
Ryan menunggu Aldo di sebrang jalan duduk di sebuah kedai kopi. Hanya ini satu-satunya cara supaya Ryan dapat perlindungan. Ryan tidak ingin mati konyol di tangan Sonia. Dia ingin menceritakan kepada Aldo tentang kecelakaan yang menewaskan ibunya lima belas tahun yang lalu.
Siang berubah menjadi sore, terlihat para mahasiswa keluar dari pintu gerbang. Mata Ryan mengawasi dengan seksama saat Aldo menaiki motor maticnya. Dengan menepuk punggung tukang ojeg, Ryan diam-diam mengikuti Aldo.
Lima menit berselang. Aldo memarkirkan motornya di sebuah tempat kost kecilnya. Ryan turun dari tempat boncengannya, lalu menghampiri Aldo.
"Aldo!" Panggil Ryan.
Aldo menoleh, dia terkejut saat Ryan ada di depannya. Matanya memerah seolah ingin menerkam Ryan. Dengan amarah, Aldo mencengkram kaos Ryan.
"Mau apa lo ke sini." Aldo memojokan Ryan ke tembok bersiap untuk memukulnya.
"Te-tenang, Do. Gue ke sini cuma ingin ngomong penting sama lo."
"Gue gak sudi omong sama orang kayak lo," ucap Aldo garang.
"I-ini berhubungan dengan kematian ibu lo lima belas tahun yang lalu," ucap Ryan dengan napas mengempis.
Aldo terlihat melunak. "Maksud lo apa!"
"Lepasin gue dulu, gue bisa ceritain ke lo. Gu-gue sekarang tidak bekerja lagi sama Sonia. Kali ini gue terus terang sama lo," ucap Ryan.
Aldo pun melepas cengkeramannya. Ryan terengah membungkukan badan mengatur napasnya. Untung saja hari ini kost terlihat sepi. Bapak pemilik kost yang biasanya duduk di teras rumah juga tidak ada. Aldo mengajak Ryan masuk supaya lebih cair mendengarkan cerita.
"Sory kalau selama ini gue khianatin lo. Gue baru sadar ternyata Sonia itu sakit," ucap Ryan.
"Gak usah basa-basi. cepet ngomong apa yang lo tau tentang ibu gue," hardik Aldo.
"Tadi gue denger Sonia berbicara tentang Kinanti ibu lo. Dia sebenarnya dendam sama bokap lo karena dulu cintanya bertepuk sebelah tangan gara-gara bokap lo lebih milih ibu lo yang saat itu punya anak berumur dua tahun yaitu lo. Ibu lo meninggal bukan karena kecelakaan tunggal, tapi karena ulah Sonia."
Wajah Aldo sangat serius mendengarkan cerita Ryan. Tangannya mengepal kuat hingga terlihat otot di sekitar tangan itu.
"Sonia menyuruh orang untuk memutus kabel rem mobil sehingga mobil yang dikendarai ibu lo menabarak pembatas jalan yang mengakibatkan ibu lo meninggal," jelas Ryan.
"Brengsek!" Aldo begitu marah, dia keluar dari kamar kost, tapi Ryan menahan tangan Aldo sekuat tenaga.
"Lo mau kemana? Jangan terbawa emosi."
"Gue mau bunuh perempuan itu. Dia harus membayar kematian nyokap gue!" Aldo mengerang.
"Jangan bodoh, kalau lo ke sana lo yang bakal ketangkep sama Sonia. Mending lo atur rencana, mencari bukti kalau ibu lo dibunuh."
Aldo berontak melepas cakalan tangan Ryan. Dia duduk di bibir pintu menangis menelingkupkan tubuhnya. Ryan berusaha menenangkan Aldo.
__ADS_1
"Gue bakal bantu lo, Do."
"Pergi lo! Gue gak butuh bantuan lo!" Aldo mendorong Ryan sampai terjatuh.
Ryan dengan mata sembab pergi meninggalkan Aldo. Seketika itu Aldo tersadar kalau dia butuh bantuan Ryan. Namun, Aldo masih tak kuasa mendengar cerita dari Ryan. Aldo pun menenangkan diri dahulu, nanti malam baru dia mencari Ryan.
Aldo baru sadar penampilan Ryan tampak berbeda, dia hanya memakai celana kolor dan kaos yang sudah lusuh. Kemana baju mahal yang biasa dia pakai?
...***...
Malam harinya Aldo mencari Ryan di sekitar jalan utama. Banyak kendaraan yang membisingkan telinga. Macet Ibu Kota tak terkendali di jam pulang kerja. Aldo mencari ke segala arah menaiki motor secara perlahan, tapi tak kunjung menemukan Ryan.
Malam semakin larut, jalanan Ibu Kota mulai sepi. Aldo memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, Aldo melihat seorang yang berjalan memakai kaos dan celana kolor mirip Ryan saat dia datang ke kostnya.
Aldo menghampiri orang itu. "Ryan."
Orang itu menoleh.
"Ayo naik," ucap Aldo.
Ryan menatap Aldo sesaat, matanya sembab. Tanpa ragu dia duduk di belakang Aldo.
"Sory ya, tadi gue emosi." Aldo berusaha mengalahkan suara angin.
"Kita saling memaafkan." Aldo tersenyum tipis sambil mempercepat laju kendaraannya.
Sesampainya di kost, Ryan begitu lahap makannya. Ryan terlihat kelaparan, dengan cepat dia menghabiskan nasi bungkus yang dibelikan Aldo di warung pinggir jalan.
"Baju lo kemana?" tanya Aldo.
"Gue jual buat makan siang sama bayar tukang ojeg tadi sore," jawab Ryan.
"Lo tidur di sini saja."
Ryan tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih kepada Aldo.
Pagi harinya di hari minggu, Aldo mengajak Ryan pergi ke makam ibunya. Taburan bunga menghiasi pusara ibu Aldo. Ryan berjanji memegang nisan untuk membantu Aldo memenjarakan Sonia.
"Kita ke rumah papa," ucap Aldo
Ryan mengangguk.
Sesampainya di rumah Tio, Aldo dan Ryan bertemu dengan Levi yang sedang mencuci mobil. Levi terbelalak, seolah tidak percaya kalau yang bersama Aldo adalah Ryan.
__ADS_1
"Bos, ngapain lo ngajak dia?" tanya Levi menatap Ryan tajam.
Aldo menggeleng memberi tanda kepada Levi supaya sopan terhadap tamu. "Papa ada, Lev?"
"Ada di dalam," jawab Levi dengan sinis.
Ryan dan Aldo masuk rumah bertemu dengan Tio.
"Papa." Ryan dan Aldo membungkuk setengah badan.
Tio yang masih menggunakan kimono menoleh tersenyum melihat anaknya datang. "Aldo ... duduk, Nak?"
Aldo dan Ryan duduk di sofa berhadapan dengan Tio.
"Tumben sekali kamu kesini, ada apa?" tanya Tio sambil merapikan kumis tebalnya.
"Masalah kematian bunda, Pa?"
Wajah Tio langsung berubah serius. "Maksud kamu?"
"Papa kenal 'kan wanita yang bernama Sonia Jubaedah," ucap Aldo.
"Sonia Jubaedah." Tio tampak masih mengingatnya. "Aku ingat, dia dulu salah satu pacar Papa."
"Apa Papa pernah menjanjikan untuk menikahi Sonia kala itu?" tanya Aldo.
"Mungkin iya, dulu papa setiap kali pacaran sama perempuan selalu menjanjikan ingin menikahinya, tapi yang papa nikahi cuma Kinanti, ibu kamu," ucap Tio Jujur.
Aldo menghela napas panjang, sedikit kesal dengan cerita papanya itu.
"Pa, Ibu meninggal karena dibunuh oleh tante Sonia," ucap Aldo.
Tio terbelalak. "Maksud kamu apa."
"Iya Om, saya mendengar sendiri Sonia, berkata seperti itu. Sonia menyuruh orang untuk memutus kabel rem mobil yang ditumpangi istri, Om." Ryan menimpali.
"Jika benar Sonia yang membunuh istriku, aku tidak akan memaafkannya." Tangan Tio mengepal kuat, rahangnya mengeras hingga otot dilehernya terlihat jelas.
"Kita harus mencari bukti kalau Sonia dalang dibalik kematian ibu lima belas tahun yang lalu," ucap Aldo.
Tio mengangguk setuju. "Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki kejadian ini. Jika benar dia pembunuhnya, aku akan membuat dia membusuk di penjara."
Bersambung ...
__ADS_1