Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Membalas Dendam.


__ADS_3

Flash Back.


Malam harinya Audy diajak Ryan keluar untuk menemaninya jalan-jalan. Dengan senang hati Audy mengiyakan ajakan Ryan. Audy berdandan cantik dengan gaun ketat panjang berwarna hitam di atas mata kaki.


Ryan sudah menunggunya di depan rumah. Audy membuka pintu, terlihat Ryan yang sudah berada di depan membungkukkan badannya untuk Audy. Audy berjalan Anggun masuk ke dalam mobil alpard warna hitam.


"Kita mau kemana?" tanya Audy.


"Ke Cafe," jawab Ryan sambil menyetir.


Suasana lengang, hanya bunyi kendaraan yang berlalu-lalang. Ryan memberikan air mineral untuk Audy. Suara bising kendaraan membuat suasana menjadi gerah.


"Gimana kuliah kamu hari ini?" tanya Ryan.


"Membosankan," jawab Audy sambil memanyunkan bibirnya.


Ryan mengacak rambut Audy yang terlihat rapi. "Maaf ya akhir-akhir ini aku sibuk, jadi tidak bisa menjemputmu."


"Gak pa-pa, santai saja."


"Kamu masih nebeng sama teman kamu itu?" tanya Ryan.


Audy menggeleng, lalu menundukan wajah.


"Kenapa? Kamu berantem sama dia?"


"Gak kok, kita baik-baik saja," alasan Audy.


Tak terasa mobil Ryan sudah terparkir rapi di depan cafeshop miliknya. Cafe terlihat tertutup, Ryan membuka pintunya. Audy masuk, terlihat lilin dengan warna yang berbeda ada di setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan ada meja bulat dengan minuman soda berwarna merah dan makanan yang siap untuk disajikan.


Ryan mendekap tubuh Audy dari belakang, lalu mencium pundaknya.


"Silahkan Tuan putri," ucap Ryan.


Audy terlihat menikmati kejutan dari Ryan. Suara Alunan musik melankolis terdengar di telinga Audy. Ryan dengan segera berlutut di hadapan Audy, lalu mengulurkan tangannya mengajak Audy berdansa.


Irama musik melankolis membuat mereka menggerakan kaki bersamaan ke kiri dan ke kanan. Mata mereka saling memandang seolah tidak mau lepas. Ryan tidak mau melepaskan kesempatan ini. Kaki Audy masih lincah mengikuti alunan musik itu.


Setelah selesai berdansa, mereka duduk di satu meja bulat saling berhadapan. Ryan sepertinya sudah menyiapkan semua ini. Audy kehausan, dia minum soda merah yang ada di meja. Jakunnya naik-turun dengan cepat seiring tegukan soda yang mengalir di kerongkongannya.


"Haus ya?" canda Ryan.


Audy mengangguk. "Habisnya kamu malam-malam ngajakin olah raga."

__ADS_1


Ryan terkekeh.


Beberapa menit kemudian, Tubuh Audy terasa panas, matanya mulai berkunang-kunang, dia terus mengeliat tidak tahan dengan rasa panas yang ada di tubuhnya. Gairahnya mulai naik. Udara AC tidak mampu membantu meredakan gejolak di dalam tubuh Audy.


"Ryan tubuh gue panas," ucap Audy sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Ryan tersenyum sinis. "Mau aku bantu?"


"Boleh, cepetan bantu gue. Gue sudah gak tahan lagi." Audy meracau.


Ryan mendekap Audy, lalu mencium belakang lehernya. Audy seolah tersentak, dia seolah menikmati setiap inci ciuman yang mendarat di belakang lehernya.


"Lo mau apain gue, Ryan." Audy terus menggeliyat menikmati sentuhan dari Ryan.


"Mau bawa lo ke surga dunia."


Audy tidak terlalu mendengarkan ucapan dari Ryan. Gairah semakin meninggi walaupun dia berusaha untuk menolaknya. Namun, obat perangsang itu terlalu kuat untuk ditaklukan.


Ryan dengan segera memapah Audy ke ruangannya. Disana ada sofa panjang, sangat cocok untuk behubungan badan. Ryan melempar Audy di sofa, Audy terus menggeliyat sambil mendesah, sesekali menggigit bibir bawahnya.


Ryan mulai melucuti pakaian Audy hingga tak tersisa. Saat itulah Ryan mulai menggauli tubuh Audy. Jebakannya berhasil. Audy masuk perangkap buaya. Sikap manis yang ditunjukan Ryan selama ini hanyalah modusnya saja.


Beberapa jam kemudian Audy tersadar, kepalanya masih sedikit pusing. Audy terkaget saat tau tubuhnya tidak memakai benang sehelai pun. Disampingnya ada Ryan yang juga tidak memakai pakaian. Audy pun menangis, dia langsung teringat ucapan Reihan saat itu.


Barulah dia menyesal kenapa dia tidak mengikuti Reihan. Audy segera memakai pakaiannya kembali, lalu meninggalkan tempat terkutuk itu. Di perjalanan sampai di rumah Audy tak berhenti menangis.


Pagi hari yang cerah, Aldo meninggalkan Nadia saat hendak berangkat kuliah. Nadia pun menjadi heran, kenapa suaminya melakukan itu. Nadia mencoba menghubungi Aldo, tapi telponnya tidak di angkat.


Sementara itu Audy masih berbaring di kamarnya. Matanya sudah terbuka, tapi badannya enggan sekali untuk bergerak. Harusnya dia berangkat kuliah, minggu depan dia mulai KKN dan buat skripsi.


Audy tidak tau apa yang akan dilakukannya jika bertemu dengan Reihan. Dia terlalu malu untuk menampakan wajahnya. Tubuhnya juga masih terasa pegal. Selangkangannya terasa sakit, Laki-laki bajingan itu telah merenggut keperawanan Audy.


Ingin sekali Audy membalas dendam kepada pria bajingan itu. Mulutnya manis, tapi hatinya penuh dengan kelicikan. Audy mengerasksn rahang sambil menatap tajam ke depan.


Suara hp terdengar, Audy mengambil hp nya yang ada di meja kecil samping tempat tidur. Itu dari Ryan, ini saatnya Audy membalas apa yang di lakukan Ryan kepadanya.


📲"Halo."


📲"Lo dimana, Dy. Gue bisa jelasin."


📲"Oke ... Gue turun ya."


Ryan tampak heran, kenapa Audy tidak marah dengannya. Tak berselang lama Audy datang memakai kaos dan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Ryan kembali terdiam dan membuka mulutnya, tidak biasanya Audy memaksi pakaian seksi.

__ADS_1


Audy tersenyum duduk disamping Ryan. "Hay, sayang."


Ryan sedikit gugup, menelan ludah membalas salam Audy.


"Kita mau kemana?" tanya Audy sumringah.


"Ke cafe," jawab Ryan singkat.


Audy terkekeh, memegang wajah Ryan. "Kamu mau lagi ya."


Napas Ryan menderu menatap Audy. "Kamu yakin?"


Audy mengangguk. "Kemarin kenapa kamu gak bilang. kalau jujur kan aku bisa mempersiapkannya, biar lebih hot."


Ryan mulai sedikit bernapas lega. "Aku kira kamu marah."


Audy menyunggingkan senyum. "Ya gak dong. Aku 'kan cinta sama kamu."


Ryan langsung menatap Audy nakal siap menerkam bibir Audy, tapi Audy segera mencegahnya.


"Jangan di sini sayang, takut dilihat orang. Nanti saja ya." Audy berkata manja.


Ryan setuju, lalu kembali ke posisinya. "Oke, sayang."


Di kampus, Nadia mencari Aldo. Dari tadi pesan belum di baca, telpon pun tidak diangkat. Biasanya Aldo ada di lapangan basket. Namun, dia tidak ada di sana. Nadia mencari di taman siswa. Tidak ada juga, Nadia bertanya kepada Levi dan Reihan yang duduk tidak jauh dari Nadia.


"Hay ... kalian lihat Aldo gak?"


"Waduh ... gak lihat, kirain sama lo," ucap Levi.


"Tadi dia berangkat duluan, gue cariin keliling kampus gak ada."


Coba di telpon, Lev." Reihan yang menyuruh Levi.


Levi mengangguk, mengambil benda pipih itu di saku celananya, lalu mendekatkannya di telinga.


"Telponnya aktif, cuma gak diangkat."


Nadia terlihat khawatir.


"Lo tenang saja, Nad. Kita bakal bantu lo sebisanya. Iya 'kan, Lev!" sahut Reihan.


"Bantu gimana? Lo gak denger tadi, Nadia bilang apa."

__ADS_1


"Ya udah deh, gue cari di tempat lain saja," ucap Nadia.


Bersambung ...


__ADS_2