
Malam hari, Nadia hendak pergi dengan mamanya. Salah satu Saudara dari mama sedang melakukan hajatan. Aldo meringkuk di ranjang, dia pura-pura mengggigil. Nadia kali ini percaya dengan Aldo, dia memutuskan tidak mengajak Aldo. Namun, kunci mobilnya Nadia yang pegang. Aldo dengan suka rela memberikannya.
Rumah dikunci semua supaya Aldo tidak bisa kemana-mana.
"Kok sampai segitunya sih, Nad?" tanya Audy.
"Biar gak ada maling, Kak? Akhir-akhir ini sering ada maling.
"Nanti suami kamu kalau ingin keluar gimana?" Ayu menasehati Nadia.
"Katanya dia gak keluar, Ma. Dia lagi sibuk ngerjain tugas."
"Oke deh." Ayu melajukan mobilnya.
Di kamar, Aldo terlihat girang, tidak ada Nadia di rumah. Walaupun rumah di kunci, tapi handphone masih ada di tangan. Aldo bisa menghubungi siapapun yang dia inginkan.
Pertama dia menelpone Amanda menyuruhnya untuk ketemuan di cafe nya Ryan. Amanda dengan senang hati kesana menaiki mobil online. Kedua Aldo menelpone Ryan, dia ingin menawarkan kerjasama kepada Ryan.
📲"Halo, Ryan."
📲"Masih hidup lo." Ryan tampak meledek Aldo.
📲"Sialan. Gue mau minta tolong sama lo."
📲"Minta tolong apa?"
📲"Lo ada dimana?"
📲"Gue ada di cafe."
📲"Gue kesana ya."
📲"Memang bini lo ngebolehin?"
📲"Bini gue lagi keluar."
📲"Ya sudah kesini saja." Ryan terdengar terkekeh.
Aldo menutup telponenya, segera dia membuka jendela yang sengaja dia siapkan untuk kabur, lalu memanjat pagar rumah. Dia segera memesan ojeg online berangkat menuju tempatnya Ryan.
Lima belas menit perjalanan Aldo sudah sampai. Dari belakang seorang perempuan cantik berkulit putih mendekapnya. Kebetulan sudah dua bulan lebih Aldo belum merasakan sentuhan seorang perempuan.
Aldo berbalik badan, lalu menjamah bibir Amanda. mereka saling berciuman di tengah jalan. Tidak peduli orang yang melihatnya. Aldo dan Amanda seperti sudah tidak punya rasa malu lagi.
Untung ada Ryan yang menghentikan aksi mereka. Kalau tidak bisa keterusan.
__ADS_1
"Kalian ngapain sih ciuman di tempat umum," cibir Ryan.
"Sorry bro kita lagi kangen berat. Iya 'kan, sayang?"
Amanda tersenyum genit menatap Aldo.
"Masuk dulu lah. Untung lo semua temen gue kalau gak, bisa gue usir lo," Omel Ryan.
Mereka bertiga duduk di tempat lesehan.
"Kita langsung saja, waktu gue gak banyak. Lo bisa bantu gue ngejauhi Nadia?" tanya Aldo.
Ryan terkekeh. "Lo saja gak bisa apa lagi gue."
"Tolonglah, lo suka 'kan dengan Audy. Nanti gue comblangin lo."
"Sorry, Do. Gue gak bisa. Gue gak mau ikut campur masalah lo. Kalau masalah Audy gue bisa usaha sendiri."
Aldo berdecak kesal. "Lo harus bantu gue. Kalau gak gue bongkar kebusukan lo di depan Audy!"
"Lo ngancem gue! Gue juga bisa bongkar kebusukan lo di depan Nadia."
Aldo tersenyum sinis. "Kenapa gue mau menikah dengan Nadia. Karena Nadia sudah tau kebusukan gue."
"Sudahlah, Ryan. Turuti saja, bergabung bersama kita. Nanti lo bakalan aman," bujuk Amanda.
"Diam lo." Ryan berkata pelan.
Aldo menatap Ryan menyeringai.
"Baik gue ikut lo." Ryan terpaksa melakukan itu demi mendapatkan Audy.
"Oke. Lo memang temen gue yang paling baik." Aldo mengulurkan tangannya, tapi Ryan menepisnya.
"Lo harus janji jangan kasih tau ke siapapun kalau gue punya istri."
"Baik. Asal lo bantu gue," jawab Aldo.
"Oke. Kita pura-pura kerjasama bisnis supaya Nadia tidak bisa menekan lo lagi. Besok gue akan bicara dengan Nadia."
"Lo memang bisa diandalkan." Aldo tampak riang.
"Ya sudah gue masih banyak pekerjaan."
Aldo mempersilahkan Ryan pergi. Sesaat itu Aldo dan Amanda saling menatap.
__ADS_1
"Kita cari hotel yuk!" Amanda genit menggigit bibir bawahnya.
Aldo mencium lembut pipi Amanda, lalu mengajaknya beranjak dari cafe mencari hotel. Disana mereka saling melepas rindu berbalut hasrat yang menggebu dalam jiwa. Aldo yang sudah lama tidak menjamah tubuh seorang wanita, dilampiaskannya kepada Amanda.
Amanda yang memang tergila-gila dengan Aldo, menerimanya dengan suka rela. Tubuh mereka saling menindih, bersuarakan ******* yang mengundang gairah seorang anak manusia.
Selesai menyalurkan hasratnya, Aldo segera kembali. Wajahnya terlihat cerah karena sudah mendapat asupan gizi dari Amanda. Aldo mencium kening Amanda yang masih berbalut selimut. Amanda tersenyum terlihat rasa puasnya kepada Aldo. Mereka berdua berpisah saat Aldo menutup pintu kamar hotel.
Aldo segera memesan ojeg online. Lebih cepat dari perkiraan sudah sampai di depan rumah. Rumah masih sepi dan gelap. Aldo melompat pagar, segera dia menuju kamar, lalu kembali meringkuk menarik selimut layaknya orang menggigil.
Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil milik mama Ayu. Aldo beranjak dari tidurnya, mengintip dari arah jendela. Nadia sudah datang, dia kembali menarik selimutnya untuk melakukan actingnya. Nadia menuju kamar untuk memberikannya obat.
"Kalau lagi sakit jangan malas, nie gue beliin obat. Diminum, biar lekas sembuh." Nadia menaruh obat di meja kecil samping tempat tidur.
Aldo masih meringkuk membelakangi Nadia sambil sedikit menggetarkan badannya. Nadia yang melihatnya merasa tidak tega dengan keadaan suaminya itu. Dia memegang kening Aldo, tapi Aldo segera menepis tangannya hingga Nadia terperanjat.
Nadia mengira Aldo marah dengannya. dia pun keluar dari kamar untuk mengambil air hangat. Aldo menoleh, lalu tersenyum lebar karena berhasil mengelabuhi Nadia.
Aldo kembali meringkuk saat Nadia membawa kan air hangat untuknya.
"Nie air hangat. Lo harus minum obat, nanti bokap lo tau, gue dikira nelantarin lo lagi." Nadia bersikap sok cuek kepada Aldo untuk menyembunyikan rasa pedulinya.
"Taruh saja disana, nanti gue minum," ucap Aldo dengan suara serak.
"Diminum ya." Nadia kembali keluar dari kamarnya.
Aldo langsung mengambil satu butir obat, lalu di buang di lubang toilet. Sebenarnya Aldo lelah karena tadi dia bermain beberapa ronde dengan Amanda. dia kembali merebahkan diri sambil menarik selimutnya. Tanpa sadar matanya sudah tertutup. Aldo tertidur pulas. Nadia terlihat mondar-mandir di depan pintu kamarnya.
Terlihat Audy yang sedang makan salad buah di meja makan. "Lo kenapa sih, Nad. Dari tadi mondar-mandir."
Nadia tersenyum sama Audy. "Gak pa-pa, Kak."
"Gak pa-pa kok mondar-mandir. Duduk sini biar gak capek."
Nadia menghampiri Audy, lalu duduk di sebelahnya. "Aldo gak mau minum obat, Kak."
"Jadi lo khawatir sama suami lo?" tanya Audy sambil memakan salad buah.
"Apa Nadia bawa ke rumah sakit saja ya?"
"Mana ada rumah sakit jam segini, Nad? Besok saja kalau kondisinya belum membaik. Lo temenin saja suami lo," jawab Audy.
Nadia mengangguk, lalu kembali ke kamar. Nadia melihat obat yang berkurang satu butir, lalu tersenyum. Nadia mengira kalau Aldo sudah meminum obatnya.
Bersambung ...
__ADS_1