Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Tidak Bisa menahan.


__ADS_3

"lo gak marah 'kan, Dy."


Audy terdiam


"Audy." Reihan memanggilnya sekali lagi.


Audy segera menyeka pipinya.


"Apa sih, Rei?"


"Lo marah ya, gue terus terang sama lo?"


"Marah kenapa, itu 'kan hak lo, Rei. Lagian 'kan itu Sudah lama."


Motor Reihan berhenti di depan rumah Audy. "Syukurlah kalau lo gak marah."


Audy membuka pintu pagar. Reihan memasukan motornya.


"Ayo Rei masuk," ajak Audy.


Reihan masuk dengan membawa buah apel yang ada di tangan.


"Nadia ... ada Reihan nie!" panggil Audy.


Nadia keluar dari kamarnya. "Ada apa?"


"Gue bawain buah apel supaya badan lo agak baikan," ucap Reihan.


"Oh ... taruh saja di meja. Lagian gue sudah agak enakan kok." Nadia kembali menutup pintu kamarnya.


Reihan menatap Audy. "Kenapa ya, Nadia?"


Audy mengangkat bahunya. "Lagi pms kali."


Reihan pun menaruh buah apel yang dia bawa ke meja. Dengan raut wajah kecewa dia pamit kepada Audy. Audy menatap kasian Reihan. Harusnya 'kan Audy senang karena Nadia hari ini bersikap dingin sama Reihan.


Audy menatap Sepeda motor Reihan Yang sudah tidak terlihat saat belok ke kiri. Nadia kembali keluar kamar mengambil satu buah apel.


"Lo kenapa sih sama Reihan?" tanya Audy.


"Gak kenapa-kenapa, Nadia gak mau ngasih harapan ke Reihan saja," jawab Nadia dengan santainya.


Audy terdiam, dia teringat cerita Reihan, mungkin ini balasan dari Tuhan kepada Reihan.


"Kak Audy." Nadia membuyarkan lamunan Audy.


"Eh ...."


Nadia terkekeh. "Kak Audy kenapa? Kok malah ngelamun?"


"Gak ... gak pa-pa. Kak Audy teringat sesuatu saja. Kakak ke kamar dulu ya, Nad?" Audy beranjak naik ke atas menuju kamarnya.


Nadia mengangkat bahu, lalu kembali ke kamar mengusap perutnya yang entah berapa lama bisa di sembunyikan dari mama dan Kakak nya. Terlebih lagi kalau papa nya sampai tau kalau Nadia hamil.


Malam hari, Nadia hendak membeli skin care. Audy yang mendengarnya langsung kepo ingin ikut dengan alasan dia juga ingin membeli skin care.

__ADS_1


"Pake mobil Mama saja, biar cepet."


"Oke, Ma." Dengan senang hati Audy mengambil kunci mobil dari tangan Ayu.


"Kita mau kemana, Nad?" tanya Audy.


"Ke Mall paling dekat saja, Kak."


Mereka berdua menuju Mall yang ada di dekat rumahnya. Audy memarkirkan mobilnya di basement. Audy dan Nadia menuju kios skin care langganan Nadia. Audy membeli skin care yang sama dengan Nadia.


"Pulang, Kak." ajak Nadia.


Audy mengangguk setuju. Saat hendak pulang, Nadia dan Audy tanpa sengaja bertemu dengan Amanda. Nadia menyapa Amanda dengan akrab.


"Lo di sini juga."


Amanda mengangguk. Audy yang melihat Amanda terlihat geram, tapi dia mencoba menahan.


"Kenalin Kakak gue," ucap Nadia.


Audy mencengkram tangan Amanda hingga memekik. Apalagi Amanda mengaku sepupunya Aldo. Dia belum tau saja kalau Audy sudah beberapa kali memergokinya bermesraan dengan Aldo. Kalau saja tidak ada Nadia, sudah habis dilabrak Audy.


"Lo di sini sama siapa?" tanya Nadia.


"Sendirian."


"Lo gak punya cowok ya?" celetuk Audy.


Amanda tanpa curiga menggeleng.


"Yakin lo gak punya cowok," ucap Audy.


"Bohong." gumam Audy yang masih terdengar Amanda.


"Maksud Kakak apa?" tanya Amanda.


"Gak pa-pa, Ayo pulang, Nad." Audy berlalu dari hadapan Amanda disusul sama Nadia.


"Siapa sih orang itu." Amanda kesal mengeraskan rahang melihat kelakuan Audy.


Di perjalanan, Nadia protes dengan sikap Audy yang terlihat tidak bersahabat dengan Amanda


"Lo tau gak, dia itu pacarnya si Aldo. Bukan sepupunya. Lo telah ditipu sama Aldo, Nad."


Nadia terdiam, Nadia sebenarnya percaya dengan Audy. Namun, dia telah mengandung anak dari Aldo. Nadia bisa apa.


"Lo kenapa diam saja, Nad."


"Terus Nadia harus gimana, Kak?"


"Marah kek, putusin si Aldo," desak Audy.


"Kakak gak ada bukti, Nadia gak mungkin putusin Aldo."


"Kenapa, pria bajingan kayak Aldo pantas lo tinggalin."

__ADS_1


"Ka-karena Nadia cinta sama Aldo. Nadia juga percaya sama Aldo."


Audy sebal menepuk dahinya. "Ya ampun, Nad. Lo kena hipnotis kali ya. Gue itu gak mau lo kenapa-kenapa, Nad."


Nadia tersenyum, menyembunyikan kesedihannya. Kalau apa yang di katakan kakaknya benar. Berarti sedari awal Aldo dan Amanda sudah bersekongkol.


"Ya Tuhan, haruskah hamba menikahi orang seperti Aldo," batin Nadia menangis.


Sedangkan Audy bertekad untuk membuktikan kalau Aldo bukanlah pria yang baik. Audy sebenarnya ingin minta bantuan dari Reihan, tapi Audy takut kalau perasaannya akan tumbuh lebih besar lagi. Mereka berdua menatap kaca luar mobil, terbawa oleh pikirannya masing-masing.


Esok harinya, Reihan sudah ada di depan rumah. Reihan menunggu Nadia keluar. Dia sengaja datang lebih pagi.


Tak berselang lama, Nadia dan Audy datang bersamaan. Mereka berdua terlihat cantik. Reihan jadi bingung harus mengajak siapa. Kedua kakak adik tersebut tersenyum kepada Reihan.


"Nad, bareng yuk," ajak Reihan.


"Gak ah aku ada yang jemput," jawab Nadia.


Audy kecewa memalingkan wajahnya. Reihan dengan tidak enak hati menawarkan Audy berangkat bareng, Tapi Audy menolaknya atas nama gengsi.


Tak berselang lama Aldo datang menjemput Nadia. Wajah Reihan memerah. Reihan terbakar cemburu karena Nadia lebih memilih Aldo dari pada dia. Apalagi Aldo mengejeknya dengan tersenyum sinis kepadanya.


Reihan dengan kemarahan berangkat dengan decitan ban yang mengernyitkan hati Audy. Audy menatap kosong punggung Reihan yang semakin jauh dari pandangannya.


Tukang ojeg pesanan Audy datang.


Audy segera duduk di belakang. "Bang, agak kencang ya."


"Siap, Mbak." Tukang ojeg itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga motor Reihan terlihat dari penglihatan Audy.


"Bang, ikuti motor vespa putih itu dari belakang," perintah Audy.


"Siap, Mbak." ucap tukang ojek itu.


Audy takut Kalau Reihan bertengkar dengan Aldo. Sesampainya di kampus ketakutan Audy tidak terjadi. Reihan seperti biasa memarkirkan motornya, lalu duduk di taman siswa.


Audy mencoba mendekatinya. "Hey!"


Reihan tersenyum simpul, lalu kembali menunduk. Terlihat wajah Reihan masih memendam amarah.


"Hari ini gue harus ngapain?" Audy duduk basa-basi kepada Reihan.


Reihan terdiam sejenak. "Gak ada yang harus dikerjakan. Tinggal persiapan saja, nanti siang kita kumpulin anak-anak."


Audy tersenyum memegang bahu Reihan. Disamping taman, Reihan melihat Nadia dan Aldo sedang berjalan beriringan sambil melingkarkan tangan.


"Adik lo itu kenapa sih!" omel Reihan.


Audy merasa heran, Reihan marah kepada Audy. "Kenapa?"


Reihan dengan Rahang yang mengeras beranjak dari tempatnya.


"Reihan lo mau kemana?" Audy menyusul Reihan.


Reihan menghampiri Nadia dan Aldo.

__ADS_1


"Lo kenapa sih, Nad. Kemarin lo 'kan sudah putus sama dia." Reihan tidak bisa mengendalikan emosi. Audy yang melihat dari kejauhan merasa iri dengan Nadia karena Reihan sampai mengesampingkan harga dirinya untuk Nadia.


Bersambung ...


__ADS_2