Aku Dan Adik Cantikku

Aku Dan Adik Cantikku
Kecewa.


__ADS_3

Nadia sedang menunggu kepulangan Aldo, sedari tadi handphone nya tidak aktif. Ryan juga selalu mematikan panggilannya. Mungkin sibuk, atau apalah yang jelas saat ini Nadia tengah khawatir dengan Aldo. Muncul di benak Nadia kalau Aldo hanya pura-ura baik dengannya. Tapi, pikiran buruk itu segera ditepisnya.


Dari depan pintu pagar, mobil ayla berwarna hitam membunyikan klakson. Nadia segera berlari membuka pintu pagar. Wajahnya tampak cerah saat Aldo pulang, ke khawatirannya memudar.


Namun, ada yang aneh dengan Aldo. Dia terlihat berjalan gontai dengan wajah sayu.


"Kamu mabuk ya!?" Nadia mencengkram kedua lengan Aldo. Bau napas alkohol membuat Nadia meruncingkan mulutnya.


Aldo tersenyum, tubuhnya terlihat goyah. Nadia memapahnya masuk ke kamar. Jangan sampai mamanya tau tentang kejadian ini. Nadia merebahkan Aldo di kasur, melepas sepatu dan jaket kulitnya. Aldo benar-benar mabuk berat. Pasti dia habis ke diskotik.


Kecurigaan Nadia semakin menguat, Aldo hanya pura-pura baik dengannya. Namun, Nadia sudah tidak bisa mengaturnya lagi. Nadia sudah menandatangani surat pelepasan Aldo. Nadia hanya bisa menangis duduk di depan cermin.


Terdengar Aldo sedang meracau. "Gue sudah bebas dari lo, gue sudah bisa ngelakuin apa saja sekarang."


Nadia menatap Aldo dengan hati yang terkoyak. Aldo terus meracau, tubuhnya bergetar, dia muntah di lantai.


Nadia terkejut. "Aldo! Lo kebangetan ya."


Nadia dengan segera membersihkan muntahan Aldo.


Pagi harinya, Aldo mulai terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing, dia menatap samar Nadia yang yang tampak sudah rapi.


"Sayang, jam berapa ini?" tanya Aldo.


Nadia menatap tajam Aldo. "Puas lo! Setelah lo terbebas dari persyaratan dari gue. Lo seenaknya saja mengingkari kepercayaan dari gue."


"Sayang, aku bisa jelaskan sama kamu. Kemarin aku ketemu teman lama. Dia ngajakin aku ke diskotik, aku gak bisa nolak." Aldo memegang tangan Nadia.


Nadia melepaskan cakalan tangan Aldo. Nadia masih kecewa dengan Aldo.


"Maafin aku. Aku gak akan ngulangin perbuatan bodoh itu lagi," mohon Aldo.


"Lo sudah berapa kali minta maaf, tapi lo ngelakuin lagi. Gue sudah muak dengan kata maaf dari lo." Nadia keluar dari kamar sambil terisak.


Aldo tersenyum sinis menatap pintu kamar. Tadi malam Aldo habis bersenang-senang dengan Amanda. Aldo tidak ingin Nadia tau, dia masih ingin berperan menjadi orang yang baik di mata Nadia.


Aldo baru menyadari kalau Nadia benar-benar cinta dengannya. Ini lebih mempermudah Aldo untuk memainkan hati Nadia. Aldo segera bergegas membersihkan diri untuk berangkat ke kampus. Bagaimanapun juga aldo harus lulus tahun ini, kalau tidak papanya bisa mengusirnya dari rumah.


Aldo memang dididik secara keras, papanya tidak mau Aldo menjadi anak manja. Namun, didikan keras papa nya malah membuat Aldo menjadi pria yang suka mempermainkan wanita. Itu karena wajahnya yang ganteng dan kaya membuat wanita yang didekati Aldo bertekuk lutut dengannya.


Di kampus, Levi tengah mengumumkan siapa saja yang akan ikut dalam KKN minggu depan. Reihan dan perempuan bernama Vita sudah setuju satu kelompok dengan Levi.

__ADS_1


"Satunya lagi mana?" tanya Reihan.


"Tenang saja, lo pasti bakalan seneng dengan orangnya."


"Siapa? Bikin penasaran saja," ucap Reihan.


Levi menepuk tangannya. Dari balik dinding muncul gadis cantik berambut bergelombang tergerai indah. Audy datang dengan berjalan Anggun.


"Hay ... maaf ya gue telat."


"Lev, kenapa ngajak dia sih," protes Reihan.


"Audy 'kan cukup pintar, dia pasti bisa banyak membantu. Terutama dalam urusan dana." Levi menaik-turunkan alisnya menatap Audy.


Reihan mengibaskan tangannya, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Reihan mau kemana lo!" panggil Levi.


"Gimana nie, lev? Kalau Reihan keluar berarti kurang satu dong anggota kita," ucap Vita gadis berambut sebahu.


"Sudah nanti biar gue yang bujuk si jambang itu," ucap Audy.


"Yakin lo bisa?" Levi meragukan Audy.


"Oke deh, gue percaya sama lo." Audy dan Levi melakukan tos tangan.


"Kita mau KKN dimana?" tanya Vita.


"Di Lamongan."


"Jauh amat, Lev." Audy kini yang protes.


"Disana banyak tambak, kita mau meneliti budi daya tambak disana," ucap Levi.


"Oke deh, terserah lo saja."


"Lo buruan bujuk si Reihan, biar dia gabung sama kita," ucap Vita.


"Gue gak bisa," jawab Audy.


"Lha ... katanya tadi lo bisa," sahut Levi.

__ADS_1


"Dulu mungkin gue bisa, cuma sekarang 'kan Reihan anti banget kalau lihat gue."


"Kanapa lo sok-sok an bisa bujuk Reihan. Mana kita berangkat hari sabtu lagi." Levi tampak bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kita cari satu orang lagi gie," usul Vita.


"Siapa? Waktunya sudah mepet nie," jawab Levi.


"Sudah-sudah gak usah ribut. Kita sama-sama bujuk Reihan lagi," ucap Audy.


"Ya sudah ayo kita cari Reihan," ucap Vita.


Mereka bertiga mencari Reihan. Reihan terlihat ada di kantin sedang mengaduk es teh yang sedari tadi belum diminumnya. Dia merasa bingung jika berhadapan dengan Audy. Di satu sisi dia mencintai Audy, di sisi lain Reihan juga masih sakit hati saat Audy mencampakannya.


Audy, Vita dan Levi menemukan Reihan di kantin, mereka bertiga berusaha membujuk Reihan.


"Rei, lo kenapa sih, gabung sama kita," bujuk Vita.


"Gue gak mau gabung sama kelompok kalian. Kalian cari orang lain saja," jawab Reihan.


"Siapa? Semuanya sudah dapat kelompoknya masing-masing. Lo juga gak bisa cari kelompok lain. Mau gak mau lo juga harus gabung dengan kita," ucap Vita.


"Iya, Rei. Gue minta maaf deh kalau gue banyak salah sama lo. Lupain dulu deh masalah lo sama gue, demi masa depan kita bersama," ucap Audy.


Reihan mendongak menatap tajam Audy yang sedang berdiri.


"Sudahlah, Rei ... yang lalu biarlah berlalu. Gak baik musuhan terus. Mending kita kerjasama demi kelulusan kita," ucap Levi.


Reihan masih terdiam, tanpa sepatah kata dia pergi meningalkan mereka bertiga.


"Lo mau kemana, Rei?" tanya Levi.


"Dasar cowok lemah! Lo gak pantes sama gue! Terus saja lo mikirin perasaan lo!" umpat Audy dengan sangat kesal.


Reihan menghentikan langkahnya, dia memejamkan mata, lalu kembali berjalan entah kemana.


"Gimana nie?" tanya Vita.


"Ya sudahlah, mau gak mau kita harus berangkat tanpa Reihan. Sambil berdoa Reihan dapat hidayah," jawab Levi.


Audy yang masih terbawa emosi ikut pergi meninggalkan Vita dan Levi.

__ADS_1


"Tu kan pergi lagi. Dari dulu sampai sekarang yang namanya jatuh cinta memang bikin pusing. Gue juga ikut pusing karena ulah mereka," ucap Levi.


Bersambung ...


__ADS_2