
Flas back On.
Nadia melihat ke arah ruang tamu, dilihatnya papanya dan Aldo berada disana. Dengan langkah ragu Nadia menghampiri papa dan mamanya.
"Ada apa, Pa?" tanya Nadia dengan nada bicara yang pelan.
Reno melihat tajam ke arah Nadia, namun dia sedikit melunak saat pandangannya menuju perut Nadia yang semakin besar.
"Duduk." Reno berkata pelan.
Nadia duduk dengan wajah yang menunduk.
"Apa benar kamu menikah dengan Aldo hanya sampai bayimu lahir, jawab dengan jujur!" bentak Reno.
Nadia terperanjat tidak berani menatap papanya.
"Nadia bisa jelasin semuanya." Nadia terisak suaranya mulai serak.
Suasana lengang, Ayu dan Reno menunggu penjelasan dari Nadia
"Sebenarnya Nadia melakukan itu supaya Aldo bisa berubah. Nadia sudah berjanji sama om Tio untuk mengubah Aldo menjadi lebih baik lagi, seperti Ibunya Aldo yang dulu pernah lakukan kepada om Tio," jelas Nadia.
Reno mulai melunak, wajahnya yang tadi geram menjadi datar. Aldo pun terkejut mendengar penjelasan dari Nadia.
"Memangnya lo siapa berani mengubah hidup gue," ucap Aldo.
Reno pun berdiri, dengan sekuat tenaga jemari yang sudah terbuka lebar itu menampar pipi Aldo. Dengan napas yang menderu dan emosi yang memuncak Reno mengusir Aldo dari rumahnya.
Nadia yang melihatnya hendak menolong Aldo, tapi Ayu menahan pergerakan Nadia. Aldo terlihat menatap tajam Reno dan Nadia, tanpa sepatah kata, Aldo pergi dari rumah Reno Lesmana. Nadia memanggil-manggil Aldo untuk jangan pergi, tapi Aldo tidak menoleh sedikit pun kw arah Nadia.
Flash Back Off.
Aldo menuju ke sebuah makam, dia membawa seikat bunga, lalu ditaruhnya bunga itu disebuah pusara bertuliskan 'Kinanti'. Aldo menangis memeluk nisan, menyebut nama ibu.
Lima belas tahun sudah ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal. Saat itu usianya baru tujuh tahun. Aldo belum tau apa-apa pada saat itu. Papa tirinya bilang ibunya sedang ke luar negeri. Sampai umur sepuluh tahun barulah Aldo sadar, ibunya sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Saat itu Aldo sangat sedih. Aldo yang awalnya periang jadi pendiam dan suka berkelahi jika ditanya teman sekolahnya tentang ibunya. perasaan Aldo mulai kalut, Nadia yang selama ini ingin dia permainkan, rupanya memiliki sifat seperti ibunya. Aldo juga baru tau kalau dulu papanya suka main perempuan. hingga menikahi ibunya saat usia Aldo satu tahun.
"Ma ... andai Mama masih ada di sini." Aldo menangis masih memeluk nisan ibunya.
Jam sepuluh pagi, Aldo menyudahi rasa rindu dengan ibunya. Dia hendak menuju kampus, tapi semua tas dan buku ada di rumah Nadia. Aldo mengirim pesan kepada Nadia untuk membawakan buku dan tasnya.
Nadia membalas kalau dia sudah berada di kampus. Aldo pun segera berangkat menuju kampus. Disana dia meminjam buku temannya supaya bisa mengikuti kelas dan memulai skripsinya.
Jam istirahat, Aldo menemui Nadia di kelas. Nadia terlihat duduk dibangkunya sedang membaca buku.
__ADS_1
"Nad, gue mau ngomong." Aldo menghampiri Nadia.
Nadia mendongak menatap Aldo dengan serius. "Mau ngomong apa lagi, lo gak puas sudah ngebocorin semuanya."
"Kali ini gue mohon sama lo, izinkan gue menjelaskan sama lo."
Nadia menatap mata Aldo yang terlihat jujur. Dia mengikuti langkah Aldo menuju taman siswa duduk bersebelahan.
"Gimana calon bayi kita, sehat?" tanya Aldo.
"Gak usah basa-basi deh, cepet lo mau ngomong apa," desak Nadia.
"Gu-gue mau minta maaf sama lo, gue tau gue salah. Gue gak tau kalau lo punya niatan yang baik buat gue."
Nadia berdiri, lalu menatap Aldo tajam. "Basi."
"Nad, lo mau kemana, gue belum jelasin semua sama lo." Aldo mengibaskan tangan ke udara saat melihat Nadia pergi dari tempatnya.
Nadia berjalan cepat sambil menangis, dia merasa Aldo selalu mempermainkannya. Nadia merasa gagal menjadi istrinya. Kandungannya sudah menginjak tujuh bulan, dua bulan lagi anak dari hasil jebakannya aldo akan lahir.
Aldo masih terduduk di kursi taman siswa, tidak mengejar Nadia, percuma. Nadia sudah terlanjur tidak mempercayai ucapan Aldo. Ini salah Aldo yang selama ini suka mempermainkan perasaan Nadia.
...***...
Audy merasa ada yang aneh, Ryan sudah beberapa hari tidak menelponnya. Padahal, minggu kemarin hampir tiap jam handphone Audy selalu berdering atas nama Ryan. Audy tidak bisa membiarkan semua ini karena dia berniat membongkar siapa Ryan kepada istrinya.
📲"Halo, sayang."
📲"Iya."
📲"Kamu kok minggu ini gak pernah hubungi aku." Audy berkata manja dengan Ryan.
📲"Sorry, sayang. Aku sibuk."
📲"Aku kangen tau sama kamu. Kita ketemuan yuk!"
📲"Jangan dulu ya, sayang. Aku lagi banyak pekerjaan nie."
📲"Ya sudah entar sore aku ke cafe kamu ya."
📲"Jangan, sayang ... aku sedang tidak ada di cafe."
📲"Memang kamu ada dimana?"
📲"Aku sedang ada di luar kota, lusa baru pulang."
__ADS_1
📲"Ihh ... sebel. Aku kangen nie pengen main sama kamu." Audy mendesah yang membuat Ryan terangsang.
📲"Ya sudah, nanti sore kita ketemuan. Tapi, jangan di cafe, nanti aku serlock tempatnya."
📲"Oke, Sayang."
Audy menutup panggilan tersenyum sinis menatap ke depan.
"Bentar lagi, tunggu pembalasan dari gue," ucap Audy berjalan menuju kantin.
Sementara itu, Reihan dan Levi terlihat menikmati makan siang. Mereka begitu lahap seperti sedang berlomba siapa cepat menghabiskan makanan. Audy tiba-tiba berteriak sambil menepuk punggung Levi dari belakang.
Sontak Levi mengeluarkan makanan dari mulutnya dan mengenai wajahnya Reihan. Reihan terdiam sesaat, lalu mencak-mencak memarahi Levi.
"Bukan gue, noh putri keong tiba-tiba datang nepuk punggung gue, kan jadi kaget," ucap Levi.
"Kalau lo kaget ngapain nyembur nasi ke wajah dan baju gue," balas Reihan.
"Gue lagi makan, ya nyembur. Gak sengaja."
Audy pun tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Sudah-sudah gak usah berantem, entar makanannya gue ganti," ucap Audy duduk disamping Levi.
"Ini baru sultan, kita berantem langsung ditraktir," ucap Levi tersenyum nyengir.
"Lo mau berantem terus sama gue?" Reihan melotot menatap Levi.
Audy memberikan tisu untuk mengusap wajah dan bajunya Reihan.
Reihan tersenyum. "Makasih ya, sudah repot-repot ngasih tisu buat ngelap wajah gue."
"Gak masalah, orang tadi gue ngambil dari meja sebelah," ucap Audy.
Levi terasa puas. "Ngarep."
Reihan melempar tisu yang habis dipakainya ke wajah Levi.
"Sudah dong bercandanya, gue mau ngomong serius nie," ucap Audy.
"Ngomong apa?"
"Masalah skripsi, kalau gue ada kendala tolong bantuin ya."
"Itu mah beres, serahin sama abang Reihan, gue juga tadi ngomong gitu sama dia," ucap Levi.
__ADS_1
"Enak saja, gue 'kan baru kali ini buat skripsi, ngapain kalian bergantung sama gue," balas Reihan.
Bersanbung ...