
Hari-hari berikutnya semua berjalan secara normal. Audy kembali akrab dengan Reihan. Setiap hari Reihan selalu berangkat bersama. Audy lebih suka Reihan yang sperti ini, yang selalu ceria dan suka bercanda.
Namun, perasaan Audy dan Reihan tidak pernah berubah. kapanpun Reihan butuh bantuan Audy siap membantu. Satu minggu telah berlalu, kini Audy dan Reihan sudah memasuki hari libur semester tujuh.
Reihan seperti biasa mendatangi rumah Audy membawa tas ransel besar bersiap untuk camping. Audy pun sama dengan Reihan.
"Cukup gak nie," ucap Audy yang melihat jok belakang Reihan sempit karena Reihan menenteng tas besar.
"Di cukup-cukupin saja. Tas gue bawa biar muat."
"Gue juga bawa tas, Rei? Berat."
"Lha terus gimana, dong?"
Audy berdecak kesal. "Kita naik mobil sajalah. Motor lo taruh di rumah gue."
"Gak usah. cukup kok," desak Reihan.
"Cukup gimana, nanti kalau gue jatuh dari belakang gimana?"
"Ya gampang." Reihan menaruh tas ranselnya di depannya
Audy menepuk bahu Reihan. "Dari tadi kek."
Reihan terkekeh, lalu melajukankan motornya dengan kecepatan sedang.
"Agak cepat, Rei! Kita sudah telat nie," ucap Audy.
"Iya ... sabar."
Tak berselang lama Audy dan Reihan tiba di kampus.
"Kalian kemana saja sih. Di tungguin dari tadi juga," omel Levi.
"Sorry, Lev. Gara-gara Reihan nie, nyetirnya lama," jawab Audy.
"Gue yang disalahin. Kan kita bawa barang banyak makanya motornya gak bisa cepet."
"Sudah-sudah. Anak-anak sudah nungguin tu. Kita berangkat."
"Memang mobil compinya sudah datang?" tanya Audy.
"Sudah dari tadi putri keong? Kalian itu sudah telat satu jam!" jawab Levi kesal.
Audy dan Reihan berjalan di belakang Audy.
"Gimana sih, Kak. Masak ketua dan wakil ketua telat," ucap Salah satu junior mereka.
Reihan tersenyum nyengir. "Sorry, tadi salah informasi."
Levi menyuruh peserta camping untuk naik mobil compi yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Sudah gak ada yang ketinggalan, kan!" seru Levi.
"Gak ada." serentak menjawab.
"Jalan pak!" Levi memberi tau supir untuk jalan.
Mobil compi yang membawa mereka ke arah Bogor membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan. Agar tidak bosan di perjalanan Levi mengadakan permainan truth or dare. Semua serentak berkata setuju.
Levi mengambil botol kosong, lalu menaruhnya ke bawah. Kaki para peserta mendekat ke arah botol itu.
"Siap ya!" Levi Memutar botol itu.
Putaran pertama botol tertuju kepada kaki anak semester pertama bernama Sherma. Tidak menarik bagi Levi karena Sherma memilh truth dan temannya memberi pertanyaan tentang cowok yang disukainya di kampus.
Putaran botol kedua sampai kelima tidak ada yang menarik sampai putaran botol keenam barulah mengarah ke kaki Audy. Mata Audy pun menatap takut Levi dan Reihan. Pasti mereka mau nanya yang aneh-aneh.
"Truth or dare!" ucap Reihan semangat.
"Dare!" Audy menjawab dengan mantap
"Yah, padahal gue pengen dia jawab truth," ucap Levi kecewa
"Kita kasih tantangan apa adik-adik buat Kak Audy!" seru Reihan.
"Tari sensual," ucap Salah satu junior laki-laki.
"Wah cocok tu, tubuh Audy 'kan semok." Levi berkata dengan semangat.
"Gak bisa, kita 'kan lagi naik nobil," protes Audy.
Audy terlihat gugup, suara gendang dari aqua galon sudah dipukul. Dengan sekali hentakan Audy meliuk-liukan tubuhnya seperti penari ular. Audy begitu sensual sambil menggigit bibir bawahnya. Tangannya mulai menjalar ke rambutnya yang tergerai bergelombang.
Reihan dan anak laki-laki lainnya menatap Audy tanpa berkedip sampai Reihan berhenti memukul kendang aqua galon itu. Audy segera kembali ke tempatnya, dia merasa lega sudah berhasil menyelesaikan tantangannya.
Reihan masih mematung seperti orang sedang terhipnotis.
"woy bangun! Sudah selesai." Levi menepuk bahu Reihan hingga dia terperanjat.
"Ciee .... Kak Reihan sampai segitunya ngeliatinnya," ucap salah satu junior.
Reihan salah tingkah menggaruk tengkuknya. Audy semakin bersemangat.
"Biar gue saja yang memutar botolnya," ucap Audy.
Levi memberikan botol itu kepada Audy, lalu memutarnya. Putaran itu berhenti di kaki Levi. Semua orang besorak, seperti sudah menunggu kesempatan ini.
"Truth or dare!" seru Audy.
"Truth," jawab Levi.
"Yah dare sajalah, Kak. Kita pengen ngerjain Kak Levi," ucap Sherma dengan polosnya. Anak jurusan ekonomi semester dua awal.
__ADS_1
"Gak mau, gue mau truth." Levi bersikukuh.
"Oke, tapi lo janji harus jawab pertanyaan kita dengan jujur," ucap Reihan.
"Oke."
"Selama ini lo itu misterius bagi kita. Ini pertanyaan yang mungkin mewakili sebagian besar teman-teman yang ada di sini."
"Langsung ke intinya saja gak usah bertele-tele," ucap Levi.
"Kenapa lo mau jadi anak buahnya, Aldo?" tanya Reihan diamini oleh yang lain.
"Ceritanya panjang kalau itu," alasan Levi.
Semua peserta camping protes.
"Kalau lo gak mau jawab, lo harus buatin tenda, masak untuk kita semua sama sekalian api unggun!" sahut Audy.
"Iya-iya gue jawab." Levi mengubah posisi duduknya menghadap ke teman-temannya.
Levi menceritakan semua kenapa dia mau jadi anak buahnya Aldo karena ayahnya Aldo sudah menganggap ayahnya Levi saudara Ayahnya Levi sudah bekerja lama di rumah Aldo. Sebagai hadiah loyalitasnya, Levi mendapat pendidikan gratis sampai S1 oleh ayahnya Aldo.
Semua yang mendengar cerita Levi pun menjadi terharu. Audy jadi menyesal karena selama ini mulutnya gatal ingin mengejek setiap melihat Levi.
"Lo kenapa cerita kayak gitu sih, Lev. Kan gue jadi sedih." Audy mengambil tisu, lalu mengeluarkan ingusnya.
Teman-teman yang lain merasa jorok melihat Audy.
"Kan gue sudah bilang ceritanya panjang," jawab Levi.
"Cerita panjang 'kan gak harus sedih," balas Audy.
"Cerita panjang ya pasti sedih."
"Belum tentu, Levi ...." Sifat menyebalkan Levi mulai muncul lagi.
"Sudah-sudah ... masih ada satu orang lagi yang belum dapat pertanyaan dari kita." Semua mata menuju ke arah Reihan.
"Ya sudah puter botolnya," ucap Reihan.
"Ngapain di puter, kan cuma tinggal lo," ucap Levi.
"Kali saja botolnya gak mau menuju ke arah gue," balas Reihan.
"Buang-buang waktu lo," cibir Levi diamini oleh yang lain.
Levi memulai memutar botolnya. putarannya begitu cepat. Namun, tangan Audy menghentikan putaran botol itu menuju ke arah Reihan. Semua teman Reihan yang berada di mobil compi bersorak senang.
"Truth or dare!" Audy yang berkata dengan semangat.
"Truth," jawab Reihan.
__ADS_1
Namun, mobil compi yang membawa mereka berdua berhenti. supir berkata sudah sampai di jalan. Peserta camping bergegas membawa barang bawaannya masing-masing. Audy pun kecewa karena tidak bisa bertanya secara jujur kepada Reihan.
Bersambung ...