Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Cek Cok.


__ADS_3

Aldo terlihat kurang suka dengan kedatangan mereka berdua. Aldo memutar manik matanya terlihat jengah. Namun, Reihan dan Audy tidak peduli, yang penting dia mereka berdua bisa mengganggu Aldo.


"Kalian nanti sore ada acara gak?" tanya Nadia.


"Gak ada." Audy menggeleng.


"Ikut kita yuk. Nonton pertandingan basket," ucap Nadia riang.


"Boleh. asyik tu kelihatannya. Kebetulan gue bosen di rumah." Audy menepuk lengan Reihan.


"Makanya gue sama Audy kesini. E ... ketemu kalian?" Reihan tersenyum nyengir.


Aldo memukul meja. "Kalau mau nonton bayar."


Audy dan Reihan terdiam sejenak. "Gak pa-pa. Iya kan, Rei?"


Reihan mengangguk mengikuti Audy.


"Oke fix. Berarti kalian ikut ya." Nadia tersenyum bertepuk tangan.


"Ngapain sih, Yang. Ngajak mereka?" tanya Aldo malas.


"Biar rame, sayang. Kamu mah enak main, kalau aku 'kan cuma nonton gak ada temen," jawab Nadia.


"Kan ada banyak orang disana, kamu bisa ngobrol sama temenku. Mereka Welcome kok sama siapa saja," ucap Aldo.


"Tapi 'kan aku gak begitu akrab. Nanti bingung lagi harus ngomong apa."


"Iya, Do. Kasian tu Nadia cuma jadi obat nyamuk. Kalau ada kita 'kan bisa rame," sahut Audy.


Nadia mengangguk setuju.


Aldo berdecak kesal. "Ya sudahlah terserah kalian."


Nadia terlihat gembira menepuk tangannya, lalu memeluk dan mengucapkan terima kasih. Aldo hanya tersenyum kecut melihat Audy dan Reihan.


"Sekarang saja yuk, kalau nunggu sore jalanan macet," ucap Reihan.


Aldo naik darah. "Yang punya acara gue, kenapa lo yang ngatur."


"Yaela cuma usul doang," ucap Reihan.


"Sudah jangan berantem. Yang dikatakan Reihan itu bener. Kalau kita berangkat sore, bakalan capek di jalan," bela Audy.


"Ngapain lo belain dia. Lo suka ya sama pria yang punya jambang," cibir Aldo.


Audy memukul meja, lalu berdiri. " jaga mulut lo ya!"

__ADS_1


Reihan memegang bahu Audy, lalu berbisik. "Sudah turutin saja. Kita ikutin dulu apa mau Aldo."


Nadia hanya memandang kosong kakaknya.


"Oke deh kita turutin apa mau kamu," ucap Audy kembali duduk.


"Memang seharusnya seperti itu," balas Aldo.


Sore pun tiba, mereka berempat bergegas menuju lapangan basket. Terlihat jalanan Ibu Kota penuh dengan kendaraan.


"Tu 'kan apa gue bilang, baru keluar cafe sudah melihat antrean mobil," ucap Reihan.


Aldo tidak peduli, dia mengajak Nadia masuk mobil. Sedangkan Reihan dan Audy mengikuti dari belakang. Mereka terjebak kemacetan, suara klakson mobil begitu memekakkan telinga.


"Dasar anak mama, dibilangin gak percaya sih," cibir Audy berboncengan dengan Reihan.


Reihan tersenyum sinis. "Biar mampus."


Di dalam mobil Aldo terlihat memasang wajah geram.


"Kamu kenapa sih, Do. dari tadi kok emosi mulu." Nadia memegang pipi Aldo.


Aldo tersenyum kecut sambil menyetir mobil. "Gak pa-pa, sayang. Aku hanya kurang enak badan."


Aldo sebenarnya marah karena Audy dan Reihan ikut campur urusannya. Sebenarnya Aldo hendak mengajak Nadia berangkat lebih awal, tapi karena Reihan berbicara duluan, Aldo jadi mengurungkan niatnya. Itu karena Aldo tidak suka melihat Reihan memerintahnya.


Bunyi handphone Aldo, terus berdering. Salah satu temannya menghubungi kalau pertandingan sudah di mulai. Aldo masih terjebak kemacetan. Entah sampai kapan bisa keluar dari kemacetan ini.


"Lumayan gak jadi bayar tiket," bisik Reihan ke audy.


Audy tertawa kecil, lalu melakukan tos tangan dengan Reihan. Aldo terlihat geram. Gara-gara macet dia tidak bisa bertanding. Nadia berusaha menenangkan Aldo.


"Sudahlah, Do. Jangan marah mulu. Kan masih ada minggu depan," ucap Nadia.


Aldo menatap tajam Reihan dan Audy dengan napas tersengal. Kalau saja tidak ada Nadia di sini, Aldo pasti akan memberi pelajaran kepada Audy dan Reihan.


"Nad, pulang yuk! Mama tadi nelpon gue, katanya papa hari ini pulang," ajak Audy.


Nadia tampak ragu. "Tapi, Kak ..."


"Sudah ... lagian pertandingannya sudah selesai," desak Audy.


"Terus Aldo gimana, Kak?"


"Dia sudah gede, lagian dia 'kan bawa mobil," jawab Audy.


"Nadia biar gue yang nganter," sahut Aldo.

__ADS_1


"Lo tu lelet, makanya sampai telat. Biar Nadia sama gue lebih cepat dan aman," ledek Audy.


"Apa lo bilang!" Emosi Aldo sudah tidak bisa di bandung lagi. Dia hampir saja memukul Audy. Namun, Reihan segera menepis tangannya.


"Lo jangan kasar ya sama cewek!" hardik Reihan mencengkram tangan Aldo.


Aldo menatap tajam Reihan, lalu dia berontak melepaskan tangannya. Nadia hendak membela Aldo, tapi dengan sigap Audy mendesak Nadia untuk pulang.


"Biarkan saja, mending kita cepat pulang sebelum papa datang. Kita kasih kejutan buat papa."


"Aldo gue pulang dulu ya." Nadia terpaksa menuruti ucapan Kakaknya.


"Nadia, tunggu!" panggil Aldo.


Nadia menoleh, tapi Audy menyeret tangan Nadia sebelum berubah pikiran. Aldo hanya melihat Nadia yang berlalu menjauh dari pandangannya, lalu kembali menatap Reihan.


"Ini semua gara-gara lo." Aldo mandorong Reihan hingga mundur beberapa langkah. Dengan wajah geram Aldo segera pergi. Reihan hanya diam, lalu tersenyum menyeringai menatap punggung Aldo.


Di sisi lain, Nadia mengomeli kakaknya.


"Kakak seharusnya gak berbuat gitu sama Aldo," ucap Nadia saat duduk berdampingan dengan Audy di dalam taksi.


"Gitu gimana?" tanya Audy.


Nadia mengendikan bahu. "Tidak menyalahkan Aldo."


"Siapa yang menyalahkan Aldo, Nadia."


Nadia mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di dada. "Pokoknya Nadia gak suka kalau kak Audy terus belain Reihan."


"Kakak gak belain Reihan. Tadi kamu lihat sendiri 'kan Aldo mau memukul Kakak, untung ada Reihan," ucap Audy.


"Iya. Tapi, Reihan juga pernah mau berbuat kurang ajar sama Nadia."


"Memang kamu melihat saat Reihan berbuat kurang ajar sama kamu?" tanya Audy.


Nadia terdiam, dia memang tidak melihatnya. Nadia hanya mendengar cerita dari Aldo kalau Reihan memaksa membawanya pulang.


"Reihan saat itu nolongin kamu," ucap Audy lembut.


Nadia mengibaskan tangannya di udara. "Sudahlah, Kak. Gak usah dibahas masalah itu."


Nadia sebenarnya juga masih bertanya dalam hati. Siapa yang dulu berbuat kurang ajar dengannya. Reihan atau Aldo. Nadia berharap apa yang diceritakan Aldo itu benar. Namun kalau salah, Nadia tetap memaafkan Aldo karena menurut Nadia Aldo sudah berubah. Aldo lebih menghargainya dan jauh lebih perhatian dari pada sebelumnya.


Tanpa terasa taksi sudah ada di depan rumah. Nadia masih melamun duduk di belakang supir.


"Nadia, ayo turun sudah sampai depan rumah." Audy membuyarkan pemikiran Nadia.

__ADS_1


Nadia segera turun setelah membayar sejumlah uang kepada supir taksi. Sedangkan Reihan masih berada di lapangan basket. Reihan sengaja memilih untuk tidak pulang dulu. Dia memotret sekeliling lapangan. Menurut Reihan pemandangannya indah, jadi cocok untuk di simpan di galery fotonya.


Bersambung ...


__ADS_2