Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Sabar Nadia.


__ADS_3

Nadia seperti biasa menunggu Aldo pulang, dia berdiri di teras rumah tampak khawatir. Nadia tau Aldo sedang bersama Amanda. Beberapa kali menghubungi Aldo tidak di angkat, sudah beberapa kali mengirim pesan tidak dibalas.


Audy melihat Nadia yang sedang memeluk tubuhnya. Dia terlihat kedinginan.


"Nad, kok lo masih di sini? Nanti masuk angin, kasihan bayi yang ada di dalam perut lo," ucap Audy.


Nadia tersenyum tipis. "Gak pa-pa, Kak. Nadia lagi nunggu Aldo."


"Memang tadi suami lo gak bilang dia mau kemana?" tanya Audy.


"Dia lagi ada urusan sama temannya, Kak. Masalah KKN." Nadia beralasan.


"Ya sudah tunggu di kamar saja, nanti juga pulang," desak Audy.


Nadia menatap Audy sejenak, lalu mengangguk. Audy tau ada yang tidak beres dengan Aldo. Audy teringat perkataan Reihan dulu, tentang Aldo dan Ryan yang masih satu frekwensi. Audy melihat ke arah garasi, mobilnya Aldo ada di rumah.


Audy memutuskan untuk menunggu Aldo pulang. satu, dua, tiga jam Audy duduk di teras, akhirnya Aldo pulang di antar seorang perempuan memakai mobil. Suara perempuan itu terlihat familiar untuk Audy. Aldo terlihat jalan tergopoh, menatap Audy dengan sayu.


"Habis dari mana lo?" tanya Audy dengan tatapan membunuh.


Aldo tersenyum kecut, bau Alkohol tercium di hidung Audy. "Bukan urusan lo."


"Ya urusan gue lah! Nadia adik gue. Awas lo ya kalau macam-macam sama Nadia," ancam Audy.


Aldo tidak nenghiraukan ucapan Audy, kepalanya terlalu berat untuk menelaah ucapan Audy. Dia pergi masuk rumah dengan langkah yang tergopoh. Nadia yang mendengar suara Aldo segera membuka pintu. Untung saja mamanya tidak mendengar perseteruan Aldo dan Audy. Kalau sampai mendengar, mamanya pasti juga tidak terima Aldo datang ke rumah dengan kondisi mabuk.


Audy mengetuk pintu kamar Nadia, dia ingin bicara dengan adiknya itu. Nadia membuka pintu.


"Gue mau ngomong sama lo, Nad?"


"Ngomong apa ya, Kak. Ini sudah malam, besok saja ya." Nadia menutup pintu, tapi Audy menahannya.


"Gak bisa harus sekarang. Reihan sudah cerita semuanya sama gue," alasan Audy.


Nadia terbelalak. "Me-memang Reihan cerita apa sama Kakak?"


Audy tersenyum sinis, dia sebenarnya hanya memancing bagaimana expresi Nadia saat Audy tau fakta tentang Aldo. Wajah Nadia terlihat pucat saat Audy menggertaknya. Audy sedikit menengok ke dalam kamar. Aldo terlihat meracau dengan sepatu dan jaket yang sudah terlepas. Pasti Nadia yang melepasnya.


"Kita bicara di ruang tamu saja," ajak Audy.


Nadia mengikuti langkah Audy dengan keraguan.

__ADS_1


"Gue tadi lihat Aldo diantar sama cewek, gue kayak kenal sama cewek itu," ucap Audy.


Nadia menunduk tidak berani menatap wajah kakaknya.


"Sebenarnya apa sih yang terjadi, Nad? Jujur deh sama Kakak," desak Audy.


Nadia terisak. "Maafin Nadia, Kak? Selama ini Nadia bohong sama Kak Audy dan mama."


Audy ikut merasakan kesedihan adiknya, dia mendekat menyandarkan kepala Nadia di bahunya.


"Coba kamu cerita pelan-pelan sama Kakak. Kakak janji gak bakalan bilang sama siapapun termasuk mama dan papa kita," ucap Audy.


Nadia mengangkat kepalanya, dia mulai bercerita mengapa dia buru-buru menikah dengan Aldo. Tentang kehamilannya yang sudah menginjak empat bulan. Dan tentang misi Nadia untuk membuat Aldo sadar. Audy tertegun, ikut terharu mendengar cerita adiknya.


"Kamu hebat, Nad. Kakak bangga sama kamu." Audy kembali memeluk adiknya. Mereka berdua terhanyut dalam sebuah pelukan dan tangisan saling menguatkan.


...***...


Esok harinya, Ryan mendapat telpone dari istrinya. Istrinya sudah sampai di bandara, Ryan segera bergegas melaju dengan kecepatan tinggi. Wajah Ryan terlihat tegang, istrinya datang lebih cepat dari yang diperkirakan.


Tiga puluh menit perjalanan, mobil alpard warna hitam berhenti di depan bandara. Ryan mencari ke segala arah Sonia Jubaedah.


"Sayang!" Seorang wanita berambut lebat nan berombak dengan pakaian casual memakai kacamata hitam melambaikan tangan.


"Gak terlalu." Wanita itu cipika-cipiki dengan Ryan.


Ryan membawakan koper besar berjalan membelakangi istrinya 'Sonia Jubaedah'.


"Maaf ya sayang aku menghubungi kamu secara mendadak," ucap Sonia.


Ryan tersenyum simpul. "Gak pa-pa, sayang. Ini sudah menjadi tugasku sebagai suami kamu."


"Makasih kamu sudah ngertiin aku." Sonia memegang pipi Ryan yang sedang menyetir.


"Kita mau ke rumah atau ke cafe?" tanya Ryan.


"Ke rumah saja, aku mau istirahat dulu," jawab Sonia yang terlihat lelah.


Di kampus, Audy sedang mencari Aldo. Dia ingin berbicara empat mata dengan Aldo tentang banyak hal. Namun, Audy belum menemukan Aldo juga. Dia sudah mencari kesana kemari, sudah bertanya kepada teman satu jurusan dengannya, tapi temannya juga tidak tau dimana Aldo berada. Padahal, besok mahasiswa semester akhir sudah mulai KKN.


Audy malah berpapasan dengan Reihan di lorong kampus. Jantung Audy terasa berdetak lebih kencang. Dia masih kikuk bertemu dengan Reihan yang terlihat masih cuek. Audy berhenti sejenak menoleh menatap punggung Reihan, tidak disangka Reihan juga menoleh menatap Audy. Dengan segera, mereka berdua membuang wajah ke depan, suasana canggung masih lekat antara Reihan dan Audy.

__ADS_1


Mereka berdua salah tingkah. Audy dengan cepat melangkahkan kakinya menjauh dari Reihan. Begitupun dengan Reihan. Audy duduk di kursi panjang pinggir lorong kampus. Dia mengibaskan tangan dengan napas yang menderu.


"Gini amat sih ketemu sama Reihan," ucap Audy yang masih mengatur napasnya.


Levi tiba-tiba datang duduk di sebelah Audy. Audy terperanjat saat melihat Levi.


"Bikin kaget saja lo, Lev!"


Levi heran. "Lo kenapa sih, kayak habis ngejar maling saja."


"Ceritanya panjang, lo tau Aldo dimana?" tanya Audy.


Levi terkekeh. "Lo ngapain cari bos gue?"


"Yaela ... tinggal jawab saja susah amat sih."


"Kasih tau dulu, kenapa lo cari bos gue," ucap Levi.


Audy mengibaskan tangan. "Sudahlah percuma ngomong sama lo."


"Mau kemana lo?" tanya Levi saat Audy beranjak dari tempat duduknya.


"Nyari Aldo, gue ada urusan sama dia," jawab Audy menoleh ke arah Levi.


"Iya urusan apa, kali saja gue bisa bantu," desak Levi.


"Gue cuma butuh jawaban dari lo ... lo tau gak Aldo ada dimana?" Audy kesal melotot ke arah Levi.


Levi tersenyum nyengir. "Gak tau, tapi gue bisa telpon bos Aldo kalau lo mau."


"Gak usah."


"Kenapa?"


"Pokoknya gak usah, biar gue cari sendiri saja."


"Kalau gue tetap nelpon bos Aldo gimana?" pancing Levi.


"Terserah lo deh cungkring." Audy pergi dari hadapan Levi.


Levi yang melihat Audy kesal pun tersenyum nyengir. Kalau Audy ngasih tau ke Levi, pasti Aldo akan beralasan. Yang ada Aldo malah menyuruh Levi untuk membantunya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2