Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Ada Sesuatu Yang Mengalir.


__ADS_3

"kamu ini, paling susah diajak olah raga," ucap Ayu.


Audy tersenyum nyengir, lalu menutup pintu kamarnya.


Ayu turun menemui suami dan anaknya.


"Audy mana, Ma?" tanya Reno.


"Gak mau dia, Pa? Katanya mau ada acara sama Reihan," jawab Ayu.


"Ya sudahlah, ayo berangkat."


Sedangkan Reihan baru saja sampai di depan rumah Audy. Reihan membunyikan klakson motor vespanya.


Nadia, membuka pintu pagar bersama Reno dan Ayu.


"Pagi, Om, Tante, Nadia, mau lari pagi ya?" sapa Reihan tersenyum manis.


"Iya, mau cari Audy ya," ucap Ayu.


"Iya, Tante. Audy nya ada?"


"Masih tidur, dari tadi Tante bangunin susah. Kamu masuk dulu gie," jawab Ayu.


Reihan menepuk keningnya. "Tu bocah emang ya."


Reno, Ayu dan Nadia menahan tawa.


"Ya sudah, kami tinggal dulu ya, Reihan."


'Iya, Om."


Reihan mengambil hp yang ada di saku celananya, lalu menempelkan di telinganya.


📱" Iya ada apa, Rei?"


📱"Lo lupa ya, kalau hari ini ada acara sosial?"


📱"Ya ingatlah!"


📱"Terus ngapain lo masih tidur, gue kan bilang kita berangkat jam tujuh pagi."


📱"Jam tujuh ... gue kirain jam sembilan."


📱"Jam tujuh Bambang ... cepet mandi gue tunggu di depan."


Reihan menutup hp nya dengan raut wajah kesal. Audy segera menemui Reihan berpakaian seadanya.


"Buset dah! Lo gak mandi? Rambut masih acak-acakan gitu," cibir Reihan.


"Entar aja mandinya disana." balas Audy.


Reihan menghidupkam mesin motornya. Audy duduk di belakang Reihan dengan memakai tas penggung besar berisi peralatan mandi dan pakaian.


"Gila lo ya. Gue pikir lo sudah siap. Untung ada tante Ayu yang ngasih tau gue, kalau gak, bisa karatan gue gara-gara nungguin lo," omel Reihan sambil menyetir motornya.


"Sorry ... namanya juga salah informasi," balas Audy.


"Kan kemarin gue kirim pesan ke lo. Berangkat jam tujuh pagi. Kirain lo sudah tau." Reihan terlihat masih kesal.


"Gak sempat gue baca. Kemarin gue sibuk nonton bola."

__ADS_1


"Cewek itu main boneka bukan nonton bola," cibir Reihan.


Audy ikut kesal menepuk kepala Reihan yang menggunakan helm.


"Aduh!" Reihan pun menambah kecepatan motornya.


Sesampainya di kantor perhutani, Audy pura-pura sakit perut.


"Audy kamu kenapa?" tanya petugas perhutani.


"Sakit perut, Pak. Saya izin ke toilet pak!" Audy pura-pura memegangi perutnya.


"Bisa aja, alasannya," gumam Reihan.


Audy hanya cukup cuci muka dan sikat gigi, lalu memakai seragam perhutani berwarna hijau tua.


Semua relawan perhutani sudah berbaris rapi membentuk dua shaf. Petugas memberikan perintah untuk berpencar mengumpulkan sampah yang berserakan serta menanam bibit pohon di tengah kota.


Audy dan Reihan mulai melakukan kegiatan sosialnya. Mereka kembali saat siang hari.


"Reihan, sudah siang nie. Kita istirahat dulu," ucap Audy.


Reihan mengangguk.


Audy membeli dua botol air mineral di kios terdekat, lalu memberikan satu botol ke Reihan.


"Mobil yang jemput kita kok belum datang ya, Rei?


"Sabar ... bentar lagi juga datang."


Audy duduk di kursi panjang disamping Reihan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Kemana?" tanya Audy.


"Sudah ikut saja ... gue jamin lo suka sama tempatnya." Reihan secara spontan memegang tangan Audy. Mata mereka beradu. Mereka seolah tidak mempedulikan suara bising kendaraan Ibu Kota yang melintas.


Audy merasakan ada desiran lembut menyentuh Sanubarinya. Suara klakson membuyarkan lamunan mereka berdua. Dengan segera Audy dan Reihan mengubah posisinya.


"Woy ...! Jangan pacaran di sini!" Sindir petugas perhutani.


Ternyata mobil jemputan sudah berada di depan mereka berdua. Di mobil wajah Audy masih bersemu merah. Reihan yang duduk di depan pun dari tadi terdiam tidak seperti biasanya.


...***...


Selesai makan siang, Audy dan Reihan hendak pulang. Di perjalanan mereka saling diam, tidak seperti biasanya yang selalu berdebat hal-hal yang tidak penting.


sampai di depan rumah Audy, mereka berdua masih terlihat canggung. Reihan melambaikan tangannya di balas dengan Audy. Entah kenapa perasaan Audy hari ini begitu gembira saat menatap Reihan.


Audy membuka pagar rumahnya, terlihat ada mobil hitam miliknya Aldo. Audy masuk rumah, melihat Aldo sedang bercanda dengan Nadia di kursi tamu.


Nadia terlihat tertarik dengan Aldo. Mereka saling melempar senyum, sesekali pegangan tangan.


"Siang ...." Audy langsung menyandarkan tubuhnya disamping sofa Nadia.


"Habis dari mana lo?" tanya Aldo.


"Ada kegiatan sosial bareng Reihan."


Aldo dan Nadia kembali bercanda, membuat permainan adu jempol yang kalah dijepit hidungnya. Nadia selalu kalah, terang saja, dia perempuan, tenaganya tidak sebesar Aldo. Namun, Nadia menikmati saat tangan Aldo menjepit hidungnya.


Audy melirik merasa iri dengan mereka berdua. Audy secara iseng menyalakan tv dengan volume tinggi. Nadia merasa terganggu dengan Audy.

__ADS_1


"Kak ... kecilin ngapa tv nya."


"Napa lo ngatur-ngatur gue?"


"Bukannya gitu ... gue terganggu sama lo. kecilin dikit ngapa?" Nadia mencoba merebut remot dari tangan Audy. Tapi, Audy juga tidak mau kalah dengan Nadia. Dia menghalangi remot itu dengan tubuhnya yang besar.


Nadia pun kalah tenaga dengan Audy. Nadia berdiri di depan Audy sambil memajukan bibir bawahnya.


"Awas aja, gue Aduin ke mama!" ancam Nadia.


"Dasar tukang ngadu."


Aldo yang melihat pertengkaran adik kakak itu tertawa lepas.


"Kenapa lo tertawa?" tanya Audy melotot ke Aldo.


"Kalian ini mesra lo sebenarnya," jawab Aldo.


"Mesra ... sorry ya gue mesra sama dia." tunjuk Audy ke Nadia.


Nadia melipat kedua tangan ke dada sambil memencongkan bibir atasnya.


Aldo kembali tertawa.


"Sudahlah .... Mending kita keluar aja. Dari pada ngadepin ikan buntal." Nadia memegang tangan Aldo mengajaknya keluar rumah.


"Yeee ... lo keganjenan," balas Audy.


"Kita pergi dulu ya," ucap Aldo.


Audy mendengkus kesal. Entah kenapa dia merasa iri dengan apa yang dilakukan Nadia. Harusnya sebagai kakak Audy senang punya adik secantik dan sepintar Nadia. Itu karena Audy tidak bisa seperti Nadia.


Di perjalanan Nadia masih cemberut.


Aldo tersenyum menatap Nadia. "Lo masih kesal sama Audy."


Nadia tidak menjawab, hanya menatap ke depan masih memanyunkan bibirnya.


Aldo malah tertawa, membelai rambut Nadia.


"Sudahlah jangan dipikirkan, Kakak lo itu hanya iri," ucap Aldo.


"Iri ...?"


Aldo mengangguk. "Cewek mana yang gak iri sama kamu Nadia. Cantik, pintar idola kampus."


"Tapi gak segitunya juga kali...?"


"Gue lihat sebenarnya Audy gak serius, mungkin itu cara mengungkapkan rasa sayangnya sebagai kakak," ucap Aldo.


"Sudahlah jangan ngomongin dia lagi, bikin tambah bt." Audy mengibaskan tangannya ke udara menyuruh Aldo mengubah topik pembicaraan.


"Terus kita mau kemana nie?" tanya Aldo.


"Terserahlah, aku ikut aja."


"Kita ke cafeshop temenku gimana?" tawar Aldo.


"Boleh, asal tempatnya enak aja buat nongkrong," ucap Nadia.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2