
Rani mengangguk mendongak menatap tebing yang gelap, hanya terlihat sedikit cahaya dari lampu center.
"Itu ada cahaya, Kak?" tanya Rani.
"Itu teman Kakak dan teman kamu sedang mencari bantuan," jawab Audy.
Tak berselang lama Reihan dan teman yang lainnya datang membantu.
"Dimana mereka terjatuh?" tanya ketua tim.
"Di bawah sana," jawab Reihan.
"Audy,...! Kalian bisa mendengar suaraku!" Teriak ketua tim.
"Bisa, Pak! Saya terjebak di bawah tidak bisa naik ke atas bersama Rani," jawab Audy.
"Rani anak yang hilang di hutan itu!?" tanya ketua tim.
"Iya, Pak!"
Semua orang yang mencari Rani pun bersyukur akhirnya bisa menemukannya.
"Oke ... kalian tetap disana, kami akan menolong kalian!"
"Siap, Pak!"
Tim relawan perhutani dan pramuka mengikat tali di pohon besar, lalu melemparnya ke bawah.
"Itu ada tali, ikatkan ke tubuh kalian, pegang tali itu kami akan menariknya dari atas!"
"Baik, Pak! Kamu duluan, Rani." Audy mengikatkan tali itu di pinggang Rani.
"Kamu sudah siap," ucap Audy.
Rani mengangguk.
Audy menarik pelan tali itu ke atas sebagai tanda Rani siap untuk di tarik. Dengan berpegangan tali, Rani naik ke atas sedikit demi sedikit.
Sepuluh menit berusaha Rani sudah mulai terlihat. Semua teman dan tim relawan menyemangati Rani, dengan tenaga tersisa Rani akhirnya sampai ke atas duduk lemas dengan mata sayu.
Rani di papah bersandar di bawah pohon, seorang teman memberinya minum supaya Rani bisa sedikit lega.
Sekarang giliran Audy, tali sudah di lempar ke bawah. Audy sendiri tidak yakin dia bisa naik ke atas. Apalagi satu kakinya terkilir, tapi dia tetap berusaha.
"Tunggu!" Teriak Rani dengan suara serak.
"Ada apa?"
"Kak Audy kakinya terkilir dia tidak mungkin bisa naik ke atas," jawab Rani.
Ketua tim melihat ke bawah, terlihat gelap. "Audy kamu bisa dengar saya!"
"Siap, Pak!"
"Kamu yakin bisa naik ke atas!?"
__ADS_1
dengan menghela napas panjang Audy menyakinkan diri bisa naik ke atas.
"Oke ... kami akan membantumu dari atas, kalau tidak kuat bilang saja. Kamu mengerti!"
"Siap, Pak!"
Audy mulai mengikat tali di perut gendutnya, dengan tertatih dia berusaha naik. Audy tampak kesulitan, tubuhnya tidak seperti Rani yang kurus dan Ringan. Berat Audy 85 kg, mungkin bisa lebih. Namun, Audy terus berusaha.
Di tengah perjalanan dia sudah terengah-engah meminta bantuan di atas untuk menariknya. Sekuat tenaga pria yang ada di atas menarik tubuh berat Audy.
Perut Audy terasa sakit saat tali yang mengikat menekan perutnya.
"Ach ...!" pekik Audy.
"Tahan Audy, kamu harus bertahan!" Itu suara Reihan menyemangati Audy.
Audy sekuat tenaga menahan sakit saat tali karet itu menggantung-gantungkan tubuhnya menyusur di tanah.
lima belas menit yang penuh perjuangan, tubuh Audy mulai terlihat. Para relawan perhutani dan tim pramuka menyemangati Audy yang terlihat kehabisan tenaga, matanya sayu. Tim relawan dan pramuka berusaha menarik tali dengan tenaga tersisa hingga Audy bisa naik ke atas terkapar lemas. Reihan dengan cepat melepas ikatan tali yang melingkar di perutnya.
"Lo hebat, Bray!" Seru Reihan saat melihat Audy dengan wajah lelah.
"Akhirnya nyampe juga." Audy tersenyum, menatap Reihan samar, lalu pingsan.
Reihan panik menepuk-nepuk pipi Audy. "Lo jangan mati dulu, Dy."
"Heh ... dia hanya pingsan, berikan ruang udara," ucap ketua tim.
Audy di bopong dua orang, lalu di sandarkan di bawah pohon. Reihan mencoba mengoleskan minyak angin di lubang hidungnya sampai akhirnya Audy tersadar karena aroma minyak angin itu.
"Lo sudah sadar, Dy?"
"Reihan, baru juga tidur sebentar udah lo bangunin," omel Audy.
"Tidur jangan di sini, nanti dimakan sama hantu," canda Reihan.
"Memang gue anak kecil lo takutin kayak gitu," cibir Audy.
"Reihan, kamu bantu itu Audy," titah ketua tim.
"Siap, Ketua."
Rombongan berjalan menuju tenda. Reihan memapah Audy berada di belakangnya.
"Reihan, pelan-pelan. Kaki gue terkilir nie," ucap Audy.
"Ini juga sudah pelan-pelan, Dy. Medannya saja yang terjal, harus hati-hati," ucap Reihan.
"Lo tu gak bisa ya, memperlakukan seorang perempuan dengan lemah lembut," omel Audy.
"Ya bisa kalau lo mau," balas Reihan.
"Ya gue mau, gendong kek. Biar gue gak capek."
"Badan gue 'kan kecil, Dy. Kalau gue gendong lo nanti yang ada gue yang pingsan."
__ADS_1
Audy menggerutu tidak jelas. Tak berselang lama tim Relawan dan pramuka sudah berada di tenda. Audy mendapat pertolongan pertama pada kakinya.
Pagi hari Audy dkk sudah mengepakan barang-barangnya. Truk untuk mengangkut mereka pun sudah datang. Tim Relawan perhutani berpisah dengan para tunas muda.
Relawan perhutani hanya bisa berpesan untuk senantiasa menjaga hutan. mobil pun berjalan menuju kantor perhutani selama kurang lebih satu jam.
Kaki kiri Audy sudah di perban. Pulang dengan Reihan menggunakan motor vespa.
"Thank you ya, Rei!"
"Beres, jang lupa barang lo di bawa," ucap Reihan.
"Iya." Audy masuk rumah Wajahnya terlihat lelah, rambutnya acak-acakan dengan bando melingkar di kepalanya.
"Pagi menjelang siang!" Sapa Audy kepada penghuni rumah.
Ayu keluar dari kamarnya. "Anak Mama yang paling cantik sudah pulang."
Audy tersenyum nyengir. "Mama gak usah gombal deh."
"Kaki kamu kenapa, Audy? Kok di perban segala."
"Keseleo, Ma. Jatuh dari bukit."
Ayu menggeleng khawatir. "Makanya jangan naik gunung lagi. Lihat wajah kamu jerawatnya tambah banyak."
Audy berjalan menuju ruang tamu sejenak merebahkan diri. "Audy 'kan naik gunung untuk kepentingan sosial, Ma. Harusnya Mama dukung, punya anak hebat kayak Audy."
Ayu duduk di kursi samping Audy. "Dukung sih dukung, tapi kalau sampai di perban kayak gini Mama 'kan jadi khawatir."
"Nadia Mana, Ma. Kok gak kelihatan." Audy mengalihkan pembicaraan.
"Nadia lagi jalan sama pacar barunya," jawab Ayu.
"Jalan mulu, kemarin malam di Aldo jemput Nadia ke tempat Audy. Sekarang jalan lagi, gak bosan apa."
"Sudah biarin, namanya juga anak muda. Yang penting masih dalam lingkaran," ucap Ayu.
"Mama yakin si Aldo itu bisa jagain Nadia?" tanya Audy.
Ayu hanya mengangkat bahunya.
"Audy mau ke kamar dulu, Ma. Capek mau tidur." Audy beranjak dari ruang tamu menaiki tangga menuju kamarnya.
Di kamar, Audy langsung membuka laptopnya, tengkurap menonton film drakor kesukaannya.
Tok ... tok ... tok ... pintu terbuka. Ayu membawa tas gunung Audy.
"Lho katanya mau tidur, kok malah buka laptop?"
"Nanti aja, lagi tanggung nie, Ma."
Ayu berdecak. "Mandi dulu, Nak. Badan mu bau tu. Nanti kamu sakit kalau tidak mandi."
"Iya, Ma? Nanti Audy mandi."
__ADS_1
Bersambung ...