Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Gagal Menjebak Aldo.


__ADS_3

Malam harinya, Reihan berada di kost nya Aldo. Jam sembilan malam biasanya Sonia memesan makanan lewat online. Namun ini sudah lebih dari jam sembilan, Sonia belum juga memesan makanan.


"Mana, Do! Sudah jam sepuluh lebih nie," omel Reihan.


"Lagi gak dulu kali, bisanya juga jam sembilan tante Sonia pesennya."


Suara handphone Aldo berdering.


📲"Halo, Ryan."


📲"Renaldo Promes, gimana kabar lo!"


📲"Baik."


📲"Bisa ke cafe, ada yang pengen gue omongin nie."


Aldo menatap wajah Reihan. Reihan menyuruh Aldo untuk mengiyakan ajakan Ryan.


📲"Oke, gue segera kesana." Aldo menutup panggilannya.


"Bilang apa si Ryan?" tanya Reihan.


"Sudah lo ikut saja, tunggu di depan cafe, ingat jangan sampai ketahuan cctv."


Reihan mengangguk. "Lo juga hati-hati sama Ryan dan Tante Sonia."


Aldo dan Reihan berboncengan menggunakan vespa peninggalan ayahnya. Lima belas menit berselang Reihan menunggu disamping halte busway. Aldo masih berjalan sekitar dua ratus meter dari halte.


Saat Aldo membuka pintu cafe, terlihat Sonia duduk di meja bar menggunakan tanktop ketat dan celana pendek di atas lutut yang meperlihatkan lekuk tubuhnya yang terlihat berisi.


"Aldo, tumben kamu kesini. Maaf ya hari ini gak pesen makanan karena Tante sibuk di cafe." Sonia genit mencubit manja dagu Aldo.


"Gak pa-pa kok, Tante. Saya kesini mau bertemu dengan Ryan."


"Ada di atas, sebentar Tante panggil Ryan."


"Gak usah repot-repot, Tante. Biar saya saja yang menemui Ryan."


"Biar Tante saja, sekalian mau ambil tas yang ada di atas. Kamu duduk saja dulu," ucap Sonia.


Sonia menuju ke ruang kerja Ryan, Di sana sudah ada beberapa gadis muda dengan pakaian minimalis serta make up tebal yang menempel di wajahnya.


"Sayang, Aldo ada di bawah, katanya kamu yang ngundang dia kemari. Jangan lupa, malam ini buat Aldo lupa dengan dirinya," bisik Sonia


Ryan tersenyum tipis. "Aku akan mengusahakannya, dengan cara ini pasti kamu akan mendapatkan Aldo."

__ADS_1


Sonia tersenyum lebar menatap Ryan.


"Aku ke bawah dulu ya, Sayang." Ryan mencium pipi kiri Sonia, lalu keluar ruangan menemui Aldo.


Sebelum itu seorang pelayan pria sudah berdiri di depan pintu ruangan. Ryan memberi obat perangsang kepada pelayan itu untuk mencampur minuman itu saat Aldo memesannya


"Aldo, sudah lama nunggu?"


"Suek lo, lama amat sih!" cibir Aldo.


"Sorry, ada beberapa laporan yang harus gue cek ulang," jawab Ryan.


"Lo ada apa manggil gue kesini, mau ngasih kerjaan sama gue?"


Ryan terkekeh. "Gue kesini mau ngobrol saja sama lo, sudah satu minggu gak ketemu sama lo, kangen rasanya." Ryan menyalakan satu batang rokoknya, lalu menghisapnya


"Lo tu ya, gak cewek gak cowok, lo gombalin semua," canda Aldo.


Ryan terkekeh. "Lo mau minum apa?" tanya Ryan sambil menghisap rokok.


"Apa saja yang penting ada warnanya," jawab Ryan.


Ryan memanggil pelayan yang sudah di ajak kerjasama tadi. "Buatkan cappucino hangat dua."


"Siap, Bos." Pelayan itu segera menuju meja bar membuatkan dua capucino panas dengan gelas kecil berwarna merah dan biru. gelas yang merah untuk aldo dimasukkan satu pil obat perangsang, lalu pelayan itu mengaduknya hingga pil itu menyatu dalam minuman cappucino itu.


"Minum dulu, Do. Biar dapat inspirasi." Ryan meminum seteguk cappucino. Aldo masih memutar-mutar gelas kecilnya. Aldo mengambil handphone nya, lalu mengirim pesan kepada Reihan.


"Capucinonya diminum, Do. Nanti dingin lho," ucap Ryan sekali lagi.


Aldo tersenyum tipis, lalu pura-pura meneguk cappucino itu. Sonia terlihat mengawasi kegiatan Aldo melalui cctv. Sonia terlihat senang karena dia mengira Aldo masuk ke dalam perangkapnya.


"Ladies, kalian turun dulu gie, nanti Mami susul," ucap Sonia kepada empat gadis muda berpakaian seksi yang ada di ruang kerja Ryan.


"Baik, Mami." Keempat gadis muda itu pun keluar dari ruangan. Langkahnya dari bawah tangga terdengar riuh.


Aldo terbelalak melihat keempat gadis muda itu. "Siapa mereka?"


"Bukan siapa-siapa," jawab Ryan dengan ragu.


"Bos ... kami duluan ya," celetuk salah satu gadis muda itu.


Ryan langsung tersenyum kecut, dia menjadi salah tingkah dengan Aldo.


"Itu manggil lo, Bos?" Aldo sengaja memancing reaksi dari Reihan.

__ADS_1


"Sudahlah lupain saja." Ryan meneguk cappucino untuk mengurangi ketegangan.


Reihan masuk di cafe pura-pura cuek melihat Aldo.


"Ada Reihan tu, masih berani dia ke sini," ucap Ryan. Segera Aldo menukar gelasnya saat pandangan Ryan tertuju oleh Reihan.


"Sudah biarin saja, palingan dia mau ngopi, buat ngilangin stres. Maklum jadwal kampus lagi padat," ucap Aldo sambil meneguk cappucino.


Ryan tersenyum melihat Aldo sudah menghabiskan secangkir cappucino yang sudah diberi obat perangsang. Ryan tanpa sadar juga ikut menghabiskan cappucino milik Aldo.


"Ya sudah gue pulang dulu ya, skripsi gue masih numpuk," alasan Aldo.


Ryan mematung menatap Aldo. "Lo gak kenapa-kenapa, Do?"


"Aldo menggeleng. "Lha memang kenapa?"


Ryan menatap Aldo keheranan.


"Lo kenapa sih, kayak orang bingung gitu?" tanya Aldo heran.


Beberapa menit kemudian Ryan mulai merasakan pusing, tubuhnya perlahan mulai gerah, napasnya mulai menderu. Aldo terlihat heran melihat tingkah dari Ryan.


"Lo kenapa bro?" tanya Aldo.


Ryan terus mengelap wajahnya yang berkeringat memakai tisu tanpa menghiraukan pertanyaan dari Aldo. Reihan yang duduk di kursi paling ujung tersenyum sinis melihat reaksi dari Ryan.


Sonia yang mengawasi dari lantai atas pun heran, kenapa malah suaminya yang bertingkah aneh.


"Lo gak pa-pa, kan?" tanya Aldo dengan heran.


"Gak pa-pa, gue ke toilet dulu ya." Ryan segera bergegas menuju toilet.


Aldo tersenyum sinis menatap punggung Ryan. Aldo sudah curiga kenapa ada tante Sonia di sini. Pasti Ryan mau melakukan sesuatu yang buruk kepada Aldo. Dengan mengendikan kepala ke arah Reihan, Aldo keluar dari cafe, di susul dengan Reihan.


Sementara itu Ryan meringis kepanasan, hasratnya sudah memuncak. Dengan kangkah tertatih, Dia langsung naik ke atas tangga untuk memuaskan hasratnya kepada Sonia yang ada di ruangannya.


"Kenapa kamu malah yang terkena obat itu!" pekik Sonia.


Ryan tidak terlalu mendengarkan ocehan istrinya itu. Matanya merah menatap Sonia, yang ada dipikirannya dia hendak memuaskan nafsunya. Tanpa basa-basi Ryan menerkam Sonia layaknya hewan yang sedang lapar. Rencana mereka berdua pun gagal.


Di sisi lain Aldo dan Reihan tertawa puas karena berhasil lepas dari jebakan Ryan.


"Kira-kira siapa ya yang bakal di pakai sama Ryan?" tanya Aldo sambil tertawa.


"Pegawainya kali," jawab Reihan ngasal.

__ADS_1


"Gue sudah curiga kalau ada yang gak beres dengan minuman itu," ucap Aldo.


Bersambung ...


__ADS_2