Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Pengintaian Yang Gagal.


__ADS_3

Sore harinya Reihan dan Audy berada di tempat parkir. Mereka berdua sedang menunggu Aldo pulang. Tak berselang lama Aufy dan Reihan melihat Aldo pulang dengan Nadia dan Levi. Pertama Aldo mengantar Nadia pulang ke rumah. Setelah itu Aldo langsung masuk ke komplek tempat tinggalnya. Tidak ada yang mencurigakan.


"Kita tunggu sampai malam hari. Gimana?" tanya Audy.


"Boleh," jawab Reihan singkat.


Aldo tinggal di perumahan elit. Reihan dan Audy malas untuk masuk karena pasti akan di tanya-tanya satpam penjaga. Audy dan Reihan memilih menunggu di luat kompleks.


Tak berselang lama Levi datang memakai motor matic dan kaos oblong serta celana kolor. Audy dan Reihan segera membalikan badan supaya tidak diketahui sama Levi. Namun, Levi sudah tau kedatangan mereka berdua. Levi hanya tersenyum nyengir melihat tingkah Audy dan Reihan.


Diam-diam Levi mau mengerjai mereka. Levi kembali ke rumah Aldo untuk mengambil ular mainan yang berada di gudang. Reihan dan Audy pikir Levi sudah pergi, tapi ternyata Levi kembali.


"Yuhuu ...." Dengan sengaja Levi melempar ular mainan itu ke tubuh Audy.


Audy yang belum siap tidak bisa menghindar. Ular itu menyentuh tubuhnya. Dengan spontan Audy berteriak histeris, lalu melompat ke arah Reihan yang ikut panik. Reihan yang belum siap menangkap tubuh Audy ikut terjatuh di pinggir jalan. Levi tertawa lepas karena berhasil mengerjai mereka berdua.


Tubuh Audy menindih tubuh Reihan. Sekilas mata mereka saking beradu. Jantung Audy kembali berdegup kencang, Audy tidak memperdulikan ular mainan itu lagi. Yang ada hanya keindahan dari mata Reihan. Reihan juga menatap lekat Audy.


Levi yang tadinya tertawa hanya diam melihat mereka saling menatap.


"Woy ...! Kalau pacaran jangan di sini!" tegur Levi.


Audy dan Reihan segera bangkit menepuk-nepuk baju mereka yang kotor karena debu. Reihan melihat ular itu. Ternyata mainan.


'Rese lo ya!" cibir Reihan.


Levi kembali tertawa, lalu dia pergi.


"Dasar si cungkring," cibir Audy.


"Levi sudah tau rencana kita," ucap Reihan.


"Percuma kita ada di sini. Kita pulang yuk!" ajak Audy.


Reihan mengangguk.


Di perjalan pulang Audy terus membatin. Biasanya Reihan ngomel jika mendapat masalah dengan Audy. Namun, kali ini dia hanya diam, Audy juga diam. Audy masih teringat kala matanya menatap Reihan dalam-dalam. Audy seperti merasakan kalau Reihan juga merasakan hal yang dia rasakan.


"Ach ...!" Audy malu menutup dan menggelengkan wajahnya hingga Reihan hampir kehilangan keseimbangan.


"Lo kenapa, sih! Lihat hantu ya?" tanya Reihan menghentikan laju motornya.


"Gak pa-pa kok. Tadi gue cuma ... cuma ngebayangin saja kalau Nadia di apa-apain sama Aldo." Audy beralasan tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Lo itu bikin gue jantungan saja." Reihan kembali menghidupkan motornya. "Pegangan yang erat," perintah Reihan.


Audy malu-malu memegang kedua pundak Reihan. Reihan kembali melajukan motornya. Sesampainya di rumah, Audy hanya tersenyum simpul melambaikan tangan saat Reihan menjauh dari penglihatannya.


Walaupun tidak mendapatkan hasil dari pengintaiannya, tapi Audy merasa senang seharian bisa jalan dengan Reihan. Kini Audy mulai yakin kalau dia jatuh cinta dengan Reihan. Tapi, bagaimana cara mengungkapkannya. Audy 'kan seorang wanita, mana mungkin dia nembak duluan. Belum tentu juga Reihan mencintainya. Audy memukul-mukul kepalanya berusaha menghilangkan pikiran buruknya.


"Baru pulang ... dari mana saja?" tanya Ayu.


Audy menyunggingkan senyum. "Habis jalan sama Reihan, Ma."


"Reihan lagi ... hati-hati nanti kamu bisa suka sama Reihan." Ayu menjawil hidung mancung Audy.


Audy memajukan bibirnya, lalu tersenyum naik ke atas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.


Nadia keluar dari kamar. "Kak Audy sudah pulang, Ma."


"Sudah," ucap Ayu sambil menyiapkan makan malam.


"Habis dari mana tu Kak Audy?"


Ayu mengangkat bahu. "Kata habis jalan sama, Reihan."


"Reihan ... sini deh, Ma." Ayu mendekat. "Kayaknya Kak Audy suka deh sama Reihan," bisik Nadia.


"Mama, setuju?" tanya Nadia memmastikan


"Memangnya kenapa? Kalau mereka jodoh, Mama sih setuju-setuju saja. Jangan-jangan kamu juga suka ya sama Reihan," goda Ayu.


"Ihhh ...! Kok jadi gitu, sih. Nadia 'kan sudah punya pacar, Ma." Nadia menggerutu.


"Ehem ... seru amat kayaknya. Lagi ngomongin apa." Audy menuruni tangga.


Nadia tersenyum nyengir. "E ... Kak Audy. Kita cuma lagi ngomongin tentang kapan Papa pulang. Iya kan, Ma." Nadia mengedipkan satu matanya memberi isyarat kepada Ayu.


Ayu mengangguk tersenyum kepada Audy.


"Papa kenapa kemarin gak jadi pulang, Ma?" tanya Audy.


"Katanya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Ayu.


Audy duduk di meja makan, makan malam sudah siap. Audy hanya mengambil kentang dan sayur bayam dengan sedikit kuah. Nadia juga melakukan hal yang sama.


"Kalian kok gak pakai nasi?" tanya Ayu heran.

__ADS_1


"Lagi diet, Ma?" jawab Nadia dan Audy serentak.


Ayu mengangkat tangan. "Ya sudahlah, terserah."


Pagi telah tiba, bunyi cempreng klakson motor Reihan terdengar oleh Audy.


"Audy berangkat dulu ya, Ma." Audy mencium punggung tangan Ayu, lalu keluar menghampiri Reihan.


Reihan tersenyum melihat Audy.


"Yuk, Rei." Audy Memakai helm duduk di belakang Reihan.


Reihan melajukan motornya. Seperti biasa Jalanan Jakarta selalu macet jika jam berangkat dan pulang. Audy dan Reihan hanya diam sambil melihat kemacetan Ibu Kota. Mereka berdua terlihat canggung seperti orang yang belum pernah ketemu.


Sesampainya di kampus, mereka berdua berjalan beriringan masih tetap diam dan sesekali curi pandang. Salah satu teman yang melihat kelakar Audy dan Reihan pun tidak tahan untuk menggoda mereka.


"Cie ... cie ... yang saling curi pandang."


"Apaan sih!" Audy tertunduk malu.


Sedangkan Reihan terus berdehem, mencoba bersikap biasa.


"Sudah jadian saja, dari pada saling menggantung. Entar sakit lho," ucap teman mahasiswa yang langsung berlalu berjalan menuju kelas.


Audy dan Reihan semakin malu. Audy sampai berjalan lebih dulu untuk menutupi rasa malunya. Reihan mengikuti Audy dari belakang menuju kelas. Mereka berdua sampai lupa ingin mengerjai balik Levi.


Di sisi lain, Levi dan Aldo baru datang. Levi adalah anak seorang pembantu yang bekerja di rumah keluarga Aldo. Karena orang tua Levi loyal terhadap keluarganya Aldo, jadi Ayahnya Aldo memberi pendidikan gratis untuk Levi, sembari menjaga Aldo. Kebetulan umur Levi dan Aldo tidak jauh berbeda.


"Lev, tolong bawain tas gue di kelas ya. Gue mau ketemu sama Nadia," ucap Aldo.


"Siap, bos."


"Jangan Lupa awasi terus si Reihan sama Audy. Kalau ada yang mencurigakan laporin ke gue," ucap Aldo pelan


"Beres, bos. Kemarin gue sudah ngasih pelajaran sama mereka berdua."


"Bagus." Aldo menepuk pundak Levi.


"Walaupun nanti mereka pasti balas dendam sama gue."


Aldo terkekeh.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2