Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Menahan.


__ADS_3

"Jadi selama ini lo patah hati mulu dong?" tanya Audy.


Reihan mengangguk.


Audy mendongak, lalu mengulum bibirnya berusaha untuk tegar.


"Gue sebel kalau Nadia deket sama Aldo. Gue gak rela kalau Nadia sama Aldo. Dia itu bajingan. Gue takut kalau Nadia itu di apa-apain sama Aldo."


"Maksud lo?" Audy membulatkan mata.


"Lo taulah maksud gue."


"Lo jangan buat gue khawatir deh, Rei."


"Kali aja, kali ...."


Terlepas dari pengakuan Reihan yang sayang dengan adiknya, Audy khawatir kalau benar Nadia hanya dibuat mainannya Aldo saja. Atau ini hanya strategi Reihan untuk mendapakan Nadia? Entahlah, Audy jadi tambah bingung.


"Kita ke taman yuk!" ajak Reihan.


"Ngapain kesana?" Nadia berkata cuek kepada Reihan.


"Yaela ... habis ini 'kan gak ada jam kelas. Kita ngapain kek disana. Sambil nunggu Nadia pulang," ucap Reihan.


Audy mengangguk mengikuti Reihan. Perasaan Audy campur aduk saat ini. Audy berjalan di belakang Reihan dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


"Audy ...."


.


"Hmm." Audy fokus membaca buku duduk di pohon rindang.


"Lo janji ya jangan beritahu kalau gue suka sama Nadia sama siapapun," ucap Reihan sekali lagi.


Audy melirik jengah. "Iya ... lagian siapa sih yang pengen gue beritahu. Temen gue 'kan cuma lo."


"Bantuin gue dong, Dy ..." pinta Reihan.


"Bantuin gimana sih, Rei. Nadia 'kan punya pacar, masak gue harus bantuin lo mutusin pacarnya. Lagian semua cowok itu sama saja," cibir Audy.


"Kok sama?"


"Cowok itu kalau lihat yang cantik saja diuber sampai kayak orang gila. Padahal disampingnya ada cewek lain yang tulus mencintainya. Makanya banyak perempuan yang bilang cowok itu gak peka," jelas Audy.


"Maksud disampingnya itu lo?" tanya Reihan.


Audy terbelalak mengubah posisinya menghadap Reihan. "Bu-bukan kayak gitu. Maksud gue ada cewek lain gitu yang suka, tapi cowoknya gak peka."


"Lha kalau si cewek suka kenapa gak diungkapin saja," ucap Reihan dengan entengnya.


"Ya gak semudah itu. Lo kenapa gak berani nembak Nadia?" tanya Audy.


Reihan tersenyum nyengir. "Takut di tolak."


"Apa lagi cewek, jambang!" Audy kesal dengan Reihan. Sudah di pancing gak sadar juga. Audy pun beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Mau kemana lo?" tanya Reihan.


"Toilet ... bawaannya pengen berak saja dengerin lo cerita." Audy berjalan menjauhi Reihan.


Audy mau tidak mau harus menerima kenyataan. Selama ini sikap baik Reihan kepadanya semata-mata hanya karena pertemanan saja. Reihan tidak bisa disalahkan, Audy lah yang salah karena membiarkan perasaannya tumbuh dan mekar hingga sulit untuk di hilangkan.


Sore harinya, Audy dan Reihan ke ruangannya, Audy hendak mengajak Nadia pulang bersama. Sebenarnya Audy sudah menyuruh Reihan pulang duluan. Namun, dia bersikukuh ingin ikut. Ya sudah Audy tidak bisa menolaknya.


Nadia terlihat sudah bersiap memasukan buku ke dalam tasnya. Audy dan Reihan masuk ke dalam kelas.


"Gimana, Nad? Aman, kan?" Tanya Audy riang.


Nadia tersenyum lebar merangkul Audy dan Reihan. "Aman Kakak-Kakakku."


Reihan pun tersipu malu.


"Jangan lama-lama ngrangkulnya, Nad. Entar dia pingsan lagi." Audy menunjuk ke arah Reihan.


Reihan jadi salah tingkah, memalingkan wajah menutupi rasa malunya. Nadia segera melepas rangkulannya.


"Yuk pulang, Nad?" ajak Audy.


Reihan berjalan di belakang adik dan kakak itu.


"Naik apa enaknya, Kak?"


"Naik taksi saja. Di depan 'kan biasanya ada taksi."


"Gue duluan ya!" seru Reihan menuju parkir motor.


...***...


Di perjalanan, Audy dan Nadia terlihat diam. Audy masih terbawa pikirannya tentang Reihan yang menyukai Nadia. sedangkan Nadia takut kalau dia hamil anak Aldo.


Lamunan mereka buyar saat supir taksi memberitahu kalau taksi sudah sampai di depan rumah. Mereka berdua turun, Audy yang membayar taksi.


Mereka berdua masuk rumah menyapa mamanya yang sibuk di dapur bersama pembantu.


"Tumben kalian pulang bareng," ucap Ayu.


Audy nyengir. "Biar Nadia gak diganggu, Ma."


Ayu mengangkat satu alisnya. "Diganggu sama siapa?"


Audy dan Nadia saling memandang. "Ada deh, Ma."


"Kalian ini main rahasia-rahasiaan sama Mama."


Audy tersenyum.


"Nadia ke kamar dulu ya, Ma."


Ayu mengangguk.


"Audy juga deh, Ma. Mau mandi."

__ADS_1


Di tempat lain, Mumpung Reihan tidak bonceng Audy, dia tengah asyik mengelilingi Jalanan kota Jakarta. Sudut matanya tertuju dengan sosok perempuan cantik berkulit putih sedang menunggu seseorang. Itu perempuan yang bermesraan dengan Aldo.


Tak berselang lama. mobil ayla hitam milik Aldo datang membawa perempuan itu entah kemana. Reihan mengikutinya dari belakang. Aldo berhenti di salah satu Mall di Ibu Kota.


Kali ini Reihan tidak mau bersembunyi lagi, dia memergoki Aldo. Mau melihat bagaimana reaksinya.


"Hey, Do." Reihan bersalaman dengan Aldo akrab.


Aldo merasa risih dengan kedatangan Reihan. "Mau apa lo kesini."


"Yaela, Do. Kaku amat sama teman sendiri." Reihan tertawa menepuk pundak Aldo.


Aldo menatap tajam Reihan. Aldo tau Reihan ada maksud tertentu.


"Kenalin dong cewek baru lo," ucap Reihan.


Perempuan berkulit putih itu mengulurkan tangan dengan senang hati memperkenalkan dirinya kepada Reihan.


"Lo sudah kenal 'kan sama dia. sekarang lo pergi sana," ucap Aldo.


"Jangan gitu dong, Do. Kita sudah lama gak jalan bareng. Mumpung gue gak sama Audy."


"Gak usah basa-basi deh lo, terus terang saja mau lo apa." Aldo menantang Reihan.


"Santai bro, gue kesini gak ada maksud apa-apa. Gue kebetulan saja lihat lo" ucap Reihan.


"Lo pikir gue gak tau apa. Lo mau ngadu sama Audy, kan." Aldo geram.


Reihan terdiam, lalu tersenyum menyeringai. "Iya. Gue mau Nadia tau siapa lo."


Aldo mengeraskan rahangnya, wajahnya merah. Kerah baju Reihan di cengkeramnya dengan kuat hingga Reihan mundur beberapa langkah. Amanda berusaha melerainya, tapi tenaganya terlalu lemah. Penjaga Mall segera melerai mereka berdua, memperingatkan.


"Kalian ikut kami ke ruangan!" Perintah penjaga Mall.


Reihan dan Aldo duduk menghadap kepala satpam. Sedangkan Amanda menunggu di luar.


"Kalian tau 'kan aturan di Mall ini."


Mereka berdua mengangguk setuju. kepala Satpam Menatap mereka berdua dengan wajah garang.


"Sebagai hukuman kalian harus membersihkan toilet," perintah ketua satpam.


Aldo menolaknya. "Saya tidak mau, Pak."


"Kalau tidak mau menaati peraturan, terpaksa kami denda."


Aldo tersenyum sinis. "Berapa."


"Satu juta."


Aldo tertawa. "Kenapa gak bilang dari tadi."


Aldo mengambil dompet, lalu menaruh uang satu juta di meja. Ketua satpam hanya menggeleng melihat kelakar Aldo. Reihan hanya melirik kesal ke arah Aldo.


"Lunas!" Aldo keluar dari ruangan. Sedangkan Reihan tidak bisa membayar denda. Uangnya lebih baik buat jajan. Reihan terpaksa membersihkan toilet Mall sendirian. Tapi tidak masalah, yang penting Reihan tau siapa nama gadis itu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2