Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Mulai Tertarik.


__ADS_3

Siang harinya, Reihan mengajak makan siang Audy. Namun, Audy menolaknya dengan alasan sudah kenyang.


"Lo mau kemana,Dy?" tanya Reihan.


"Terserah gue," jawab Audy ketus.


"Lo marah sama gue?"


Audy tidak menjawab dia malah pergi melangkahkan kakinya.


Reihan mengikuti Audy. "Lo kenapa sih, Dy?"


Audy tetap berjalan sambil diam. Reihan menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah menjauh dari Audy.


Audy yang melihat Reihan berbalik pun gemas. "Ih ... kok dia gak ngikutin gue lagi. Reihan tunggu!"


Reihan menoleh.


Audy menyunggingkan senyum. "Mau makan ya ikut dong."


Reihan pun menjadi heran. "Lo kenapa sih?"


Audy tersenyum nyengir sambil mengangkat satu tangannya membentuk huruf V.


"Lo ngerjain gue ya?"


Audy tersenyum menjulurkan lidahnya. "Habisnya lo ngeselin."


Reihan mengacak-acak rambut Audy. "Ngeselin apaan."


"Tadi pagi lo ngusir temen gue di taman."


Reihan menjepit hidung mancung Audy. "Sejak kapan lo suka dirayu sama cowok-cowok genit itu."


"Sakit tau." Audy memegang hidungnya.


"Biarin, itu balasan buat lo."


"Yeee ... jambang." Audy berlalu dari hadapan Reihan.


Reihan mengikuti dari belakang.


Di kantin ada Nadia dan Aldo yang sedang makan. Wajahnya Aldo seperti tertekan ada disamping Nadia.


"Gabung bareng mereka yuk!" ajak Audy.


"Gak ah." Reihan menolak


"Kenapa? Lo masih ngarep sama Nadia." Audy bertolak pinggang sambil melotot.


"Bukannya gitu." Reihan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Ya sudah ayo." Audy memegang tangan Reihan, lalu menyeretnya menuju meja Nadia dan Aldo.


"Hay ... boleh gabung gak?" pinta Audy.


"Boleh-boleh, sini duduk samping Nadia, Kak." Audy duduk disamping Nadia, sedangkan Reihan masih berdiri.


"Reihan duduk, lo kena ambeien ya," cibir Audy.


Reihan dengan malas akhirnya duduk disamping Aldo.


"Sudah pesan belum?" tanya Audy.


Nadia mengangguk.

__ADS_1


"Pesen, Rei?" pinta Audy.


"Lha kok gue?" Jari telunjuk Reihan menunjuk wajahnya sendiri.


"Lo 'kan laki-laki. Masak harus gue," jawab Audy.


"Iya." Reihan dengan malas mengiyakan ucapan Audy.


Aldo yang berada disampingnya pun menahan tawa. Audy sengaja memerintah Reihan supaya dia tidak meremehkan wanita. Dulu, waktu masih gendut Audy sering dikerjai sama Reihan. Kini setelah Audy tampil berbeda Reihan tampak mengejar-ngejarnya. Audy tidak mau kalau Reihan suka dengannya karena perubahan fisiknya semata.


Tak berselang lama Reihan datang membawa dua mangkok soto betawi.


"Minumnya mana?" tanya Audy.


"Bentar lagi juga kesini," jawab Reihan


Levi datang menghampiri mereka. "Gue duduk ya?"


"Gak bisa. Lo gak lihat apa sudah penuh," jawab Audy dingin.


"Sudah-sudah, kita mau pergi kok. Ayo, sayang." Nadia dan Aldo beranjak dari kursinya. Levi duduk disamping Reihan.


"Tu kan, gara-gara lo Nadia pergi." Audy melempar tisu ke arah Levi.


"Kan mereka sudah selesai, sayang." goda Levi.


"Sayang ... pala lo peyang."


"Nie orang emang nyebelin. Manggil orang se enak udelnya," sahut Reihan.


"Kok lo yang sewot, kan yang gue panggil sayang itu dia bukan lo," ucap Levi.


"Tapi cara manggilnya ngeselin."


"Harusnya gimana?" tanya Levi.


"Gak usah curi kesempatan," omel Audy.


Levi tertawa riang. "Dasar lo buaya kampung!"


"Lo juga." Audy melotot ke arah Levi.


"Mana ada, cewek saja kagak punya dibilang buaya," protes Levi.


"Lo pengen punya cewek gak?" tanya Audy.


"Mau-mau." Levi menatap Audy sumringah.


"Gedein dulu badan lo, biar cewek lihatnya itu gak kayak triplek. Tipis!"


"Cara gedein badan gimana?" tanya Levi.


"Mana gue tau! Ya lo yang usaha, minta bantuan sana sama bos lo," ucap Audy.


"Bos gue saja di kamar mulu sama istrinya," jawab Levi.


Audy tertawa, lalu bicara pelan dengan Reihan Dan Levi. "Lo tau gak, Nadia sekarang hamil."


"Wow ... tokcer," ucap Levi.


Reihan langsung berwajah masam. Audy melihat itu, menyimpulkan kalau Reihan masih mengharapkan Nadia.


"Lo kenapa, Rei?" Audy memegang pipi Reihan.


Reihan tersadar dari lamunannya. "Ga pa-pa."

__ADS_1


Levi tertawa melihat raut wajah Reihan. "Dasar lo! Baru dipegang pipi sudah gelagapan."


"Diem lo." Reihan melotot ke arah Levi.


"Lo tau gak kenapa tadi Reihan melamun?" goda Audy.


Reihan langsung mencubit pinggang Audy hingga Audy kesakitan. Sedangkan, Levi masih penasaran.


"Apaan," ucap Levi.


"Karena lihat kacamata lo."


Reihan dan Audy tertawa. Tak hentinya mereka saling bercanda. hingga istirahat makan siang sudah selesai. Mereka bertiga kembali mengikuti kelas berikutnya.


Sore harinya Audy sudah bilang kalau akan boncengan lagi dengan Reihan. Namun, mobil alpard berwarna hitam terparkir di depan kampus Audy. Ryan menunggu Audy pulang duduk di taman siswa. Ryan sudah memberi pesan ke Audy, tapi belum dibaca.


Tak berselang lama, Audy keluar kelas dan membaca pesan dari Ryan. Ryan menyuruh Audy untuk menemuinya di taman siswa.


"Rei, sorry banget nie ... gue gak bisa ikut lo pulang. Tiba-tiba ada urusan mendadak," ucap Audy.


Wajah Reihan terlihat kecewa. "Ya sudah gue tungguin."


Audy jadi gak enak hati. "Gak usah, biar gue nanti naik taksi saja."


Reihan menghela napas, merelakan Audy pergi. Audy segera menemui Ryan di taman siswa. Diam-diam Reihan mengikutinya. Reihan begitu terpukul saat tau Audy menemui Ryan pemilik cafeshop langganannya itu.


Kalau dilihat dari penampilan Ryan memang lebih keren dari pada Reihan. Ryan berkulit putih dan mempunyai lesung pipi, dia juga pemilik cafe yang sukses, mobilnya saja alpard. Dibandingkan dengan Reihan yang setiap hari harus berangkat pakai motor vespa butut peninggalan ayahnya. kulitnya Reihan pun dekil karena sering terkena matahari, wajahnya juga tidak sebersih dan seganteng Ryan.


Kini Reihan mulai sadar kalau dia mulai mencintai Audy. Bukan karena tampilan Audy yang berbeda, tapi Reihan juga tidak tau sejak kapan dia mencintai Audy. Reihan memilih pergi dan membiarkan Audy bebincang dengan Ryan.


"Ada apa, Ryan?"


"Aku hanya ingin mengajak kamu makan?"


"Makan dimana?" tanya Audy penasaran.


"Ada deh, kamu pasti suka."


"Boleh." Audy mengangguk.


Ryan membukakan pintu mobil kepada Audy. Audy tersenyum, masuk duduk disamping Ryan.


"Cowok yang sering naik vespa itu namanya siapa?" tanya Ryan basa-basi.


"Reihan?"


"Itu cowok kamu ya?"


Audy terkekeh. "Kalau dia cowok aku, ngapain aku mau kamu ajak makan. Bisa marah dia."


Ryan tertawa kecil.


"Kalau lo sudah punya cewek?" tanya Audy balik.


"Belum. Lo mau jadi cewek gue?"


Audy teebelalak, lalu tertawa. "Jangan bercanda deh. Kenal saja belum satu minggu."


"Berarti kalau sudah kenal satu bulan, mau dong jadi cewek gue."


Audy tampak berpikir. "Tergantung."


"Tergantung gimana?"


"Tergantung gue suka gak sama lo?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2