otak lo." Reihan juga ikut kesal dengan Levi.
"Apa coba?"
"Lo lagi ngebayangin Audy yang gak-gak, Kan?"
Levi mengibaskan tangan, lalu berlalu dari hadapan Reihan. "Sok tau lo!"
Esok harinya keempat mahasiswa ini sudah mulai beraktifitas. Keempat Mahasiswa ini ingin membentuk lembaga masyarakat desa supaya usaha tambaknya bisa lebih melimpah.
Pertama, mereka berempat harus meneliti bagaimana petani tambak mengembangbiakan budidaya tambaknya.
Kedua, Bagaimana cara mengolah perawatan supaya hasil budidaya bisa melimpah sehingga petani tambak bisa untung besar.
Ketiga, Mereka berempat ingin membentuk lembaga semisal, koperasi atau LSM di dalam desa untuk menaungi petani tambak.
Tugas mereka tidak mudah, mereka harus menyatukan pola pikir petani tambak supaya misi mereka berhasil.
Reihan meneliti kejernian air dan tingkat keasamaan untuk mengetahui hasil budidaya bisa bertahan sampai masa panen. Audy dan Vita mengumpulkan warga untuk saling mendengarkan keluh kesah sebagai petani tambak.
Sedangkan Levi, bukannya membantu Reihan malah sibuk menangkap udang yang sudah siap panen. Sepertinya dia masih penasaran dengan udang yang kemarin gagal ditangkap.
Sore harinya keempat mahasiswa itu kembali ke kostnya kecuali Levi yang masih berada di tambak.
"Levi mana?" tanya Audy saat mereka berkumpul di depan kost.
"Masih di tambak, dia gak mau di ajak pulang. Katanya mau bantuin pak petani tambak sampai selesai," jawab Reihan.
Audy menghela napas sambil bertolak pinggang. "Gue curiga sama tu bocah."
Reihan pun berpikiran sama dengan Audy.
"Kita masuk saja dulu, nanti kalau Levi pulang baru kita tanya," ucap Vita.
Reihan dan Audy mengangguk. Mereka masuk kamar sambil membersihkan diri. Magrib Levi baru datang dengan pakaian setengah basah.
"Ya ampun, Lo ngapain saja sih, Lev. Lihatin tu lantainya basah kena tetesan baju lo," omel Reihan.
"Sudah gak pa-pa. lagian kita sudah bayar." Levi melepas bajunya segera membersihkan diri.
"Gila lo, Lev!" Reihan terpaksa mengepel lantai bekas tetesan air di pakaiannya Levi.
Bersambung ...
__ADS_1